Friday, October 29, 2010

BAHASA IBU

Setiap Ibu memiliki kamus untuk masing masing anak dengan bahasa dan arti berbeda. Saat Aldo kecil ”Iyong” berarti ”telur. Beda dengan Reza, yang menyebut pensil dengan ”Tuil”. Siapa pun di dunia ini tak akan ada yang bisa menterjemahkan ‘bahasa planet’ itu selain Ibu mereka. Tidak juga sang Ayah. Belum lagi kata kata rumit lainnya. Yang tanpa alat bantu apapun langsung bisa di terjemahkan oleh Ibu. Kamus seorang Ibu memiliki software terindah sekaligus tercanggih bernama “Hati” dan “Imajinasi” dan hanya bisa terunduh pada seorang Ibu dengan keikhlasan dan kebesaran Jiwa dalam penerimaan seutuhnya pada kehadiran buah hati tercinta. 

Sejak seorang bayi terlahir, seorang Ibu berusaha keras untuk membuat mereka berbicara. Bayi pun akan terkoneksi langsung mempelajari apapun kalimat yang terluncur dari bibir Sang Ibu. Tak heran ada istilah “Bahasa Ibu”. Ketika bayi bertumbuh menjadi seorang anak penuh keingin tahuan yang sangat tinggi. Banyak pertanyaan – pertanyaan mengalir bak air bah yang tumpah ruah. Dari kesan senang, gemas, lucu hingga menyebalkan pernah dirasakan Ibu. Dan Ibu yang baik tak akan membiarkan kelelahan mengalahkan pertanyaan anak anak dan mengalihkannya untuk mencari jawaban diluar bahasa Ibu. Karena jika hal ini terus dibiarkan akan mengurangi kepekaan seorang Ibu, ketika mereka beranjak remaja akan banyak kata kata yang tidak bisa diterjemahkan oleh Ibu sekalipun.

Seorang Ibu, memang selamanya akan dituntut menjadi ahli bahasa bagi anak anak yang terus bertumbuh. Bahkan kata kata yang tak terucap oleh anak ketika beranjak remaja, akan dengan mudah di ketahui Ibu jika kepekaan itu telah ada dikamus bahasa Ibu sejak mereka mulai mengeja kata. Jika seorang remaja, kemudian mengajukan banyak pertanyaan dengan bahasa yang didapat dari pergaulan diluar. Jangan pernah kehabisan kalimat untuk menjawab.  Tak perlu terlalu mendekati kebenaran 100%, pada dasarnya pertanyaan seorang anak hanya perlu didengar lalu dijawab. Hingga ruang renggang bagi satu komunikasi akan senantiasa terisi, meski itu hanya karangan atau bahkan bualan seorang Ibu.



”Cintailah anak-anak dan kasih sayangi lah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki”. (HR. Ath-Thahawi).





- Ria Jumriati -

0 comments: