Sunday, March 17, 2013

Aku Bertajuk Susi


Aku Bertajuk Susi

Oleh : Ria Jumriati


Aku adalah wanita yang terlahir dari deru nafsu, buasnya birahi dan gulitanya malam dalam balutan pekat angkara murka serta aroma neraka. Aku bertajuk Susi. Sebuah merk yang lekat dengan label prostitusi dan seolah dipersiapkan untuk menjelang masa depan penuh caci maki. Aku bertumbuh dalam rangka takdir pekat yang telah membayangi tapak kecilku hingga langkah gemulaiku nan mengundang birahi liar para setan jalanan. Lenteraku adalah lembar-lembar Rupiah, udaraku adalah tidur nyenyakku, senyumku adalah mimpi tak tergapaiku. Aku adalah ilalang dalam injakan ganas binatang jalang. Saat semua mengusung tinggi harga diri, aku hanyalah seonggok sampah bertabur  lalat-lalat berbau taik  Raga dan nafasku berpacu jauh diluar peradaban manusia. Binatang-binatang yang melingkari garis nasibku adalah mereka yang dengan terpaksa membiarkan tubuh ini berbentuk hingga menguatkan jantungku yang mestinya dikoyak saja, hingga tak harus kukecap getirnya dunia liar yang mereka cipta untukku.

Aku tak tahu berapa umurku kini. Tak tahu apa agama yang kuanut dan tak pernah mengerti akan cerita mengenai kehangatan sebuah keluarga atau kisah Cinderella yang bertemu pangeran impiannya. Yang terpapar dihadapanku hanyalah pergumulan hidup yang begitu keras. Terhias pernik-pernik dosa dalam warna-warna nista yang terlalu menjijikkan, namun memaksa jiwa dan raga ini  untuk terbiasa menghadapinya dari detik ke detik hingga hitungan tahun tak terbilang. Aku adalah dosa, virus dan segala macam hal menjijikkan bertebaran dari ujung kaki hingga rambutku. Namun mereka membutuhkanku. Hukum alamkah ? Simbiosis Mutualisme selalu berlaku dimanapun.

Konon aku terlahir di sebuah rumah kardus dipinggiran tempat pembuangan sampah orang-orang kota. Aku bermain dan menikmati masa kecil bersama lalat-lalat,  cacing-cacing tanah dan ribuan kuman dari hari kehari. Demam berdarah, diare, thypus dan berbagai penyakit maut, pernah pula menyapa rongga-rongga rapuh di tubuhku. Dan aku tetap hidup. Ketika vagina ini mulai mengeluarkan darah rutinnya, dengan sepasang payudara yang kian membesar. Aku telah digauli secara biadab oleh laki-laki yang setiap malam menindihi tubuh wanita yang kukenal sebagai Ibuku di rumah kardus ini, tepat di samping pembaringanku. Lalu begitulah hari-hariku selanjutnya, bergulir dan bergilir dari penis satu ke penis lainnya. Dan ada Rupiah dari setiap penis yang sukses mengoyak dalamnya lubang vaginaku. Ha..ha…ha…ternyata nikmat juga ! aku harus tertawa, harus merasa bahagia dengan ‘berkah’ yang konon adalah rejeki dari Tuhan. 

Ah ! persetan dengan Tuhan ! aku tak percaya dia ada untuk orang-orang seperti ku. Aku tak percaya Dia Maha Pemurah. Kalau rejeki ini datang darinya, mengapa pula aku harus bergumul dengan aroma nafas dan nafsu para budak-budak seks dengan berbagai pola dan tingkah aneh yang terkadang menyiksa. Berkahkah ? jika aku harus mengulum bau busuk  mulut-mulut mereka atau menyedot air mani  mereka hingga masuk kedalam  lambungku ? Tuhan, ampuni aku jika keyakinanku akan kemurahanMu makin terkoreksi hingga pada titik dibawah nol.

Suatu pagi, seorang gadis seusiaku memberanikan diri menyapaku, dan dengan penuh rasa percaya diri ia duduk di balai-balai tempatku beristirahat. Ia tersenyum manis. Penampilannya begitu terpelajar dengan potongan rambut pendek, ia terlihat begitu segar. Aku membalas dengan senyum sinis.
“Mau apa ? tanyaku judes. Ia mengulurkan tangan halusnya. “Kenalkan, saya Anissa. Saya mahasiswa jurusan psikology, dan saya mohon bantuan Mbak untuk sedikit memberi masukan mengenai pernak-pernik dunia pelacuran, sebagai bahan dalam skirpsi saya” Ujarnya panjang. Aku tetap sinis. Lalu tertawa panjang sambil mengisap sebatang rokok ditanganku. “Skripsi ? Apa itu ? Kenapa datang ke sini ? Asal tahu saja yach, tak ada yang menarik di dunia pelacuran !”. Dia tetap tersenyum, sambil mulai mengeluarkan tape recorder berukuran kecil dan bersiap merekam suaraku.
“Menurut sebagian orang memang tak menarik, tapi justru disitu tantangannya buat saya” timpalnya sambil menggeser posisi duduknya mendekatiku.
“Baiklah….sekarang apa yang kamu mau tanyakan ?”

Ia pun mulai mewawancaraiku dengan gaya yang santai. Entah mengapa sikapnya yang ramah dan sorot matanya yang bersahabat seolah menghipnotisku untuk bercerita sepenuhnya. Ada beban yang terasa terbagi saat kisah hidupku terurai begitu saja. Kadang aku tertawa kemudian menangis, dan Anissa ikut terlarut didalamnya. Matanya terlihat dipenuhi buliran-buliran bening dengan desahan nafas tertahan. Hingga tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Gadis itu pamit sambil memberiku selembar amplop putih.

“Bukan maksud membayar Mbak Susi, tapi ini untuk mengganti waktu Mbak yang telah saya pakai tadi” Ujarnya ramah. Aku tercengang menerimanya.
“Terima kasih….tapi”
“Kalau tak keberatan, kapan-kapan aku boleh khan datang lagi ?”
“Oh..boleh..boleh” Sahutku sedikit bingung. Lalu Anissa pun berlalu dengan senyum masih melekat diwajah mungilnya.

Sepeninggal gadis itu, aku termenung sendiri. Masih terngiang ucapannya mengenai nasib orang-orang sepertiku, yang katanya mestinya, menjadi tanggung jawab pemerintah yang seharusnya membuat suatu lembaga penampungan dan rehabilitasi dengan memberikan ketrampilan khusus, hingga ada mata pencaharian tetap dan tak lagi mendekati dunia pelacuran seperti yang kugeluti selama ini. Karena menurutnya lagi, dari tempat-tempat seperti ini lah akan banyak timbul banyak penyakit kelamin dan juga penyakit kejiwaan yang berdampak sangat buruk bagi masa depan seseorang dan juga bangsa ini tentunya. Pemerintah ? Jangan harap dech ? selama aku hidup seperti ini, belum pernah ada satu pun orang yang mengaku datang dari lembaga pemerintahan, lalu mengajakku keluar dari dunia gelap ini atau memberiku uang untuk memulai hidup yang lebih baik. Mereka hanya datang memberikan penyuluhan mengenai bahaya HIV AIDS dan pentingnya pemakaian kondom, tapi tidak ada yang memberi uang. Memang ada yang datang dan memberiku uang tapi dengan imbalan seks dan birahi sesat.

Pagi ini aku terbangun dengan sesuatu yang terasa berbeda. Ada gerakan lain didalam perutku. Hah ? wajahku mendadak sepucat mayat. Aku tak mungkin hamil. Aku terlalu rajin menelan pil-pil itu. Tapi memang sudah sebulan ini darah rutin itu mendadak berhenti. Aku terduduk lemas. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Batinku menyiratkan, memang telah ada nyawa didalam rahimku. Tidak…jangan ! aku tak mau ada seorang manusiapun lahir ditempat seperti ini. Tidak lagi ! tak akan kubiarkan ia hidup dan berkembang sepertiku. Perasaanku semakin kacau. Tak tahu siapa yang harus kuhubungi. Namun tiba-tiba aku teringat Anissa. Yach ! bagaimana bila aku meminta bantuannya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menuju telpon umum terdekat.

“Kenapa Mbak ? Suara Mbak begitu gugup ditelpon tadi, ada masalah apa ? tanyanya, masih dibalai-balai tempatku beristirahat. Aku hanya terdiam lalu menangis tersedu. Anissa terlihat bingung seraya menepuk-nepuk punggungku.
“Aku hamil…dan aku tak pernah menginginkan ini ! ” Sahutku parau. Gadis itu tak terkejut. Ia mengibaskan anak rambut yang menutupi sebagian wajahku. Sentuhannya begitu lembut hingga mampu memberi sedikit ketenangan dibatinku.
 “Kalau Mbak Susi meminta saranku, aku lebih menganjurkan untuk meneruskan saja kehamilan Mbak” Ujarnya tenang.
“Enak saja ! mana mampu aku membiayainya, dan setelah besar pun anak ini pasti akan jadi pelacur seperti aku atau menjadi preman jalanan !”
“Percayalah Mbak, pasti ada jalan keluar dari semua ini, dan tak harus digugurkan”
“Tidak Anissa, kamu tak pernah merasakan kepedihan menjadi seorang pelacur. Hidup ditempat seperti ini dan bergaul dengan setan-setan malam ! Pokoknya, aku harus menggugurkan kandunganku ini !”
Anissa berusaha menenangkanku yang semakin panik dengan tangisan ramai.
“Anissa, kamu pernah bercerita kalau Ibumu seorang dokter kandungan,
bagaimana …kalau aku minta bantuannya untuk….”

Gadis itu menggeleng cepat. “Tidak Mbak, Mama tak pernah mau melakukan aborsi illegal. Harus ada indikasi medis yang jelas untuk mengeluarkan bayi yang belum cukup bulan dari kandungan Ibunya”
“Tolonglah mengerti Aku Nis, aku ini siapa ? Mana mungkin aku bisa membesarkan seorang anak ? mengurusnya dan memberikan masa depan buatnya ? coba pikir !”
“Mbak, aborsi memiliki resiko yang sangat tinggi dari segi fisik dan mental. Jangan kira, setelah proses pengguguran kandungan selesai. Lalu selesai pula masalahnya”
“Aku nggak peduli, yang penting aku tak mau perutku gendut dan punya anak. Dan aku mohon bantuanmu Nis, sangat !
“Mbak bisa mati dan kalau hidup pun akan terus dihantui perasaan bersalah hingga bisa mengakibatkan gangguan kejiwaan”
“Nissa, kamu nggak ngerti juga yach ! aku akan merasa lebih bersalah jika membiarkan anak ini hidup tapi besarnya nanti tetap jadi lonte seperti ibunya !
Gadis itu terdiam dengan desahan panjang. Namun ia tetap saja tak memberi kepastian atas permintaanku itu. Dan akupun semakin kacau.

Waktu pun berlalu. Sudah seminggu ini Anissa tak mengunjungiku, entahlah mungkin ia sudah bosan atau telah cukup mendapatkan data-data dariku untuk  bahan skripsinya. Seiring dengan itu aku tetap menjalankan profesi malamku seperti biasa, namun terbatas hanya untuk pelanggan tetap saja, mengingat kondisiku ini. Tapi ternyata, hari ini ia kembali dan duduk di balai-balai istirahatku seperti biasa.
“Bagaimana ? Ibumu mau membantu ? tanyaku langsung.
“Aku belum bercerita apapun pada Mama”
“Yah sudah, pulang saja kamu ! usirku kesal. Gadis itu kembali tersenyum seperti biasa.
“Mbak, bagaimana kalau aku bantu carikan Mbak pekerjaan yang lebih terhormat, tapi Mbak harus janji untuk tetap menjaga kandungan ini” Ujarnya serius. Aku terbahak geli.
“Anissa, aku saja Ibunya tak mau ia lahir. Kenapa kamu repot-repot mau menyelamatkan anak ini ? Sahutku masih dengan tawa geli. “Lagi pula pekerjaan apa ? paling juga jadi pembantu, iya khan ? lanjutku pesimis.
“Bukan Mbak, temanku punya restauran dan ia butuh pramusaji. Kalau Mbak serius aku bisa bantu” Aku terenyuh melihat kesungguhan dimatanya. Anissa seolah Bidadari yang diutus Tuhan untuk menerangi gulitanya hidupku.
“Bagaimana Mbak ?”
“Kalau aku ketahuan hamil pasti akan dipecat, lalu aku mau kerja apa lagi?”
“Aku bisa meyakinkan mereka, percaya dech”
“Ah, sudahlah Nis. Kalau kamu tak bisa bantu. Aku akan berusaha sendiri, aku sudah dapat informasi kok mengenai bidan yang mau dibayar untuk menggugurkan kandunganku”
“Jangan Mbak” sergahnya cepat.
“Kenapa ?”
“Begini saja dech, Mbak  mau khan  aku bawa ke klinik kandungan tempat Mama praktek ?”
“Katanya Mamamu nggak mau bantu”
“Memang, tapi setidaknya Mama bisa bantu menjelaskan kepada Mbak mengenai bahaya aborsi”
“Ah sudahlah ! aku bosan Nis, kamu nggak ngerti juga ! Sahutku kesal.
“Tolong Mbak, sekali ini saja. Bila perlu aku mau bayar untuk waktu yang Mbak luangkan untuk bertemu Mamaku”

Aku kembali terenyuh. Gadis itu begitu tulusnya. Aku tak mengerti apa yang ada dipikirannya, ia begitu bersemangat ingin menyelamatkan kandunganku. Seumur hidupku baru kali ini aku mendapat perhatian yang begitu tulus dari seseorang yang sebelumnya sama sekali asing dikehidupanku.

Wanita itu memiliki sorotan mata sehangat milik Anissa. Ia tersenyum menyambut kehadiranku, sementara Anissa berdiri anggun disampingnya.
“Ini Mamaku Mbak” Wanita itu mengulurkan tangannya.
“Apa kabar ?” tanyanya ramah. Aku tersenyum kikuk, tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku merasa tengah berada di dunia yang begitu asing namun bersahabat.
“Anissa sudah banyak bercerita tentang Susi”
Aku masih bungkam dalam kebingunganku sendiri. Lalu terdengar desahan panjangnya.
“Berapa usia kandunganmu Susi ? tanyanya hati-hati. Aku tersentak kikuk.
“Mungkin baru 2 bulan, Bu”
“Dia pasti bayi yang cantik karena tengah dikandung oleh Ibu yang juga cantik” Ujarnya sambil menatap mataku dalam. Aku semakin kikuk, tanpa sengaja mataku tertambat pada gambar janin yang meringkuk pasrah dalam kandungan ibunya, tergantung didinding ruang prakteknya dalam ukuran lumayan besar.
“Gambar itu tak jauh beda dengan anak cantik dalam kandunganmu, bagian tubuhnya sudah mulai terbentuk” Ujarnya seolah dapat membaca jalan pikirannku. Aku bergidik ngeri melihat bentuknya yang seperti kuda laut.

“Tapi saya tak ingin memilikinya, saya hanya….” Kalimatku terputus oleh tangis. Ia berdiri dan duduk disampingku seraya menepuk-nepuk punggungku.
“Siapapun kamu, apapun  yang kamu lakukan. Bayi ini adalah anakmu dan ia punya hak untuk hidup. Kalau selama ini kamu tak mempercayai keberadaan Tuhan. Cobalah mulai untuk sekedar mengenal keagunganNya lewat detak-detak lembut di rahimmu kini. Dan kamu tahu Susi ? Proses pengguguran kandungan untuk janin seusia kehamilanmu adalah dengan cara menusuk-nusuk anak tersebut, selanjutnya bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan alat semacam tang khusus yang gunanya untuk menarik bagian tubuh  yang dapat dicapai alat itu. bisa lambung, bahu, leher atau apa saja lalu ditusuk dan diremukkan serta disobek-sobek menjadi serpihan kecil, tujuannya agar mudah dikeluarkan dari rahimmu. Coba pikirkan sejenak, tegakah kamu melakukan itu untuk darah dagingmu sendiri  di usianya yang masih sangat muda ?

Mendengar penuturan Ibu Anissa aku semakin tersedu. Ada perasaan berdosa merambati benakku. Sementara Anissa terus memberiku lembaran-lembaran tissue.
“Orang seperti saya, tak akan pernah bisa memberikan masa depan buat seorang anak”
Sahutku terbata dalam isak. Wanita bijak itu membelai rambutku lembut.
“Apa kamu mau terus seperti sekarang ini Susi ?” Tanyanya seraya menatap mata sembabku. Aku menggeleng keras lalu kembali tersedu.
“Percayalah, jika hati kecilmu memiliki keinginan untuk berubah pada arah yang lebih baik. Tuhan pun akan memberikan jalannya i”
“Saya tidak bisa apa-apa Bu, sekoah saya cuma sampai kelas 3 SD” Ujarku pesimis.
“Tidak masalah, yang penting kamu punya niat untuk berubah”
Wanita itu memeluk tubuhku. Aku masih menangis namun setitik pencerahan tiba-tiba muncul didasar hatiku yang paling dalam. Ada cinta yang perlahan merambati  relung-relung hatiku untuk janin yang kukandung ini. Ia bergerak lembut seolah menari menyambut lentera batinku yang hampir redup dan mati.

Batas antara hari ini dan hari kemarin hanya berkisar 24 jam. Tapi perubahan yang kini terjadi dihidupku seolah dapat menembus jutaan kilometer kecepatan cahaya bahkan peradaban rendah yang pernah menyimbahi hidupku. Aku memang bertajuk Susi. Seorang anak, gadis dan kini wanita yang pernah terlahir dengan symbol prostitusi. Namun kini aku adalah seorang Susi, seorang pramusaji dan yang lebih membanggakan dari semua itu, kini aku adalah seorang Ibu bagi  “Salma” putri kecilku yang hampir saja kubunuh seandainya saja  Tuhan tak segera mengirimkan Bidadari bernama Anissa di gelapnya kehidupanku. Lalu memberiku kesempatan menjadi manusia seutuhnya dengan harga diri yang semestinya. Tuhan, ampuni dosaku. Kini harus kukoreksi habis-habisan mengenai kemurahanMu yang pernah begitu tak kupercayai sepanjang masa gelap kehidupanku.

TAMAT

*Dimuat di Majalah GoodHouse Keeping 2009*
*Foto : from Google"









Wednesday, October 24, 2012

AFTER LIFE




There are several books and films about “Afterlife” I had been reads. No big reason why I like the kind of those. I more interesting in part of physiology but not for mystic reasons.  I have my own faith, and knowing much better how deep it influencing my life. I’m not keen enough yet, doing all God’s  rules. But I’m surely know that I’m a good human being. I will not disappointed my God who given me a beautiful life and destiny.

I believe in life after death. I don’t know what exactly like will be. But I prefer to think, there must be something so pure and lightness. From now and then, I already plant it so deep into my mind. One day, I’ll go to the peace full place. And surely surrounding by loving people including my father and my old brothers and sister, who died young when I wasn’t born yet. That’s we call it heaven….only love and peace.

I love my life and thankful to God for every day blessing He give to my wonderful family. From what I read, see, hear and feel. I try to learn so much things about reality and fantasy regarding afterlife. Always get ready for fact and prepare everything for my next life. God wants us to whole hearted to release what we have. Because, He will not accept someone who still connected to reality when our spirit already separated with the body. That’s way we used to hear about “Ghost Haunts”. Hanging around in nowhere, because they never try to sincere that their life already finish. And I won’t become a kind human like that. So, from now and then…I always learn to letting go whatever I have.....


Tuesday, August 28, 2012

SINOPSIS & REVIEW BOOK #3 - FIFTY SHADES OF FREED




Fifty Shades Of Freed - Di buku ketiga ini, tak  banyak yang harus di bahas.Cerita berlangsung datar. Klimaks dan anti klimaks yang kurang cerdas di garap, serta tokoh antagonis yag kurang 'bertaring'. Ada beberapa kejanggalan yang berbenturan dengan kronologis cerita yang singkat, jika di kaitkan dengan tokoh antagonis di novel ini. Tapi, lagi lagi novel ini akan terus mengikat mata dan rasa penasaran kita. Karena pembaca akan terus di pikat dan di jerat oleh setiap bab yang terus dan terus dan terus.....menggores, mendetail dan mendeskripsikan dengan sangat, sangat jelas banyak adegan seks, terlebih saat Anastasia dan Christian melakukan bulan madu !. Say Laters Baby to another activity when you start to read this novel ^__^.  Bahkan dalam satu reality Show di Amerika – The Ellen Show,  mengatakan : Oh Thank God, There is no pictures in this book !

Ok mari kita mulai ……

Setelah Ana berhasil meyakinkan Christian bahwa dirinya patut di cinta dan bisa menjalani kehidupan normal seperti pasangan lainnya. Ana pun berkomitmen dengan jati dirinya untuk bisa lebur dengan ’Mainan’ Christian, yang sangat di sadarinya, tak mungkin bisa terlepas dari calon suaminya tersebut. ”Playroom” adalah pelepas stress dan theraphy paling ampuh bagi Christian. Dan Ana, mau tak mau harus membiasakan dirinya, agar bisa lebur bersama ”Sex Stuffs” milik Christian.

Hingga suatu hari, beberapa ’Alat-alat’ menyeramkan itu seperti Butt Plug, Flogger Big Vibrator dan Nipple Clamp pada akhirnya, menyatu pula di tubuh kecilnya. Christian dengan penuh cinta dan secara perlahan mentraning calon istri nya untuk terbiasa dan bisa lebur dengan Life Style nya ”There’s a fine line between Pain and Pleasure”. Dan Ana, akhirnya merasakan kenikmatan dari semua permainan seks keras yang dulu membuatnya meninggalkan Christian. Tapi kini, malah bikin ketagihan.


Sampai pada satu titik, Ana meyakinkan dirinya untuk sepenuhnya lebur pada kehidupan Christian dalam satu bentuk ikatan pernikahan. Bulan madu pun berlangsung dalam banyak adegan seks ’beraneka’. Rantai, cambuk, butt plug dan alat permaianan seks lainnya, kini telah menjadi bagian dari keseharian Ana. Dan...ia semakin menikmatinya !. Kekayaan yang berlimpah. Tempat bulan madu yang romantis, mewah,  hadiah mahal yang bergelimang serta tabungannya yang tiba tiba berdigit luar biasa.  Tapi semua itu tak menjadikan Ana kehilangan jati dirinya. Ia tetap menolak untuk menjadi Nyonya milyarder yang cuma bisa menghabiskan uang suaminya. Ia tetap bekerja, bahkan saat menjalani bulan madunya. Ana tetap membaca beberapa manuskrip untuk persiapan saat ia mulai bekerja sebagai Editor In Chief di Perusahaan yang di beli Christian untuk Ana sebagai hadiah pernikahan mereka. Wow...!

Jack Hyde – Mantan bos Ana yang di depak Christian karena pernah melakukan pelecehan pada Ana, dengan mudahnya menjelma menjadi tokoh antagonis di novel ini. Dia lah yang menjadi otak pembakaran di server room di ruang kantor Christian. Memasuki Apartemen Christian, dan menyuruh seorang wanita untuk membuntuti mobil Christian dan Ana – Yang ternyata adalah Elizabeth – Mantah HRD di Perusahan Penerbitan SIP yang membantu sepak terjang Jack Hyde sebagai tokoh antagonis.

Sampai akhirnya, Ana pun hamil karena kecerobohan sekretaris nya mengatur jadwal pertemuannya dengan Dokter Ginekolog pribadinya. Christian pun marah, ia belum siap untuk membagi Ana dengan yang lainnya, termasuk kelahiran seorang anak. Ditengah kemelut hubungan Ana dan Christian. Tiba tiba Mia – Adik Christian di culik dan si penculik menelpon Ana untuk meminta sejumlah uang untuk tebusan. Ana pun dengan bodoh nya, melenggang ke bank dan mencairkan sejumlah uang yang di minta si penculik, tanpa berani menelpon suaminya apalagi polisi karena takut dengan ancaman si penculik. Sangat tidak masuk akal. Kalau memang ia perempuan dengan mulut cerdas, setidaknya otaknya pun pasti cerdas. Ana mestinya sudah tahu,  suaminya yang super kaya raya itu pasti punya banyak cara untuk melumpuhkan penculik amatiran tersebut yang Cuma menang gertak.

Ana pun menyerahkan sejumlah uang tersebut kepada si penculik yang ternyata adalah Jack Hyde yang dibantu oleh Elizabeth  – Gak surprise banget !. Baku tembak terjadi, kepala Ana keserempet peluru dan langsung pingsan. Disaat bersamaan Christian pun datang bersama sejumlah bodyguardnya dan langsung melumpuhkan Jack Hyde dan Elizabeth.

Klimaks di novel ini, cuma segitu doang. Tapi lagi lagi....pembaca selalu di alihkan pada paragrap demi paragrap yang mengulas jelas adegan seks, bahkan saat Ana tengah hamil tua. Christian punya cara mengorgasme istri dan dirinya, tanpa harus melukai si jabang bayi. Ck ck ck.....Life with Christian will never be bored ! Ujar Ana, saat semakin menyadari Sexperties yang di miliki suaminya.

Ending cerita berakhir saat Theodore Raymond Grey  - Anak pertama Christian dan Ana berusia 2 tahun, di saat bersamaan Ana pun tengah hamil bayi perempuan yang akan di beri nama Phoebe Grey.

Christian dan Ana pun hidup layaknya suami istri dengan kenormalan yang hanya mereka sendiri yang memahaminya.

Hebatnya, novel setebal 500 halaman lebih ini, 80% nya di dominasi dengan paragraph demi paragrap penuh adegan seks !. Wow...memang bukan novel yang bagus, tapi ini adalah novel yang sangat addicted....coba saja ! pasti mau baca dan baca lagi ^__^


- Ria Jumriati -


Tuesday, July 17, 2012

SINOPSIS & REVIEW – BOOK #2 FIFTY SHADES OF DRAKER




SINOPSIS :


Pada trologi pertama dari Novel Fifty Shades di ceritakan, Anastasia Steel menemukan dirinya terperangkap antara nafsu, cinta dan erotisme luar biasa yang membuat semua hormone wanitanya memberontak dan menuntut tantangan yang lebih tinggi, mengikuti arus cara bercinta menyimpang dari billioner kaya raya – Christian Grey. Namun, sisi gelap Grey terlalu pekat untuk dirinya. Tubuhnya tak sanggup menerima permainan seks dan hukuman yang terasa semakin tidak compatible dengan tubuhnya. Ia pun meninggalkan Christian yang ternyata menjadi sangat hancur karenanya. Kepergian Ana, telah membuka mata dan hati Christian untuk melihat sisi dunia yang berbeda dari yang di miliki sebelumnya.

Christian pun menawarkan satu bentuk hubungan berbeda, melunak dan tidak lagi dominant di satu arah. Ia mencoba untuk lebih memahami segala hal dalam  menjalani hubungannya bersama Ana – Gadis lugu dengan mulut cerdas, yang dari hari ke hari, semakin mengusik sisi emosionalnya. Hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya bersama 15 wanita yang pernah ada di ”Red Room of Pain” miliknya dengan segala bentuk alat dan permainan seks dengan bentuk dan akibat tak bisa di terima oleh gadis selugu Ana. Namun, akhirnya Ana pun menerima, karena ia memang memiliki cinta yang tulus pada Christian, meski ia sadar, tidaklah mudah mencintai Sang Fifty Shades, dengan kharisma, ketampanan, kedermawanan serta permainan seks tak biasa yang pernah dirasakan sendiri olehnya. Ditambah Christian juga memiliki kehidupan masa kecil dan remaja yang kelam-Ibu kandung yang tak mencintainya, dan Mrs. Robinson yang menjadikannya budak seks sejak ia berusia 15 tahun. Terlalu banyak ironisme pada Christian yang tak sekedar butuh pemahaman di luar logika. Tapi penuh maaf, kesabaran dan keahlian emosi dan keterbiasaan tubuh dan libido dalam menjalani semua permaian seks.

Ketika Ana menyanggupi untuk memberi kesempatan kedua pada Christian. Ia meminta agar tak ada lagi cambuk, pukulan dan permainan seks keras yang dulu sering di terimanya. Meski Christian menyanggupi, toh untuk pria sepertinya, tetap saja bukan jenis permainan seks normal dan umum. Dan Ana, kembali lagi lagi terperangkap dan mencoba ’menjajal’ tubuh dan emosinya untuk bisa selaras dengan kebiasaan pria yang di cintainya. Kini Christian meminta Ana, berkata ’Stop’ jika hal yang di lakukannya tak lagi bisa di terima tubuhnya. Dan Ana, mau melakukan itu – Atas dasar cinta ? Mungkin itulah pengorbanan lain yang di berikan Ana untuk pria yang di cintainya. Ia tak ingin merubah Christian seutuhnya, hanya karena pria ini takut kehilangan dirinya. Perlakuan yang ternyata semakin mengikat sisi emosi Christian pada Ana. Bahkan Ana, menantang Christian untuk membawanya kembali memasuki ”Red Room Of Pain” !

Tantangan lain nya – Ana pun harus berhadapan dengan beberapa perempuan ”Ex-Submissive” Christian yang masih ingin memasuki kehidupan Christian – Elena atau Mrs. Robinson, terus menerus mendera Ana dengan email, surat dan ancaman bahwa ia tak akan sanggup menghadapi sisi gelap Christian yang sadist. Tapi Ana tak peduli, dari hari ke hari ia bisa mengeluarkan  sisi terang Christian yang ternyata hanya butuh di cintai dengan tulus. Dan itu tak pernah di rasa Christian seumur hidupnya. Sebelum bertemu Ana, Christian tak pernah mempercayai kemurnian cinta itu ternyata ada, ia menolak di sentuh siapapun. Tak heran, tiap kali ia melakukan hubungan seks, Christian selalu mengikat kaki dan tangan pasangannya agar tak bisa menyentuh dirinya. Tapi Ana, bisa membuktikan sebaliknya. Perlahan, Christian merasakan sentuhan Ana yang berbeda, tulus, lembut dan menenangkan. Hingga pada satu titik – Christian tak ingin lagi kehilangan gadis itu.

Tak selesai pada deraan Mrs. Robinson – Ana pun harus berhadapan dengan Leila, ex-Sub Christian lainnya – ”What you have that I don’t ” Begitu ujar Leila saat ia menghadang Ana di depan kantornya. Memasuki apartemennya yang di huninya bersama Christian dengan pistol di tangan, lalu menguntitnya saat ia kembali ke apartemen lamanya saat Ana ingin  memberikan kunci apartement kepada Ethan – Kakak Kate sahabat sekamarnya. Leila, yang tidak stabil bisa saja menghancurkan kepala Ana dengan satu tembakan. Tapi itu tak di lakukan, hingga Christian dan Taylor – Bodyguardnya datang untuk menyelamatkannya.  Christian pun membentak Ana untuk segera keluar sementara ia mengurus Leila dengan ’caranya’ – Tak ada kekerasan sama sekali, bahkan Christian tak mau melibatkan polisi. Ia segera memanggil Dr. Flynn – Psikiater langganannya untuk menangani Leila.

Ana yang frustasi menghadapi kenyataan ini, akhirnya memilih untuk pergi minum dengan Ethan, dengan meninggalkan blackberry dan dompetnya di mobil. Menyaksikan kelembutan Christian memperlakukan Leila, ditambah perlakuan tak senonoh Jack – Bos di tempat kerjanya – Membuat Ana begitu tertekan dan butuh pelepasan sejenak. Saat pulang kembali ke Apartemen Christian – Ia menemukan pria itu begitu terpukul, Christian sangat takut Ana kembali meninggalkannya. Akhirnya, Christian pun meminta Ana untuk menikahinya. Di tengah keraguannya, Ana meminta pendapat Dr Flynn – Psikiater pribadi Christian. Tak ada yang perlu di takutkan. Ana bahkan telah membuat progress yang luar biasa pada pasiennya selama 2 tahun ini. Apa pun yang ada di dalam ”Red Room Of Pain” milik Christian, bukan merupakan tindakan abnormal selama ia dan christian merasakan kesenangan dan kepuasan dalam melakukannya "There's a fine line between pain and pleasure" – some people called It’s a lifestyle !.

Setelah helicopter Christian yang di sabosate terjatuh. Hingga hampir tak ada kabar tentang keselamatan Christian. Ana pun berjanji, untuk menerima lamaran Christian seandainya ia selamat. Cerita pun bergulir penuh haru biru. Christian akhirnya selamat. Bertepatan di hari ulang tahunnya, Ana pun menerima lamarannya dan mengajak Christian untuk kembali memasuki ”Playroom” lalu meminta Christian untuk mencoba dirinya dengan salah satu sex stuff yang ada di ruangan tersebut. Ana sadar, Christian akan menjadi suaminya maka ia pun harus terbiasa dengan ”life style” pria yang dicintainya tanpa batas. Playroom dengan segala "Sex Stuff" yang menakutkan, pada akhirnya akan menjadi bagian tak terpisahkan darinya, sebagai konsekwensi logis menikahi pria dengan 'kesenangan menyimpang'.  Seperti yang di ucapkan Christian, saat ia memeregoki Ana tengah melakukan pengamatan detail pada semua alat alat aneh di "Playroom'.


"I hope that one day you’ll live with me here, and all this and will be yours, too.”

Akhir dari buku ke-2 ini,  Ana berhasil deal dengan sisi gelap Christian. Ia mampu memberi sinar pada kegelapan milik kekasihnya. "He’s not dark. He’s a good man, and he’s not in the dark. He’s joined me in the light". Ia bahkan mampu melatih tubuh dan emosinya untuk lebur bersama kegelapan kekasihnya, dan perlahan memberi makna dan warna lain pada bagaimana Christian memperlakukan orang yang di cintainya. Mengajari pria yang di pujanya setengah mati, tentang bagaimana arti cinta dan mencintai. 

Ana pun berhasil membuat Christian berlutut dan menyelipkan cincin pertunangan di ruangan penuh dengan bunga. "You have my heart...and these are the flowers"

“You’re my lifeline. I’m doing this because I’ve finally met someone I want to spend the
rest of my life with.”

“You’ll marry me?” he whispers, incredulous.
I nod nervously, flushing and anxious and not quite believing his reaction—this man whom I thought I’d lost. How could he not understand how much I love him?
“Say it,” he orders softly, his gaze intense and hot.
“Yes, I’ll marry you......"





REVIEW :

Tak beda dengan buku pertama dari Trilogy ”Fifty Shades” – Durasi cerita yang yang pendek, kronologis yang singkat dan racikan sastra yang terlalu standard – Tak ada yang istimewa dari buku ini. Namun mata dan imaginasi pembaca akan terus terperangkap pada setiap bab bahkan paragraph yang terus menerus mengurai adegan seks antara Ana dan Christian. Seks di lift, meja billiard, piano, mobil, tempat parkir, kamar tidur Christian saat remaja dan tentunya ”Red Room of Pain”. Apapun yang berhubungan dengan percintaan apalagi seks yang terurai detail di setiap bab, pasti akan memiliki daya jual yang sangat tinggi. Hal itu lah yang tejadi pada buku ini. Begitu banyak versi ’bercinta” yang di ajarkan Christian sang Sexperties pada Anastasia, gadis lugu yang sampai usianya menginjak 22 tahun ternyata masih perawan. Christian mengajari hal-hal dasar tentang seks hingga tingkat advance yang tak pernah di sangka tubuh dan emosi Ana, ternyata ia bisa lebur dengan semua benda-benda aneh di ”Playroom” milik kekasihnya.

Cinta – Kembali menjadi alasan yang sangat kuat, mengapa Ana mau melakukan semua itu. Mencintai seseorang dengan latar belakang kehidupan masa kecil dan remaja yang kelam, menuntut konskewensi luar biasa tinggi dan tak biasa. Dan Ana bisa melewati banyak ujian saat ia semakin dalam mengenal kehidupan calon suaminya.

Sekali lagi banyaknya uraian adegan seks membara yang terjabar di buku ini, seolah menghipnotis pembaca untuk mengabaikan hal – hal tak masuk akal dari cerita ini. Misalnya : Saat Ana dan Christian di buntuti Leila – ”Ex Sub” Christian yang sedikit sakit jiwa dan lemah secara fisik. Bagaimana Leila bisa masuk dengan mudahnya ke Escala – Apartemen Christian yang super megah, dengan system keamanan canggih, apalagi ditambah ada Taylor dan Ryan bodyguard mereka. Lalu bagaimana pula Leila sampai bisa masuk ke kamar tidur Christian. Tidak masuk akal !. Tak habis sampai di situ. Bagaimana Leila dengan gampangnya menerobos apartemen Kate. Bukankah kunci apartement tersebut hanya di pegang oleh Ana, yang rencananya hari itu akan di serahkan pada Ethan – Kakak Kate. Leila kan bukan Vampire ?. Lalu tentang adegan seks, yang sepertinya bisa di lakukan Ana dan Christian dimanapun dan kapanpun. Setiap mulai mencapai orgasme, selalu saja ada condom tersedia di mana pun. Apakah Christian sang Billioner dengan banyak assisten di kehidupannya – selalu membawa bawa kondom kemana pun ? Atau salah satu job description Mrs. Jones – Pembantu rumah tangga Christian adalah ”Don’t forget to put Condoms everywhere in entire rooms, including in the elevator !”

Tapi saya tetap kagum dengan E.L James. Ia memiliki keberanian menulis cerita dengan menguraikan bagian-bagian intim tubuh Ana dan Christian. Proses orgasme demi orgasme, alat alat seks dan menggambarkan keadaan di ruang ”Playroom” Christian yang mampu menghipnotis imajinasi pembaca begitu kuat. Semua di sebutkan secara detail, berkali kali dan tanpa ragu. Dan terbukti, buku ini telah menjadi perbincangan hangat di hampir semua media online. Di twitter, jika kita search hastag #FiftyShadesOfGrey, timelinenya berjalan dalam hitungan detik !.

Wanita 40 th yang seumur hidupnya belum pernah menulis ini, ternyata mampu memberi roh pada ketiga bukunya. Entah ia melakukan analisa tersendiri tentang kehidupan seks menyimpang. Atau mungkin E.L James secara pribadi memiliki pengalaman advance tentang seks. Toh, pada akhirnya, ia mampu menciptakan novel trilogy dengan kelasnya tersendiri dan menjadi New York Times Bestseller.

Ow once again ! If  you hate steamy romance, don’t ever dare to read it. And this book only for “Mature Audience” – above thirty years of age :-)




-         Ria Jumriati-  Also writer who will never inspire to write a kind book like these
      (low sex experiences, not interesting to search it)

Saturday, June 02, 2012

Review & Synopsis - BOOK ONE - "FIFTY SHADES OF GREY"





Kehidupan  Anastasia Rose Steele – Mahasiswa sastra dan pekerja paruh waktu di Toko serba ada Clayton, berubah jungkir balik fisik dan mental, saat tanpa di rencanakan Ia bertemu pengusaha muda yang tampan, penuh kharisma dan kaya raya bernama Christian Grey. Pada satu kesempatan, menggantikan Kate – Sahabat satu apartemennya yang kebetulan mendadak sakit disaat harus mewawancarai Mr. Grey, untuk satu kolom di majalah bulanan universitas mereka.

Ana yang selama ini begitu sulit jatuh cinta, merasakan getaran yang hebat di sekujur tubuhnya, saat pertama mata abu abu Mr Grey menghantam jam biologisnya. Setelah wawancara singkat itu, Ana terus terobsesi oleh kharisma sensual milik Christian Grey.  Tapi Ana mencoba melupakan semuanya dan kembali tenggelam dalam kesibukannya sebagai pekerja paruh waktu dan pelajar yang tekun. Sampai suatu hari, Christian Grey muncul di toko Clayton, menemui Ana untuk membeli sesuatu di toko tersebut. Hasrat Ana kembali berbuncah, terlebih tanpa di duga Christian mengajaknya untuk minum kopi bersamanya.

Hubunganpun berlanjut, dari mulai ciuman di lift hingga Ana perlahan menyadari dirinya telah terperangkap pada kuatnya daya pikat Christian Grey - Erotis, sensual, lembut, perhatian, super dominant  sekaligus menyakitkan !. Selama tiga minggu, Ana membiarkan hasrat, libido, gairah dan pengalaman seksual nya berjibaku bersama Christian, sekaligus menjadi pria pertama yang di percaya Ana untuk merengut keperawanannya.

Ana menyadari, menyetujui dan menikmati semua permainan seksual penuh gairah dan menyimpang, yang secara perlahan dan sensasional di perkenalkan Christian. Terbius oleh ketampanan, kelembutan dan perhatiannya, perlahan Ana menemukan sisi erotis dalam dirinya, yang bisa mengimbangi se aneh apapun Christian memperlakukannya. Ana bahkan berani melihat beberapa “Sex stuff” di kamar pribadi Christian yang di sebutnya “Red Room Pain”. Flogger, Cambuk, Rantai dan banyak permainan sex lainnya di perlihatkan Christian pada Ana, tanpa ada rasa takut sedikitpun di benaknya. Meski Christian selalu mengingatkan Ana untuk pergi atau bahkan lari jika ia merasa tak nyaman atau takut. Tapi Ana menikmatinya, bahkan menantang Christian untuk mencoba diri nya ! “There’s no line between Love and Lush” – Ana bahkan tak lagi mengenali apa yang ia rasakan. Akankah ada cinta bersama Christian – A Man with Fifity Shades, The only Man I love and slept with, but full of pain, pleasure, reward and punishment ?. Ana bahkan bisa menerima hukuman seperti di pukul atau di cambuk jika ia melakukan hal-hal kecil yang tak di setujui Christian. Bahkan pria itu masih menyimpan hukuman terberat yang belum pernah di cobanya pada Ana.

 Dalam kelimbungannya, ia mengunjungi Ibunya yang tinggal di Georgia. Ia melihat perubahan psikis begitu besar pada putri semata wayangnya. Sebagai Ibu kandung Ana yang telah memberinya 2 ayah tiri. Carla menasehati Ana bahwa ia masih sangat muda, berbakat, cantik dan berhak untuk mendapatkan yang terbaik .
You know what they said.. You have to kiss a lot of frogs before you find your prince, Follow your heart darling. Relax and enjoy, You’re so young, you have so much to experience, just let it happened…You deserve the best for everything…

Sekembalinya dari Georgia. Ana bertekad untuk membuktikan seberat apa hukuman yang sering dilontarkan Christian jika ia melakukan hal – hal kecil, seperti menggigit bibir, mengerlingkan mata, sekedar pergi bersama Jose – teman kuliah yang sudah dianggap saudaranya sendiri, tapi sangat membuat Christian cemburu.

Ana menantang Christian, jika ia sanggup menerima sakitnya hukuman terberat tersebut, maka Ia  di perbolehkan  ‘menyentuh’ Christian dalam segala bentuk hubungan seksual yang begitu dominant, satu arah dimana kendali sepenuhnya ada ditangan Christian. Meski Christian tak menyetujuinya, karena ia sendiri sangat takut kehilangan Ana. Kehadiran gadis itu, telah  membuka tirai di kehidupannya yang gelap – “I’ve come alive, since I met you….You are everything I want you to be…” – Kalimat itu tak pernah di sebutkan Christian sepanjang perjalanan kehidupan seksnya dengan lima belas wanita di “Room Red Pain”. Tapi dengan Ana, ia menemukan setitik kenormalan yang kerap tenggelam oleh gelap dan  buruknya kehidupan masa kecil dan remajanya. Tapi Ana mencintai Christian, ia ingin memiliki kehidupan normal bersama pria yang di cintainya. Jika tubuh dan jiwanya tak bisa sepenuhnya berselaras dengan ketidak normalan Christian. Ana tak melihat masa depan apapun di hubungan meraka. Maka, hukuman paling berat yang sekiranya akan Christian lakukan padanya, di tantang Ana untuk di coba….

“Show me how much it can hurt…Punish me. I want to know how bad it can get”

Meski Christian tak ingin melakukannya, tapi kekuatan gelap dalam dirinya begitu besar mendorong sensasi dan erotica yang kerap mengalahkan sisi emosional manusianya.  Ia ingin Ana lari darinya, tapi di sisi lain Ia juga ingin menikmati kenikmatan menyimpang bersama gadis yang hampir melumpuhkan emosinya.

Ana pun terjerembab tak berdaya dalam 6 pukulan cemeti dari tangan Christian, seketika meluluh lantak kan tubuh dan emosinya. “What was I thingking ? Why did I let him do that to me ? I wanted the dark, to explore how bad it could be…But it’s too dark for me. I cannot do this… Ternyata sisi gelap Christian Grey terlalu pekat untuk kehidupan Ana sebagai gadis dengan perjalanan hidup yang selalu berada pada garis normal. It’s so challenging and complicated stories, When Cinderella fallen love with Dr. Jeckyl & Mr. Hide !

Di buku Ke-Satu dari Trilogy FIFTY SHADES OF GREY – Akhirnya Ana memutuskan untuk keluar dari kehidupan Christian Grey – Pria yang telah memperkenalkannya kehidupan jet set kelas atas, memberinya hadiah Mac book generasi terbaru hingga mobil mewah Audi A3. Dan tentunya,  pengalaman seksual yang tak pernah terpikir olehnya bahwa ‘dunia gelap’ itu ternyata ada dan pernah menjadi bagian dari hidupnya bersama pria itu “You can’t give me what I want, and I cannot give you what you need…”.

Ana mengembalikan semua benda yang pernah di berikan Christian, kecuali hatinya…bersarang dan telah terperangkap begitu kuat pada sangkar kelam milik Christian Grey !

Akan kah ada jalan bagi Ana untuk kembali pada Christian ? Buku Kedua “FIFTY SHADES OF DRAKER dan Ketiga - FIFTY SHADES OF FREED, akan segera di proses dan di cerna oleh mata dan imajinasi saya. Next, I’ll write a synopsis and review of those !



REVIEW :

 
Novel ini begitu detail dan berani menuliskan segala bentuk hubungan seksual ‘menyimpang’ yang di lakukan Christian Grey terhadap Ana. Mengexplore tanpa ragu erangan sensual dari keduanya dalam bentuk tulisan yang erotis. Penulis berani menabrak semua rambu rambu moral, dengan banyaknya adegan seks yang di kupas secara transparan dan jelas di hampir setiap bab di novel ini. Tak heran, di Amerika meski menjadi buku best seller. Novel ini masuk category “Erotic Novel” bahkan “”Mommy Porn” dan banyak menuai kritik sebagai buku dengan kwalitas sastra rendahan. Saya pun menyetujui beberapa hal tersebut. Sebagai seorang penulis, yang pernah melakukan pekerjaan editing naskah, ini adalah novel dengan kwalitas editing yang lemah. Banyak mengumbar dialog dengan konten sex serta anatomi tubuh dengan pengantar bahasa yang absurd, tidak berirama dan cenderung tergesa gesa. Tapi jujur, ini adalah novel romantis pertama yang sangat liberal, possesif dan addictive !


Tak heran Universal akan segera mengadaptasi Trilogy dari Novel Fifty Shade of Grey ke layar lebar.
Dari website The Hollywood Gosip. Rating tertinggi untuk pemeran Christian Grey di pegang oleh Ian Somerhalder pemeran antagonis vampire di serial Vampire Diaries. Sedangkan Kristen Stewart, mega bintang segquel Twilight Saga – menempati presentasi 80% sebagai pemeran Anastasia. Sesuai dengan apa yang tergambar di imajinasinya saya. Dari penampilan fisik, character dan gesture. Ian Somerhalder dan Kristen Stewart adalah blue print paling cocok untuk dua karakter utama di novel tersebut. Selaku penulis – E.L James tak berharap bukunya mendapat anugerah Pulitzer Price. “She just need a hot actress or actor to fulfill her erotic imaginations”

Tak perlu merasa kotor apalagi berdosa membaca novel super erotis ini, “If you don’t like steamy romance, don’t dare to read it….simple isn’t ?. Tergantung dari sisi mana kita menilai. Setiap penulis pasti punya misi dan tujuan tersendiri untuk setiap lembar kertas yang di tulisnya. Novel ini mungkin menggambarkan, bahwa setiap orang punya sisi erotisme tersendiri, yang bisa saja meluap tanpa di sadari oleh si pemilik tubuh, tergantung sebesar apa trigger sensualitas itu mempengaruhi tubuh dan jiwa seseorang. Entah itu atas nama cinta atau sekedar nafsu…..Well, just like I wrote on top paragraph “There’s no line between love and lush”






Monday, May 21, 2012

THE AVENGERS - Missing Link Yang Terlupakan


 


Film kategori super hero buatan Amerika, memang selalu over fantasi, over budget dan pastinya over fenomenal ! Di kagumi seluruh pemirsa dunia dan menjadi trending topic di berbagai media. Antrian panjang di berbagai bioskop, rela di lakoni demi mendapatkan tontontan berkwalitas. Film di The Avenger, yang masih di putar di berbagai bioskop di Indonesia, memang patut mendapatkan pujian bertubi. Menghadirkan 6 Super Hero dunia yang bertarung melawan Loki si Dewa keji – Adik tiri Thor yang merupakan  besutan dunia Asgard dari zaman dewa - dewa  mitologi Yunani.



Bagi mereka yang belum pernah menonton film super hero sebelumnya seperti Thor, Captain America, Iron Man dan Hulk. Pasti akan menemukan beberapa “missing link” pada saat mengikuti jalan cerita The Avenger. Terlebih, meski comic Black Widow dan Hawkeye  sangat terkenal tapi belum pernah di film kan, pasti akan timbul sedikit pertanyaan bagi penonton yang sama sekali asing dengan tokoh tokoh The Avengers ini. Tapi gemerlap efek visual yang sangat memukau mata, bisa melupakan semua kekurangan di film ini. Meski Joss Whedon sebagai sutradara tetap menyisipkan latar belakang sejarah singkat dari masing masing super hero ini.

Skenario memang sengaja menghadirkan banyak percakapan lucu serta adegan lucu di film ini.  agar penonton tetap memaklumi bahwa tidaklah mudah merekrut Superhero dari zaman Mitologi, Perang Dunia I hingga abad Futuristic. Misalnya, ketika Captain America berkali kali membentak Iron Man karena gaya bicaranya yang terlalu High-Tech, karena bahasanya terlalu membingungkan untuk dirinya yang lahir di abad perang dunia pertama. “Speak English Please !” Pintanya jengkel.  Atau, saat Thor di ejek Iron Man karena memakai jubah merah yang lebih mirip tirai jendela Ibunya. Lain halnya dengan Hulk, yang di minta tunduk oleh Loki si Dewa keji keluaran abad mitologi Yunani. Tanpa basa basi, Hulk langsung membanting tubuh dewa loki berkali kali sambil mendengus kesal “Dewa Yang Lemah !”.


Film berdurasi 2.5 jam ini,  tak beda dengan film super hero amerika lainnya. Kehancuran pasti terjadi di pusat kota New York. Memporak porandakan gedung, penyelamatan warga sipil dan mahluk musuh bergaya futuristic. Untung saja Transformer bukan besutan Marvel. Apa jadinya jika Optimus Prime and the Gank, ikut di rekrut dalam project The Avenger ini. Atau mungkin di sequel lanjutan The Avenger, akan hadir tokoh comic Marvel lainnya, seperti Daredevil, Ghost Rider atau Spiderman ?? Karena konon, akan hadir musuh yang lebih menyeramkan bernama Thanos dan tokoh jahat lainnya dalam memperebutkan 10 batu mistis yang mampu memberikan kekuatan kepada pemegangnya. Hmmm pasti lebih seru ! dan tentunya, Saya rela mengantri untuk nonton lagi :-)