Wednesday, October 20, 2010

REVIEW BOOK : 5 KELOPAK MAWAR BERBISA

Kebahagiaan tak terbeli bagi seorang penulis, adalah ketika karyanya dibaca banyak orang. Memberi tak sekedar hiburan tapi juga pengetahuan mengenai banyak hal yang kemudian bisa merubah jalan pikiran mereka, dengan menyimpulkan banyak hal postive di setiap tulisan yang telah tergores dibeberapa novel-novel saya yang sudah terbit. 

Setelah Hendrik Marboen Merina Zega yang menjadikan Novel "Dunia Kristal" sebagai bahan utama skripsinya dalam meraih gelar sarjana kependidikan. Kini saya temui Novel " 5 Kelopak Mawar Berbisa" yang di jadikan bahan penelitian untuk tulisan yang dibuat oleh Bertha Mintari. 

Tak ada yang mampu saya ucapkan, selain rasa syukur karena bisa memberi pengetahuan kepada banyak orang, yang saya lakukan tanpa tujuan apapun selain kenikmatan dalam merangkai kata demi kata yang selalu terlahir tulus dari hati dan imajinasi ini.

Berikut adalah posting tentang Novel karya saya  "5 Kelopak Mawar Berbisa" yang direview oleh Bertha Mintary dan saya copas dari blognya http://berthamintari.blogspot.com. Terima Kasih Banyak !



1.1  Latar Belakang Masalah

Karya sastra yang kita baca dibangun oleh pengarangnya sebagai hasil rekaman berdasarkan perenungan, penafsiran, penghayatan hidup terhadap realitas sosial dan lingkungan kemasyarakatan tempat pengarang hidup dan berkembang (Sumardjo, 1984: 15). Novel sebagai karya sastra dibangun dari berbagai unsur fiksi seperti plot, karakter, tema, point of view dan sebagainya. Sebagai karya fiksi, novel banyak mengandung nilai-nilai sosial, politik, etika, religi, filosofis yang bertolak dari pengungkapan kembali suatu fenomena kehidupan (Sumardjo, 1984: 67).

Pengarang sebagai pencipta karya sastra juga merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri. Ketika ia menciptakan suatu karya, ia tidak hanya terdorong oleh luapan atau desakan dari dalam dirinya untuk mengungkapkan perasaan atau cita-citanya, tetapi juga berkeinginan untuk menyampaikan pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, pendapat, kesan-kesan, dan juga keprihatinan-keprihatinan atas suatu peristiwa yang terjadi kepada seseorang atau kelompok orang (Sardjono, 1992: 10).

Ria Jumriati, lahir pada tanggal 18 Desember 1972 di Jakarta. Kiprahnya di dunia tulis-menulis telah menghasilkan 5 karya fiksi, yaitu Sperma Buat Ratri (kumpulan cerpen, 2007), Lima Kelopak Mawar Berbisa (novel, 2007), Bunga-Bunga Bangkai (novel, 2008), Dunia Kristal (novel, 2009), Ketika Wanita Mensyukuri Apa Yang Ada (Moslem's Chicken Soup, 2010). Karyanya yang berjudul Mata Sang Bidadari (kumpulan cerpen) pernah mendapat penghargaan dari Tabloid Indonesia, serta pernah meraih Juara I dalam Lomba Catatan Harian Ibu oleh Tabloid Ibu dan Anak (2004).

Salah satu novel yang menarik perhatian penulis adalah novel yang berjudul Lima Kelopak Mawar Berbisa (kemudian disingkat LKMB), karena dalam novel tersebut Ria Jumriati mengangkat masalah trauma yang berawal pada peristiwa traumatik yang dialami oleh seorang korban jugun ianfu, kemudian membawa dampak trauma pada anak dan keturunannya. Novel LKMB ditulis oleh Ria Jumriati, karena terinspirasi oleh penderitaan para wanita yang dijadikan jugun ianfu pada masa penjajahan Jepang. Jugun ianfu adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada wanita penghibur yang terlibat dalam perbudakan seks pada Perang Dunia II di koloni Jepang dan wilayah perang Jepang. Jugun ianfu merupakan wanita yang dipaksa untuk menjadi pemuas kebutuhan seksual tentara Jepang yang ada di Indonesia dan juga di negara-negara jajahan Jepang lainnya pada kurun waktu tahun 1942-1945. Para wanita Indonesia biasanya direkrut menjadi jugun ianfu berdasarkan paksaan, diimingi-imingi ke luar negeri, atau akan dijadikan pemain sandiwara (seperti yang terjadi pada ikon perjuangan jugun ianfu asal Indonesia, Ibu Mardiyem) (http://id.wikipedia,org/wiki/jugunianfu).

Hartono (Hindra dan Kimura, 2007: VIII-IX), advokat dan pembela umum di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta berpendapat bahwa sampai saat ini, para mantan jugun ianfu yang masih hidup umumnya menghadapi masalah seperti (1) kesehatan yang buruk akibat kekerasan fisik, psikologis, dan seksual yang mereka alami selama menjadi jugun ianfu; (2) trauma akibat perbudakan seks yang harus mereka jalani pada usia yang masih muda; (3) tertekan secara sosial karena dianggap sebagai bekas pelacur dan manusia yang kotor sebagai akibat dari terbatasnya informasi yang benar tentang sejarah jugun ianfu; (4) tertekan secara psikis karena adanya perasaan bersalah telah menjadi jugun ianfu dan; (5) sebagian besar jugun ianfu hidup dalam keadaan miskin karena ditolak bekerja di tengah-tengah masyarakat dengan alasan mereka merupakan bekas pelacur.

Dalam novel LKMB, dikisahkan secara dramatis yang berawal pada penderitaan yang dialami oleh Marni, sebagai korban jugun ianfu. Peristiwa yang dialami oleh Marni kemudian membawa dampak rasa trauma, kebencian, dan dendam yang dirasakan oleh keluarganya, yaitu Sagiyem, Winarsih, Rumijah, dan Hana Motokura. Trauma seorang jugun ianfu menciptakan rantai dendam tanpa akhir bagi keturunannya, meskipun generasi dan zaman telah berganti.

Tokoh Marni diceritakan sebagai perempuan korban tindak kekerasan tentara Jepang pada tahun 1942. Ia diculik paksa oleh tentara Jepang di hadapan keluarganya, kemudian dijadikan jugun ianfu di rumah pelacuran. Ia mengalami pemerkosaan dan diperlakuan secara tidak manusiawi oleh tentara Jepang. Setelah empat tahun diculik tentara Jepang, Marni dipulangkan dalam keadaan yang menyedihkan. Ia ditemukan oleh warga dengan tubuh penuh luka dan tidak berdaya. Masyarakat tidak menerima keberadaan Marni di lingkungan mereka. Mereka menganggap Marni sebagai bekas pelacur dan manusia ‘kotor’. Marni sering mendapat hinaan dan gunjingan dari masyarakat. Perlakuan buruk tersebut, membuat batin Marni semakin terluka dan keadaan kejiwaannya terganggu. Marni harus menanggung pederitaan sepanjang hidupnya. Trauma yang dialami Marni memengaruhi orang-orang terdekatnya, yaitu Sagiyem, Winarsih, Rumijah, dan Hana Motokura.

Sagiyem merupakan ibu dari Marni. Ia merawat luka-luka pada tubuh Marni sampai sembuh. Sagiyem sangat sedih melihat penderitaan Marni yang mengalami trauma parah. Keadaan tersebut sangat mempengaruhi psikologis Sagiyem. Dalam pikiran Sagiyem sering terbayang pemerkosaan yang dilakukan oleh tentara Jepang terhadap anaknya. Perasaannya bertambah terluka karena masyarakat memperlakukan Marni dengan tidak adil. Ia memiliki rasa dendam yang besar terhadap bangsanya sendiri atas penolakan dan penghinaan masyarakat terhadap keadaan anaknya. Ia pun menanamkan rasa dendam tersebut kepada Winarsih, cucunya.

Winarsih adalah anak dari Marni (cucu Sagiyem). Winarsih adalah tokoh yang tidak pernah merasakan kebahagian masa hidupnya. Masa kecilnya pun hanya selalu terisi dengan berbagai peristiwa yang menyedihkan. Winarsih tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayah dan ibunya. Sejak kecil Winarsih telah berpisah dengan orangtuanya, ia dibesarkan oleh kakek dan neneknya. Pada waktu berumur lima tahun Winarsih menyaksikan kejadian penculikan orangtuanya. Semenjak itu Winarsih tidak pernah bertemu dengan orangtuanya. Setelah empat tahun berlalu, Winarsih menyaksikan ibunya ditemukan oleh warga desa dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Ia melihat tubuh ibunya dipenuhi luka dan kemaluannya mengeluarkan darah. Setiap hari, Winarsih menyaksikan penderitaan ibunya yang terkena gangguan jiwa, serta ikut merawat luka yang tersebar di seluruh tubuh ibunya. Meskipun pada waktu itu usianya masih kecil, peristiwa yang menimpa orangtuanya tetap tersimpan di ingatan Winarsih sampai dewasa.
Winarsih, sebagai seorang anak kecil, ia mengalami trauma yang mendalam terhadap penderitaan ibunya. Kesedihan yang terus-menerus ia alami dan luka batin yang besar pada diri Winarsih memicu keinginannya untuk membalas dendam terhadap orang-orang yang membuat ibunya menderita. Wanita tersebut kemudian membangun naluri membunuh, dengan menjadikan orang-orang Jepang sebagai sasaran dendamnya.
Rumijah adalah anak dari Winarsih. Rumijah selalu merasakan tidak bahagia hidup bersama ibunya. Ia tidak dapat menjalani hidup dengan bebas dan menentukan pilihannya sesuai dengan hatinya. Ia memiliki hubungan dengan orang Jepang yang bernama Hori Motokura. Hubungan itu ditentang keras oleh ibunya. Winarsih sangat membenci Hori karena ia adalah orang Jepang. Bagi Winarsih, di dalam diri Hori mengalir darah penjajah yang harus dibunuh. Hubungan antara Rumijah dengan Winarsih menjadi tidak harmonis. Setiap hari pertengkaran dan pertentangan sering terjadi dikeluarganya. Rumijah sering mendapat perlakuan kasar dari ibunya. Ia sering ditampar, dimaki, dan diancam akan dibunuh. Selain itu, Winarsih selalu memaksa Rumijah agar membunuh suaminya sendiri. Pada akhirnya, Winarsih membunuh Hori dengan racun. Semenjak kematian Hori, hubungan antara ibu dan anak itu tidak pernah lagi harmonis.

Hana Motokura adalah anak dari pasangan Rumijah dan Hori Motokura, yang merupakan cucu dari Winarsih. Sejak bayi, Hana diasuh oleh Winarsih sehingga Hana lebih dekat dengan neneknya daripada ibunya. Hana sangat terpengaruh oleh pemikiran Winarsih tentang kebencian terhadap orang Jepang. Winarsih selalu menceritakan pemerkosaan yang dialami Marni (nenek buyut) kepada Hana, sampai psikologis Hana menjadi terganggu. Dalam pikiran Hana tersimpan gambaran buruk akan kekejaman orang Jepang terhadap leluhurnya. Pengalaman traumatis yang diceitakan kepadanya memicu keinginannya akan membalas dendam. Ia juga diajar membuat ramuan jamu, racun, dan penawar racun. Secara diam-diam Hana mengasah naluri membunuhnya dan mencari korban orang Jepang. Selain Rumijah, tidak ada seorang pun yang mengetahui rencana Hana tersebut. Namun, sebagai seorang ibu, Rumijah bertekad tidak akan membiarkan Hana mewarisi dendam sesat neneknya.

Berdasarkan gambaran singkat di atas, novel LKMB mencerminkan gambaran stres pasca-trauma, yaitu sebuah gangguan yang terbentuk dari peristiwa traumatik yang mengancam keselamatan seseorang atau membuat seseorang merasa tidak berdaya. Stres pasca-trauma dapat memengaruhi mereka yang secara pribadi mengalami bencana atau musibah besar, mereka yang menjadi saksi atas kejadian tersebut, dan mereka yang membantu dalam kejadian tersebut, termasuk pekerja sosial dan petugas keamanan. Bahkan hal ini dapat terjadi di kalangan teman atau kerabat dari orang yang mengalami trauma (Smith dan Segal via internet, 2008).

Berdasarkan dari uraian di atas, penulis tertarik meneliti novel LKMB dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Pendekatan psikologi sastra adalah pendekatan penelaahan sastra yang menekankan pada segi-segi psikologis yang terdapat dalam suatu karya sastra (Semi, 1984: 46). Dalam penelitian ini, penulis akan meneliti mengenai stres pasca-trauma yang terdapat pada lima tokoh wanita dalam novel LKMB, yaitu Sagiyem, Marni, Winarsih, Rumijah, dan Hana Motokura.
Dipilihnya novel LKMB karya Ria Jumriati sebagai objek penelitian karena berdasarkan pengamatan penulis, belum ada peneliti yang menganalisis novel ini secara khusus dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Penelitian novel tersebut akan difokuskan kepada sisi psikologis lima tokoh wanita yang mengalami stres pasca-trauma yang disebabkan oleh peristiwa traumatik yang dialami Marni akibat penjajahan Jepang.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, penulis merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

1.2.1 Bagaimana tokoh dan penokohan dalam novel Lima Kelopak Mawar Berbisa karya Ria Jumriati?

1.2.2 Bagaimana stres pasca-trauma pada lima tokoh wanita dalam novel Lima Kelopak Mawar Berbisa karya Ria Jumriati?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Mendeskripsikan tokoh dan penokohan dalam novel Lima Kelopak Mawar Berbisa karya Ria Jumriati.

1.3.2 Medeskripsikan stres pasca-trauma pada lima tokoh wanita dalam novel Lima Kelopak Mawar Berbisa karya Ria Jumriati.

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat atau sumbangan yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.4.1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam perkembangan dalam kritik sastra dan ilmu sastra, khususnya telaah sastra dengan pendekatan psikologi sastra.

1.4.2 Menambah pengetahuan pembaca khususnya mengenai karya sastra tentang stres pasca trauma yang dialami oleh lima tokoh wanita dalam novel LKMB karya Ria Jumriati.

1.5 Tinjauan Pustaka
Sejauh pengamatan penulis belum ada yang meneliti khusus novel LKMB karya Ria Jumriati dalam bentuk penelitian ilmiah. Namun, novel LKMB telah disinggung dalam bentuk resensi yang ditulis oleh Damuhbening yang mengatakan bahwa bahasa dalam novel ini sangat singkat, padat, dan langsung pada pokok permasalahan. Tidak ada kata-kata yang mendayu biru. Kisah yang begitu padat dendam dirangkai begitu cepat, namun tanpa kehilangan ruhnya. Tidak ada kesan terburu-buru dari penulisnya dalam mengeksekusi akhir kisah. Sang penulis tetap menjaga alurnya dengan bahasa yang singkat dan lugas. Itulah yang membuat novel tipis ini menarik untuk dibaca (Damuhbening via internet, 2009).

Sebelumnya, pernah ada penelitian tentang stres pasca-trauma yang ditulis oleh Ruby (2006) dengan skripsinya yang berjudul: Post-Traumatic Stress Disorder Akibat Kekerasan Fisik dan Emosional pada Tokoh Gambir dalam Novel Pintu Terlarang Karya Sekar Ayu Asmara pada Tahun 2006. Dalam skripsinya, Ruby memfokuskan penelitiannya pada psikologis tokoh laki-laki, yaitu Gambir akibat kekerasan fisik dan emosional dengan pengetahuan Post-Traumatic Stress Disorder, yaitu gangguan stres pasca-trauma. Dalam penelitian tersebut dibahas tentang gejala-gejala stres pasca-trauma yang dialami tokoh Gambir akibat kekerasan fisik dan emosional. Terdapat 8 gejala stres pasca-trauma pada psikologis Gambir. Hal ini dipengaruhi oleh peristiwa traumatik yang dialaminya sejak kecil sampai dewasa. Teori stres pasca-trauma yang digunakan dalam penelitian tersebut menurut Carlson dan Ruzek.
Berbeda dengan Ruby, penelitian ini akan mengungkapkan stres pasca-trauma yang dapat diakibatkan karena menyaksikan suatu peristiwa traumatik dan membantu dalam peristiwa traumatik tersebut. Hal ini dapat terjadi di kalangan teman atau kerabat dari orang yang mengalami trauma.
Dalam penelitian ini, penulis membahas mengenai gejala-gejala stres pasca-trauma yang dialami lima tokoh wanita, yaitu Marni, Sagiyem, Winarsih, Rumijah, dan Hana Motokura. Terdapat 17 gejala stres pasca-trauma pada psikologis lima tokoh wanita. Teori stres pasca-trauma yang digunakan dalam penelitian tersebut menurut Smith dan Segal.

Berdasarkan teori yang sama, novel yang berbeda, dan obyek penelitian yang berbeda (tokoh dalam novel LKMB), penulis tertarik untuk menelah lebih lanjut psikologis lima tokoh wanita, yaitu Marni, Sagiyem, Winarsih, Rumijah, dan Hana Motokura dengan pengetahuan stres pasca-trauma.
Teori tentang trauma dipakai untuk menjembatani teori tentang stres pasca-trauma.

1.6 Landasan Teori

Pada penelitian ini, penulis akan menggunakan dua landasan teori yakni struktural dengan memfokuskan pada tokoh dan penokohan dan psikologi sastra. Teori tokoh dan penokohan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas mengenai tokoh dan penokohan dari setiap tokoh dalam cerita, baik itu tokoh utama dan tokoh tambahan. Penggambaran yang lebih jelas tersebut akan membantu pembaca untuk lebih memahami tokoh serta perwatakannya dalam cerita. Penelitian ini menggunakan teori pikologi sastra, karena peneltian ini mengangkat masalah psikologi, stres pasca-trauma yang dialami oleh lima tokoh wanita dengan memaparkan gejala-gejala stres pasca-trauma lima tokoh wanita tersebut. Dalam teori psikologi sastra ini menggunakan pengetahuan tentang trauma untuk menjembatani ke pengetahuan stres pasca-trauma lebih lanjut.

1.6.1 Tokoh dan Penokohan

Tokoh menurut Abrams adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan ( Nurgiyantoro, 1998: 165).

Dilihat dari segi peranan tokoh dalam sebuah cerita, ada tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus sehingga mendominasi sebagian besar cerita. Sebaliknya ada tokoh yang hanya muncul sekali atau beberapa kali dalam cerita. Tokoh yang disebut pertama adalah tokoh utama, sedangkan yang kedua adalah tokoh tambahan (Nurgiyantoro, 1998: 176).

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh utama senantiasa hadir dalam setiap kejadian dan dapat ditemui dalam tiap halaman buku cerita yang bersangkutan. Pada novel-novel lain, tokoh utama tidak muncul dalam setiap kejadian atau tak langsung ditunjukkan dalam setiap bab, namun ternyata dalam kejadian atau bab tersebut tetap erat berkaitan atau dapat dikaitkan dengan tokoh utama (Nurgiyantoro, 1998: 177).
Adapun penokohan adalah pelukisan yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh, sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakannya, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita, juga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Pengertian tersebut sekaligus menyaran pada teknik perwujudan tokoh dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 1998: 165).

1.6.2 Psikologi Sastra

Psikologi sastra adalah cabang ilmu sastra yang mendekati sastra dari sudut psikologi. Perhatian dapat diarahkan kepada pengarang dan pembaca (psikologi komunikasi sastra) atau kepada teks itu sendiri (Hartoko dan Rahmanto, 1985: 126). Pendekatan psikologis terhadap teks itu sendiri dapat dilangsungkan secara deskriptif belaka, namun sering mendekati suatu penafsiran. Pengetahuan tentang psikologi mendorong kita untuk menyadari bahwa sebuah karya sastra sekurang-kurangnya mempunyai dua jenis makna, yaitu jelas dan terselubung. Sesuatu watak tidak harus dinilai dari keadaan lahir saja, tetapi harus dipertimbangkan apa yang dilakukan dan apa yang dikatakannya (Semi, 1984: 48-49).

Sastra dapat memanfaatkan psikologi karena karya sastra merupakan aktivitas ekspresi manusia. Tokoh-tokoh dalam karya sastra adalah manusia-manusia yang terdiri dari unsur fisik dan mental (jiwa). Oleh karena itu, unsur psikologi sangat berperan dalam penokohan (Atmadja, 1986: 63).

Pembahas sastra yang menganut aliran psikologi menggunakan pengetahuannya tentang persoalan-persoalan dan lingkungan psikologis untuk menafsirkan suatu karya sastra tanpa menghubungkan dengan biografi pengarangnya. Pembahas sastra dapat mengamati tingkah laku tokoh-tokoh dalam sebuah novel atau drama dengan memanfaatkan pertolongan pengetahuan psikologi. Andaikata ternyata tingkah laku tokoh-tokoh tersebut sesuai dengan apa yang diketahuinya tentang jiwa manusia, maka dia telah berhasil menggunakan teori-teori psikologi modern untuk menjelaskan dan menafsirkan karya sastra (Hardjana, 1981: 65-66).
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pengetahuan teori psikologi stres pasca-trauma untuk meneliti novel LKMB. Teori tentang trauma dipakai untuk menjembatani teori tentang stres pasca-trauma.

1.6.2.1 Trauma

Trauma didefinisikan sebagai keadaan yang dialami seseorang di luar jangkauan manusia biasa dan dapat menyebabkan distres pada hampir setiap orang. Gejala stres sering ditunjukkan ketika trauma terjadi secara mendadak dan tidak diharapkan, seperti ancaman bagi hidup seseorang atau hidup orang lain yang dekat dengannya, kerusakan tiba-tiba terhadap rumah atau komunitasnya, menjadi korban kejahatan kekerasan, dan melihat orang lain terluka atau terbunuh (Wilson, 1996: 152).
Menurut Eth & Pynoos (via Arthayani, 2005: 10), trauma psikis terjadi ketika seseorang dihadapkan pada peristiwa yang menekan sehingga menyebabkan rasa tidak berdaya dalam mengatasi kecemasan atau ketakutan akibat bahaya yang dirasa mengancam.
Kondisi emosi yang ditandai dengan perasaan takut sebagai akibat dari suatu peristiwa yang sangat memukul (berat) dan tidak dapat dilupakan dalam kehidupan seseorang disebut traumatik. Kondisi traumatik biasanya disebabkan oleh peristiwa mendadak, tidak terduga, dan menyebabkan kesedihan mendalam. Individu yang merasa traumatik dapat mengubah perilaku, sikap, pikiran maupun arah kehidupan yang bersifat ekstrim, yaitu negatif atau positif (Dariyo via Arthayani, 2005:11). Apabila peristiwa traumatik tersebut mengarah pada perubahan yang bersifat positif, maka seluruh sikap, pemikiran (pandangan) atau tindakan seseorang akan menjadi lebih baik dan konstruktif. Sebaliknya, peristiwa traumatik yang mengarah pada perubahan negatif akan membuat pola pikir, sikap, maupun tindakan seseorang cenderung mengarah pada kemunduran (regresif). Dengan demikian, hal ini akan merugikan diri sendiri maupun orang lain (Dariyo via Arthayani, 2005: 11).

Orang yang sering mengalami kejadian trauma memperlihatkan berbagai gejala dan masalah sesudahnya. Berapa seriusnya gejala-gejala yang ada tergantung dari banyaknya pengalaman-pengalaman yang dialami orang tersebut sebelumnya, kemampuan naluriah seseorang untuk mengatasi trauma yang pernah dialaminya, dan pertolongan juga dukungan yang diperoleh dari keluarga, teman-teman, juga para ahli (Carlson dan Ruzek via internet, 2008).

Para penderita yang sudah melewati pengalaman-pengalaman trauma umumnya akan teringat kembali pengalaman-pengalaman trauma mereka. Maksudnya, mereka akan teringat lagi kejadian-kejadian yang pernah mereka alami secara mental, emosional, dan fisik. Mereka akan terus mengingat, mengingat gambar atau bentuk kejadian yang pernah terjadi, merasa gelisah atau tidak tenang, dan secara fisik merasakan kembali sensasi trauma yang dialaminya. Mereka merasakan diri mereka ada dalam bahaya, mengalami perasaan panik, rasa ingin melarikan diri dari kejadian yang pernah dialami, mudah marah, dan ingin menyerang atau melukai orang lain. Mereka sulit untuk tidur dan berkosentrasi karena diri mereka selalu merasa cemas dan tidak tenang. Penderita biasanya tidak dapat mengontrol gejala-gejala tersebut maupun menghentikannya (Carlson dan Ruzek via internet, 2008).

1.6.2.2 Stres Pasca Trauma

Menurut Pearson via Arthayani (2003: 11), hampir setiap orang yang mengalami pengalaman traumatik, seperti kecelakaan, perang, dan bencana alam, mengalami pula berbagai gangguan untuk sementara waktu, seperti gangguan tidur, sifat lekas marah, mengalami kembali’ peristiwa traumatik, mimpi buruk, dan usaha-usaha untuk menghindari ingatan tentang peristiwa traumatik. Untuk beberapa orang, gejala-gejala tersebut dapat berlangsung lama dan mengakibatkan gangguan stres yang berkepanjangan dan dapat mengakibatkan terganggunya berbagai fungsi fisik, psikologis, dan sosial. Ketika hal ini terjadi, mungkin saja individu tersebut mengembangkan stres pasca-trauma. Gejala stres pasca-trauma dapat dialami oleh semua orang pada semua tingkat usia, di mana seseorang terbuka terhadap peristiwa traumatik yang di dalamnya terdapat peristiwa yang mengancam kematian atau menyebabkan luka yang serius pada dirinya atau orang lain yang dekat dengan dirinya.

Menurut Scott (via Arthayani, 2005: 12) dalam Diagnostic and Statistical Manual (DSM IV) dijelaskan bahwa stres pasca-trauma adalah gangguan emosi yang luar biasa yang berbeda dengan gangguan emosi lainnya, seperti depresi dan kepanikan. Gangguan ini tidak secara mudah dapat disederhanakan berkaitan dengan gejalanya. Stres pasca-trauma sendiri adalah salah satu kategori diagnostik dari gangguan kecemasan yang diakui oleh American Psychriatic Association (APA).

Munculnya stres pasca-trauma ditandai dengan “terulangnya” pengalaman atau peristiwa yang bersifat traumatik sehingga individu menjadi terpisah dengan realitas, pikiran, merasa, dan bertindak seolah-olah kejadian traumatik terulang kembali. Keadaan tersebut diikuti dengan munculnya gejala tertentu dan pengelakan atau penolakan terhadap gejala-gejala yang berkaitan atau mengingatkan pada trauma (Scott via Arthayani, 2005: 12).
Menurut Baldwin (via internet, 2002) tidak semua orang mengalami peristiwa traumatik dapat menderita stres pasca-trauma, namun unsur ketidakberdayaanlah yang membuat suatu peristiwa secara subjektif bersifat melumpuhkan. Goleman (1999: 285) mencontohkan sebagai berikut; “Ketika seseorang diserang oleh sebilah pisau tahu cara bagaimana membela diri dan bagaimana bertindak, sementara orang dalam nasib yang sama berpikir “mati aku”, maka orang yang tidak berdaya itulah yang mudah terkena. stres pasca-trauma” Dari pernyataan tersebut dinyatakan bahwa ketidakberdayaan seseorang dalam menghadapi trauma psikis merupakan kunci terbentuknya stres pasca-trauma.

Stres pasca-trauma pada awalnya berhubungan erat dengan trauma perang, namun saat ini stres pasca-trauma dikenal sebagai konsekuensi potensial dari suatu peristiwa atau pengalaman terhadap berbagai kejadian yang berpotensi menimbulkan trauma. Kendati tidak ada peristiwa traumatik yang besar atau ekstrim, munculnya gejala tersebut dapat disebabkan oleh stres yang terus-menerus berlangsung dan tanpa henti (Scott via Arthayani, 2005: 13).

Beberapa pengalaman spesifik yang dapat menyebabkan stress pasca-trauma yaitu perang, pengungsian, bencana alam, bencana karena ulah manusia, kecelakaan mobil, kecelakaan pesawat terbang, pemerkosaan, pelecehan seksual pada anak, dan perusakan fisik. Semakin mendalam peristiwa traumatik, semakin buruk gejala-gejala stres pasca-trauma-nya (Wilson, 1996: 151).

Ada banyak kejadian traumatis yang dapat membuat seseorang trauma, sehingga apabila dia mengalami suatu hal kejadian yang dapat berhubungan dengan kejadian trauma yang dialaminya, dia akan kembali teringat akan kejadian traumatis yang lalu. Dia merasa bahwa dia berada di dalam bahaya lagi.
Smith dan Segal (via internet, 2008) mengategorikan gejala-gejala stres pasca-trauma sebagai berikut:

1. Gejala Menghidupkan Kembali (Re-experiencing Symptom)

Seseorang yang mengalami stres pasca-trauma sering merasa peristiwa traumatik tersebut akan terulang kembali. Hal ini biasanya disebut flashback, atau menghidupkan kembali peristiwa. Orang ini mungkin secara berkelanjutan memiliki pikiran atau ingatan yang tidak menyenangkan mengenai peristiwa tersebut, mengalami mimpi buruk yang terus berulang, atau bahkan sering menyebabkan terjadinya respons fisikal, seperti jantung berdetak kencang atau berkeringat ketika teringat akan peristiwa traumatik tersebut. Selain itu orang dengan gejala stres pasca-trauma akan mengalami perasaan menderita yang kuat ketika teringat kembali peristiwa traumatik tersebut. Gejala-gejala tersebut menyebabkan seseorang kehilangan ”saat sekarang”, seolah-olah orang ini mengalami kembali peristiwa traumatik yang dulu pernah dirasakannya (Smith dan Segal via internet, 2008).

2. Gejala Penghindaran (Avoidance Symptom)

Seseorang yang mengalami stres pasca-trauma berusaha untuk menghindari pikiran, perasaan, atau pembicaraan yang berhubungan dengan peristiwa traumatik tersebut. Mereka mungkin akan menghindari orang-orang, tempat, benda-benda yang mengingatkan peristiwa traumatik tersebut. Orang ini secara perlahan-lahan akan kehilangan ketertarikan atas aktivitas positif yang penting, merasa jauh atau seperti ada jarak dengan orang lain. Selain itu, seringkali orang dengan stres pasca-trauma mengalami kesulitan untuk merasakan perasaan-perasaan positif (kesenangan/ kebahagiaan atau cinta/kasih sayang), serta merasa seakan-akan hidup seperti terputus di tengah-tengah. Gejala-gejala ini menyebabkan orang yang menderita stres pasca-trauma tidak berharap untuk dapat kembali menjalani hidup dengan normal (Smith dan Segal via internet, 2008).

3. Gejala Waspada (Hyperarousal Symptom)

Gejala-gejala stres pasca-trauma pada orang-orang sangat berbeda-beda. Mereka mungkin sangat cemas, mudah gelisah, mudah tersinggung atau marah, dan mungkin mengalami sulit tidur seperti insomnia. Mereka akan terlihat terus-menerus waspada dan mengalami kesulitan konsentrasi. Sering orang dengan stres pasca-trauma akan selalu merasa seperti sedang diawasi atau seakan-akan bahaya mengincar di setiap sudut (Smith dan Segal via internet, 2008).
Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan beberapa pengetahuan tentang stres pasca-trauma, yaitu tentang gejala-gejala psikologis yang ada dalam diri seseorang bila menderita stres pasca-trauma. Dari beberapa gejala psikologis tersebut akan diteliti lima tokoh wanita dalam novel LKMB.

1.7 Metode Penelitian

Pada bagian ini akan dikemukakan mengenai pendekatan dan metode.

1.7.1 Pendekatan

Psikologi pada dasarnya mempelajari proses-proses kejiwaaan yang dapat diikutsertakan pada studi sastra. Dalam aliran psikologis, seseorang akan mengungkapkan suatu kisah berdasarkan gerak-gerik jiwa tokohnya (Tjahyono, 1988: 230).

Dalam penelitian ini, pendekatan yang akan dilakukan adalah pendekatan dari sudut psikologis. Kritik psikologis dalam studi sastra adalah salah satu kritik sastra yang berusaha untuk mendalami segi-segi kejiwaan penulis, karya, dan pembaca (Tarigan, 1985: 213). Dengan pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa penelitian dengan pendekatan psikologis dapat dilakukan dalam studi sastra. Tarigan tidak membatasi daerah kajian pendekatan psikologis pada masalah-masalah genetik saja, tetapi juga pada sastra sebagai suatu karya yang otonom dengan meneliti aspek-aspek psikologis yang ada pada para tokohnya.

Menurut Ratna (2004: 334) ada dua cara untuk memulai penelitian karya sastra melalui pendekatan psikologis. Pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi, kemudian diadakan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relevan untuk melakukan analisis. Penulis memilih dengan cara kedua, yaitu menentukan suatu karya sastra sebagai objek yang akan diteliti, kemudian akan menentukan teori-teori psikologi yang dianggap relevan untuk melakukan analisis.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan dari sudut psikologis dengan menggunakan teori stres pasca-trauma. Dipilihnya teori tersebut karena sesuai dengan permasalahan yang ada dalam objek penelitian. Teori tersebut mengemukakan tentang gangguan stres pasca-trauma akibat dari kejadian-kejadian traumatis yang dialami lima tokoh wanita dalam LKMB.

Melalui pendekatan dari sudut psikologis, penulis dapat menganalisis sisi psikologis lima tokoh wanita melalui dialog dan perilakunya dengan menggunakan sumbangan pemikiran psikologi.

1.7.2 Metode

Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (KBBI, 1995: 652). Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, maka metode yang dipakai adalah metode formal dan metode deskriptif analisis.

Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspek-aspek formal, aspek-aspek bentuk, yaitu unsur-unsur karya sastra. Tugas utama metode formal adalah menganilisis unsur-unsur sesuai dengan peralatan yang terkandung dalam karya (Ratna, 2004: 51).

Secara etimologis deskripsi dan analisis berarti menguraikan. Analisis berasal dari bahasa Yunani, analyein (‘ana’: atas, ‘lyein’: lepas, urai), tidak semata-mata menguraikan melainkan juga memberi pemahaman dan penjelasan secukupnya. Metode deskriptif analisis adalah metode yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Metode analisis yang dilakukan, yaitu menganalisis unsur ekstrinsik dan instrinsik (Ratna, 2004: 53).
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur instrinsik adalah unsur-unsur yang secara keseluruhan membangun struktur karya sastra (Nurgiyantoro, 1998: 23).

Pada penelitian ini, penulis meneliti novel LKMB dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang ada dalam novel LKMB, kemudian disusul dengan analisis, yaitu menganalisis unsur ekstrinsik dan instrinsik yang ada dalam novel LKMB.


1.7.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data untuk menemukan dan menjawab atau mencari permasalahan yang tersimpan dalam novel LKMB, penulis menggunakan jenis riset pustaka. Artinya, dengan berbagai macam buku acuan, wacana lepas, ataupun bentuk pustaka lainnya yang berkaitan dengan permasalahan di atas jawaban permasalahan ditemukan.
Dalam teknik ini juga digunakan teknik simak dan teknik catat. Teknik simak digunakan untuk menyimak teks sastra yang telah dipilih sebagai bahan penelitian. Teknik catat digunakan untuk mencatat hal-hal yang dianggap sesuai dan mendukung dalam memecahkan rumusan masalah. Teknik catat merupakan tindak lanjut dari teknik simak (Sudaryanto, 1993: 133-135).

1.7.4 Sumber Data

Dalam penelitian ini, sumber data yang dipilih sebagai objek penelitian adalah novel Lima Kelopak Mawar Berbisa, karya Ria Jumriati dan sumber data lainnya diambil dari internet dan buku.

Judul : Lima Kelopak Mawar Berbisa
Penulis : Ria Jumriati
Penerbit : Sheila, sebuah imprint dari CV. Andi Offset
Tahun Terbit : 2007
Tebal : 142 halaman
Cetakan : Pertama

1.8 Sistematika Penyajian

Sistematika penyajian hasil penelitian adalah sebagai berikut. Bab satu pendahuluan, berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian. Bab dua adalah analisis tokoh dan penokohan. Bab tiga berisi analisis apa saja gangguan stres pasca-trauma pada lima tokoh wanita dalam novel LKMB. Bab empat merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

Tuesday, October 19, 2010

Tips Menulis Cerita Fiksi

TIPS MENULIS CERITA FIKSI ALA RIA JUMRIATI

Sudah 4 buah buku bergenre novel dan 1 buku bertema psikologi popular sejenis “chicken soup” yang telah saya terbitkan. Ditambah beberapa cerpen dan artikel yang telah banyak dimuat di beberapa majalah dan tabloid Ibukota. Dari semua karya tulis itu, Alhamdulliah saya cukup mendapat sambutan  yang positif dari para pembaca. Beberapa telah menjadi penggemar buku buku dan tulisan saya termasuk dijadikannya cerpen saya “Aku Rindu Biyung” sebagai salah satu  bahasan pokok untuk materi pelajaran bahasa Indonesia tingkat Sekolah Menengah Pertama dalam bentuk Buku Elektronik Sekolah, serta Novel Dunia Kristal yang  dijadikan tema skirpsi untuk meraih gelar sarjana pendidikan oleh salah satu mahasiswa di Medan. Dan semua itu adalah hal yang tak pernah berhenti saya syukuri.

Ada beberapa yang bertanya, disekolah mana atau kursus tulis apa yang pernah saya pelajari untuk bisa menulis  seperti sekarang ini. Saya hanya tersenyum, tidak satupun. Tapi saya sangat meyakini rumusan yang meng ungkapan bahwa bakat yang kita miliki hanya 20% kontribusinya pada keberhasilan seseorang, selebihnya atau 80% nya adalah kerja keras. Dan itu lah yang saya lakukan, kerja keras ! Saat memandang rak buku yang berisi semua buku buku saya yang telah terbit, serta kliping tabloid dan majalah yang telah memuat tulisan dan profil saya, semua itu tak akan datang serta merta dan mudah. Ada proses keringat dan air mata yang menjadi pemanis dan nikmatnya mengikuti alur usaha dan perjuangan  menuju satu obsesi pasti.

Dan untuk sahabatku, yang berkeinginan untuk bisa menulis. Berikut saya bagi ilmu sederhana yang berasal dari buah pemikiran saya, tentang teknik menulis cerita fiksi berdasarkan pengalaman menulis saya selama ini.

TEKNIK MENULIS CERITA FIKSI.

Cerita fiksi lebih mudah dibuat dibanding menulis sebuah artikel. Karena sumber utama tulisan kita ada dalam bank data yang bisa diunduh langsung dari khayalan dan imajinasi yang kita miliki meski ada juga beberapa data akurat yang membutuhkan sumber terpercaya untuk melengkapi keindahan tulisan kita. Tidak bisa dipungkiri, ketika ingin menulis sesuatu kita sering dibuat bingung ingin memulai dari mana. Berikut cara sederhananya.

  1. Cari Tema Menyentuh

Saya yakin sepenuhnya bahwa menulis adalah tak sekedar pekerjaan yang banyak melibatkan jari tapi juga hati. Pilih tema yang paling menyentuh perasaan kita, beberapa karya saya yang bisa menyentuh banyak pembaca seperti cerpen “Sebuah Dunia Untuk Nathan” tercipta karena saya benar benar tersentuh dengan anak teman baik saya yang mengidap autis. Bagaimana memulainya ? itu pertanyaan klasik yang sering dikeluhkan penulis pemula. Pertama, jangan pikirkan hal yang terlalu berat dan rumit. Tulis saja ! segera tuliskan apa saja yang tiba tiba terlintas di pikiran kita. Entah itu dimulai dari saat si pelaku utama sedang kepasar, sedang melamun dan menceritakan isi lamunannya, atau dimulai dengan dialog bersama sahabatnya, pokoknya apa saja, langsung dituangkan dalam bentuk tulisan. Setelahnya pasti akan terangkai dengan sendirinya plot plot yang akan membentuk kerangka cerita awal. Dari sinilah kemudian kita bisa membentuk masing masing karakter yang akan berperan di cerita kita. Segera tentukan siapa yang akan menjadi tokoh protogonis dan antagonis.

  1. Jangan Batasi Imajinasi

Imanjinasi adalah komponen paling penting dari seorang penulis fiksi. Keunikan hasil tulisan novelis berasal dari sejauh mana ia bisa mengexplore imajinasinya  menjadi sesuatu yang tak layak diterima logika tapi begitu nikmat sebagai bacaan semata, bahkan terkadang bisa mempengaruhi logika pembaca. Saya pernah membiarkan imajinasi saya mengembara sejauh mungkin hingga menghasilkan cerpen “Kunci Kallamatya” yang merupakan kisah cinta antara anak manusia dan keturunan dewa dewi yunani (dimuat di kumpulan cerpen “Sperma Buat Ratri”). Semua sah dan tak ada yang bisa menggugat apa yang terlintas di imajinasi kita. Sebut saja cerita novel sequel nya Dan Brown dari The Da Vinci Code, Angel and Devil serta The Lost Symbol, juga Four Past Midnight Stepehen King, atau novel fiksi teka teki nya  Agatha Christie dalam judul The Mysterious Mr Quin. Apakah bisa diterima logika ? Persetan logika! Yang penting enak dibaca dan cukup menghibur ketika tertuang dalam media lain seperti sinetron atau film.

Nikmatnya menulis fiksi, kita tidak dibatasi oleh benar tidaknya apa yang akan kita tulis, subyektif karena buah pemikiran kita sendiri. Meski saat proses kreatif tengah berlangsung, rambu rambu iman dan akhlak tetap harus menjadi pengontrol dari semua hal yang ingin kita sampai kepada pembaca. Ingat, karya tulis sama halnya sebuah lukisan. Umurnya akan lebih panjang dari penulis dan penciptanya, jadi buatlah karya yang membanggakan bagi anak cucu kita kelak. Nah, tunggu apalagi…menulis dan tuangkan semua hal yang terlintas di imajinasi anda!


  1. Jeda Sejenak

Mampet dan tumpul imajinasi, itu adalah masalah sepele yang sering dialami oleh penulis terkenal sekalipun. Caranya, jangan pernah paksakan menulis saat sudah merasakan kepenatan, tunggu sampai ide ide segar mengalir kembali. Cari cara yang paling menyenangkan hati kita untuk mendapatkan kembali klik menulis yang berhubungan dengan tema. Hal yang saya lakukan adalah melempar tema yang tengah saya tulis di sebuah ruang milist. Biasanya, masukan dari sesama milister sangat membantu saya menyelesaikan sebuah tulisan. Atau naik sepeda pagi menikmati rimbunnya pepohonan dan kicau burung, ngobrol dengan mbok jamu atau membaca majalah dan browsing di internet. Itulah cara yang saya pilih untuk kembali menyegarkan ide dan memancing semangat menulis saya. Meski trend menulis di café dengan fasilitas free Wifi banyak dilakukan penulis saat ini. Sayangnya cara ini tak terlalu cocok untuk saya, sering mencoba malah tak menghasilkan apa apa. Tapi boleh juga di coba, yang namanya ide dan imajinasi bisa kita dapatkan dimana saja.

Demikian, 3 point penting yang menurut saya perlu di terapkan dalam memulai tulisan fiksi, tentu masih banyak kekurangan. Saya sendiri masih terus belajar dan tak berhenti memperbaiki kualitas menulis saya dengan seterbuka mungkin menerima kritik dan saran atas karya saya. Itu adalah konsekwensi logis ketika sebuah karya telah memasuki ruang public. Tapi masukan dalam bentuk apapun, akan sangat berharga bagi perbaikan tak hanya kualitas tulisan tapi juga sebagai bahan introspeksi pribadi.


Selamat menulis, semoga bermanfaat!

Friday, September 24, 2010

Wajah Tuhan




WAJAH TUHAN
Ria Jumriati

Sejak Dinda mulai mengerti apa arti nasehat. Kebanyakan hal hal baik terlontar dari bibir Ibu. Meski peran Ayah dan guru di sekolah juga tak bisa diabaikan. Banyak hal baik yang dipelajari dari banyak orang di tahun tahun pertama kehidupannya. Tapi terbanyak ditemui pada Ibu.

Dari mulai Dinda memejamkan mata di malam hari, hingga terbangun di saat subuh. Yang pertama kali didengar adalah anjuran Ibu untuk mandi dan menunaikan sholat. Berdoa untuk sarapan lalu berangkat sekolah juga disertai doa. Dan serangkaian pesan untuk mengerjakan segala yang baik di hidup ini. Ibu selalu memastikan bahwa setiap langkah yang dijalani di hidup ini harus disertai dengan doa. Karena doa mendekatkan kita pada Allah SWT.

Dinda kecil pun lambat laun mulai berpikir. Apa yang di inginkan Ibu kelak untuk hidupnya. Siapa yang membayar Ibu untuk semua hal baik yang dilakukannya. Pertanyaan itupun terluncur saat Ibu baru saja selesai menyertai doa malam Dinda.

“Ibu, mengapa kita harus selalu berdoa ?” Tanya Dinda

”Karena dalam doa, kita selalu mengingat Allah”

”Seperti apa rupa Allah, Bu?”


Ibu terdiam sejenak, lalu tersenyum bijak “Tidak bisa digambarkan, tapi segala hal baik di dunia dan akhirat adalah cerminan dari Allah SWT”
Dinda pun terdiam sambil menatap dalam wajah Ibunya.


“Lalu bagaimana dengan Ibu ? Ibu juga mengajarkan semua hal baik di hidup ini. Apakah kira kira wajah Tuhan seperti Ibu? Tanyanya lugu. Lagi lagi Ibu tersenyum.


“Tidak Nak, menjadi seorang Ibu berarti pengemban tugas dari Allah untuk menjadikan seorang anak tumbuh sebagai manusia yang baik.


”Lalu apa yang diberikan Allah kepada Ibu, adakah upah yang diberikanNYA ? Seperti Ayah menerima gaji dari hasil kerjanya setiap bulan ? Seperti aku yang mendapat nilai baik ketika sudah belajar dengan benar ?”


“Mungkin, Allah SWT akan mempersiapkan sebuah negeri terindah untukmu, meski Ibu tak bisa menemanimu kelak. Tapi ketahuilah Nak, kerjasama tertinggi yang pernah ada di dunia ini adalah antara Allah SWT dan para Ibu yang mau memikul tanggung jawabnya. Dan tak ada upah terbesar melebihi yang Allah berikan kepada semua wanita yang tulus mengemban peran sebagai Ibu”

Demikian, Ibu menutup tanya Dinda kecil yang terus mengimajinasikan senyum Tuhan yang terpantul jelas di senyum Ibunya.




“Barangsiapa yg diberi cobaan dengan anak perempuan kemudian ia berbuat baik pada mereka maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.” (Aisyah r.a)

Thursday, September 23, 2010

Laki laki Bersimbah Mutiara


LAKI LAKI BERSIMBAH MUTIARA
Oleh : Ria Jumriati


Kacau. Segenap mata memandang hanya kesan carut marut yang terlihat. Tak ada lagi keseimbangan. Timpang di segala aspek kehidupan. Kekufuran dan kemungkaran menjadi bagian terbesar setiap detak jantung hidup. Kegelisahan merajai segala hal yang suci, tak ada lagi gaung doa yang memantul terkabul. Meski dalam kumpulan 50 orang berhati putih memanjat akan segala hal baik, namun tak ada lagi celah bagi telinga Sang Maha Pendengar. Tertutup dan gelap !. Raja dan Ratu bersekutu pada dunia kemuraman, memuja angkara murka dan memerintahkan para menteri untuk menjalankan pemerintahan dalam naungan bendera kejahatan. Lalu bergemalah khotbah-khotbah palsu. Kemunafikan menjadi tiang utama setiap kelimbungan yang ada. Cukai dan upeti semakin mencekik kaum papa. Jeritan dan tangis mereka adalah alunan lagu merdu bagi para pemimpin bangsa. Kemana berlari ? kemana mengadu ? buntu ! Keadilan semakin buram dan perlahan padam. Naik kan harga sembako ! Masa bodoh mereka bisa beli atau tidak ! peduli setan dengan kelaparan, busung lapar dan tetek bengkek penderitaan orang kecil. Yang penting bendera kejahatan tetap berkibar dibawah seringai ganas para pemimpin dan menteri menteri nya.

Kemudian Sang Raja Perkasa datang. Konon memberi segala kemakmuran dan pencerahan pada dunia yang tengah carut marut. Ia bergerak memberi kekurangan materi dan hulu hingga hilir dunia. Memiliki kekuasan memerintah bumi dan langit untuk menurunkan hujan yang membawa berkah hasil bumi hingga musim kemarau berkepanjangan yang menyiksa. Lewat tangannya banyak sekali muncul keajaiban dan sihir kasat mata yang sulit untuk dibantah. Ia memiliki kelebihan Sang Illahi namun berhati besi dan bermisi merusak segala yang hakiki. Namun takdirnya memang harus ada pada rotasi kehidupan fana ini. Karena disinilah ia akan bermukim dan hancur pada saat datang masa pencerahan yang telah dijanjikan olehNya. Lalu kapan masa pencerahan itu? Sekumpulan orang-orang dalam lingkar suci yang kian mengecil, kerap mempertanyakan itu. Dan ia pun datang dengan seriangi ganasnya.

“Aku lah pencerahan itu ! Kenapa harus mencari yang lain ?” Serunya angkuh.

“Tapi ajaranmu menyesatkan ! kami tidak mau mengikutinya” Salah seorang berkata

mantap. Lalu Si Penguasa itu pun marah dan memotong tubuh pembangkang itu menjadi dua bagian hanya dengan gerakan pelan pada tangannya. Semua menjerit. Semua berlari. Ia pun tertawa terbahak – bahak, hingga menimbulkan keretakan merata pada seluruh pijakan bumi. Sebagian orang-orang itu terperosok jatuh dan tak ada pertolongan. Ia pun tertawa bangga dan kembali menantang siapa saja yang tak mau menyembahnya. Ia lalu kian melebarkan sayap kekuasaannya. Menebar fitnah pada kebenaran, menghalalkan segala yang haram serta membenarkan kebatilan. Pencurian, pelacuran dan segala macam bentuk kemaksiatan tercipta dalam kemasan premium yang canggih dan membingungkan. Benarkah ini untuk diikuti ? segala macam tata bahasa dan propaganda menyesatkan namun terkaji secara professional silih berganti menggoyahkan kelimbungan pada sebagian kelompok yang tak punya keyakinan kuat. Lalu merekapun terhanyut. Si Penguasa itu kembali tertawa dalam bahak kemenangannya. Disetiap pijakan bumi yang disinggahinya, ia kerap mengangkat kacung-kacung untuk menebarkan ajaran sesatnya. Embargo berlaku pada siapa yang menentang. Perang menjadi pilihan terfavorite untuk siapa yang berani menantang. Tak ada kedamaian. Meski kemakmuran mudah diberikannya namun ia menebar virus yang menggerogoti moral kehidupan pada tatanan yang seharusnya. Ada yang sadar namun ada yang terus terlena pada kebobrokan itu. Namun yang tersadar itu kian menipis jumlahnya, dan terus mendapat gempuran dari para kacung-kacung si penguasa itu. Saat itu para pendoa berhati bersih hanya merindukan satu hal yaitu kematian.

Tak ada satu pun yang dapat menandingi kehebatannya. Ia berkuasa bak Pencipta Alam Semesta. Membunuh orang yang membencinya bahkan menghidupkannya kembali. Mengkloning manusia–manusia baik untuk diisi jiwa sesat ciptaannya. Setiap menit terlahir ksatria-ksatria hitam dari rahim kelam yang dimilikinya. Kian hari jumlahnya kian banyak hingga menutupi tiga perempat bumi dengan segala hal busuk yang tak mungkin terlihat dan tercium oleh hati yang bersih. Lalu berapakah jumlah mereka dibanding kstaria hitam milik si penguasa bejat itu ? Meski semakin mengecil mereka tetaplah harus ada, tetap harus bertahan karena memang begitulah karmanya. Harus selalu ada setitik putih diantara kepekatan yang menyelimuti. Harus ada secercah sinar diantara kerajaan gelap yang menguasai.

Penjara terisi oleh orang-orang baik yang terfitnah secara keji. Anak-anak mendurhakai orangtuanya, pelacuran adalah hal paling bergengsi dan diminati. Tak ada lagi aurat yang tertutup. Tak lagi ditemui label halal pada setiap makanan dan minuman. Pengkhotbah palsu sibuk mencari kemakmuran dengan menjual ayat-ayat palsu. Penguasa lalim semakin giat mencekik rakyat dengan segala kebijakan curang yang begitu gampangnya mereka buat. Hanya dengan sekali membubuhkan tanda tangan maka nyanyian kesengsaraan akan segera terdengar dari segala penjuru bumi. Namun ditelinga mereka begitu merdu terdengar dan selalu haus akan jeritan dan rintihan seperti itu. Tapi laporan inilah yang di harapkan oleh si penguasa itu. Sampai kapan ? jerit sekelompok kecil itu.

Diantara kebimbangan dan gonjang – ganjing yang tak ada habisnya. Seseorang dalam kelelahan yang sangat mencoba mencapai bulan. Ia hampir lelah memanjat, selalu kehabisan energy untuk menghadapi keangkara murkaan yang kian merajalela. Namun ia tetap bertahan dalam tiang kebenaran, meski setiap saat si penguasa dan kstaria-kstaria hitamnya selalu berusaha untuk merobohkan. Dan ia tetap berusaha mencapai bulan hingga kelelahan dan tertidur dalam naungan kegelapan.

Hingga suatu ketika….di ufuk timur di atas kemegahan menara putih, datang seorang berpakaian lapis dua berwarna kuning muda. Ia merentangkan kedua tangannya diatas dua sayap malaikat yang menyertainya. Ketika ia merundukkan kepalanya, butiran keringat berjatuhan dan begitu menengadahkan kepalanya, butiran seperti mutiara berhamburan di sekitarnya. Laki laki itu bersimbah mutiara serta pendaran berjuta cahaya. Siapa dia ? Sekelompok kecil itu tersenyum dalam keriangan yang tak berkesudahan. Mereka yang berdiri pada barisan putih senantiasa merindukan untuk disentuh olehnya. Ingin menjabat tangannya dan merasakan aroma Firdaus yang tak pernah lepas dari segenap aura yang dimilikinya. Ia datang memberi sinar pada kegelapan yang tinggal menyisakan satu titik putih di permukaan bumi. Lalu semua menjadi terang benderang, damai sejahtera dan penuh berkah serta rahmat dalam seketika. Lalu kemana ksatria hitam dan kacung – kacung rakus itu ? Mereka berlari tunggang langgang begitu melihat bayangan “Laki Laki” itu, aroma wangi yang ditebarnya justru berbau busuk di hidung mereka. Hingga tak kuasa dan mereka pun terkulai mati tanpa upaya perlawanan sama sekali. Begitu halnya dengan si penguasa lalim itu, raja biadab yang memaksa setiap orang untuk menyembahnya. Ia pun berlari menghindari “Laki laki” agung itu. Misi kedatangannya adalah untuk melenyapkan si penguasa itu, namun sekali lagi tidak dengan kekerasan, bukan dengan mengangkat senjata apalagi mengerahkan jutaan pasukan untuk menggempurnya. “Laki Laki” itu terlalu agung untuk berurusan dengan darah meski bertujuan mulia. Ia hanya menggunakan sorot matanya. Sorot mata yang begitu berkharisma hingga dapat mencairkan si penguasa bak garam yang tersiram air, seperti mentega yang meleleh pasrah diatas kobaran api. Ia pun tak bersisa sama sekali. Hilang dari muka bumi dan selesai sudah riwayat segenap kebiadaban dan keangkara murkaannya. Lalu semua menjadi hijau, kedamaian terserap diseluruh penjuru negeri dan………………………….

Si pemanjat bulan itu ternyata belum pernah mencapai tujuannya. Belum lagi setengah jalan dilewatinya. Ia tertidur. Ia terlalu lelah berharap tentang sebuah pencerahan. Ia pun bermimpi tentang “Laki Laki Bersimbah Mutiara” Oooo…masih jauh di atas bulan bahkan lebih tinggi dari lapisan langit ketiga diantara tujuh lapis yang tercipta. Dimana dia ? kapan ia datang ? Oooo…ternyata kengkara murkaan ini masih terlalu lama untuk dirasakan, dilewati dan dialami. Benarkah masih terlalu lama ?

TAMAT


(Diilhami dari Hadist Nabi Muhammad SAW mengenai kejadian-kejadian menjelang hari kiamat tiba)

Menyingkap Makna Cinta Di Balik Kata


Saya menyukai tulisan ini Bp. Miftahur Rahman, mohon izin untuk menuliskan di blog saya ini, Semoga menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi yang mampir membacanya.


Menyingkap Makna Cinta Di Balik Kata
Oleh : Miftahur Rahman el-Banjary


Prolog

Seringkali cinta melampaui batas kesadaran dan logika manusia. Pada tingkat tahapan tertentu, seorang pencinta dengan sukarela menghambakan dirinya atas nama keagungan cinta. Tak mengherankan, ketika seseorang mengatakan kepada Qais, "Wahai Qais, sesungguhnya cintamu kepada Laila telah membuatmu gila." Qais pun menjawab, "Bahkan cintaku kepada Laila, lebih gila daripada orang gila. Jika orang gila bisa sembuh dari penyakit gilanya, sedangkan cintaku tidaklah sembuh, melainkan bertambah semakin gila."

Itulah cinta. Ia seperti badai. Kau tak melihatnya, namun kau merasakannya. Ia begitu kuat, namun tak terlihat. Ia laksana api unggun. Kau hanya bisa menari disekelilingnya, namun kau tak mampu membenamkan dirimu ke dalamnya. Ia bagaikan udara. Kau menghirupnya, namun tak menguasainya. Ia laksana air penghilang dahaga, sekaligus mampu menenggelamkan pemiliknya. Itulah cinta. Siapapun yang memasuki wilayah cinta, hanya akan ada satu rasa, yaitu keterpukauan dan kehabisan kata-kata untuk mengurainya. Ia akan larut dalam samudera rasa nan mempesona.
Sejatinya cinta sudah ada semenjak alam azali tercipta. Dan legenda cinta menjadi topik hangat yang senantiasa dibicarakan dari masa ke masa dalam kurun peradaban sejarah dunia. Tampaknya ia memang sengaja diciptakan dan dikekalkan untuk menghiasi kehidupan manusia. Tanpa cinta, sungguh kehidupan ini terasa hampa. Cintalah yang mengisi serial kehidupan ini menjadi indah dan mempesona. Cinta adalah fitrah manusia. Kekuatannya mampu menggoncangkan dan menaklukan dunia. Namun, tak seorang pun tahu apa hakekat sesungguhnya. Mereka selalu memperdebatkan apakah cinta itu rasa ataukah jiwa?

Dengan demikian, jadilah manusia sepanjang sejarah tak pernah sepakat hanya untuk mendefenisikan sebuah kata tentang cinta. Sehingga Ibnu Hazm pernah berkata: "Cinta laksana sebutir mutiara yang memancarkan cahaya disetiap sudutnya. Setiap orang hanya mampu melihat secercah cahaya tersebut dari pancaran setiap sudutnya, sehingga mereka selalu berbeda pandangan tentang hakekat cinta." Para penyair dan pujangga pun tak pernah kehabisan merangkai kata-kata indah untuk memujanya. Lantas, dari sudut manakah kita bisa memahami cinta?

Kali ini saya akan mengajak Anda mendalami makna cinta dari asal jadian katanya yang terdapat dalam al-Qur'an. Di dalam Al-Qur'an makna cinta disebutkan berulang-ulang dengan beragam diksi kata yang berbeda-beda. Kadangkala menggunakan lafadz al-hubb, al wudd, al-khullah. Dan kadang pula dengan lafadz al-'isyq, al-ulfah, al-wijdan, dan al-istimalah. Kendatipun dengan penyebutan diksi yang berbeda, namun semuanya menunjuk pada satu makna, yaitu kasih sayang. Tema pembahasan ini pernah saya tulis dalam sebuah artiekel disebuah tabloid mahasiswa pada tahun 2004 yang lalu. Barangkali tak ada salahnya pada kajian sastra kali ini, saya kembali mengupas singkat makna cinta dibalik kata ini dengan pendekatan Linguistik Qur'ani. Kendatipun singkat, semoga bermanfaat.

Rahasia Makna Dibalik Kata Cinta

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauzi, perbedaan lafadz-lafadz tersebut menunjuk kepada tingkatan cinta dan pesan khusus yang ingin disampaikannya. Sebagian para pakar bahasa membagi peringkat dan tahapan cinta berdasarkan penggunaan lafadz-lafadz tersebut. Ada yang membagi menjadi tujuh, dan adapula yang membaginya menjadi enam. Berikut makna cinta berdasarkan peringkat urutannya :

1.Al- Mailun

Dalam kamus bahasa Arab, kata yang terdiri dari tiga huruf, ( mim, alif, dan lam) menunjuk kepada pengertian miring atau condong. Jadi, al-mailun bisa diartikan kecenderungan, tendensi, atau ketertarikan. Cinta disebut dengan al-mailun, sebab ia menarik jiwa orang mencintainya. Harta benda juga disebut dengan maalun, sebab sifatnya yang menarik hati bagi siapa saja untuk memilikinya. Seringkali rasa ketertarikan akan menumbuhkan rasa simpati dan kekaguman. Dengan demikian, tak jarang orang yang bersimpati akan berusaha mengetahui sebanyak mungkin informasi orang yang dikaguminya, baik itu namanya, alamatnya, sifat-sifatnya, kesukaannya, dan apapun yang berhubungan dengan orang itu. Tampaknya awal dari cinta selalu dimulai dari sebuah perkenalan dan pendekatan, sehingga muncullah pepatah, "Tak kenal makanya tak cinta, tak cinta maka tak sayang."

Rasa ketertarikan tersebut, bisa disebabkan oleh kepribadian, kebaikan, ketulusan, prestasi, kelebihan, kecantikan, kekayaan ataupun jabatan. Namun, sekali lagi bahwa tingkatan al-mailun ini masih pada tataran rasa simpati dan kekaguman. Sifatnya statis dan mudah berubah. Artinya, bila hal-hal yang menyebabkan kekaguman itu tidak lagi melekat pada orang tersebut, maka akan menyebabkan pudar pula rasa kekagumannya. Ada orang yang begitu tertarik dengan kecantikan seorang perempuan, misalnya. Pada saat kecantikan itu mulai memudar, maka pudar pulalah rasa ketertarikannya. Atau, ada pula orang yang kagum dengan kepribadian seseorang. Namun, disaat orang yang dikagumi tersebut melakukan hal yang tercela, maka rasa kekaguman itu pun sirna. Begitupula dengan sifat kebaikan, kekayaan atau pun jabatan. Tak mengherankan, jika hari ini kita menyimpan rasa kekaguman kepada seorang selebritis atau tokoh tertentu, akan tetapi pada saat lain rasa kekaguman itu memudar dan sirna.

Cinta versi ini, lebih tepatnya disebut dengan rasa simpati atau sekedar perasaan suka. Oleh karena itulah, boleh dikatakan sifat al-mailun ini merupakan awal tingkatan dari peringkat-peringkat cinta. Sebab cinta semacam ini masih membutuhkan dan mendasarkan pada alasan-alasan tertentu dan sebab akibat untuk mencintai. Dan lebih sering pula kita menyebutnya dengan sebutan cinta semu. Akan tetapi, jika rasa cinta tersebut semakin kuat melekat, maka ia akan meningkat pada peringkat yang kedua, yaitu al-Qurth.

2. Al-Qurth

Ada banyak kata mengungkap makna dibalik cinta. Salah satunya adalah al-Qurth. Al-Qurth mengandung arti gemerincing anting-anting. Cinta dinisbahkan dengan kata al-Qurth, sebab orang yang sedang dirundung penyakit cinta, sejatinya hati dan perasaannya layaknya seperti anting-anting. Sifat anting-anting yang senantiasa bergerak-gerak di telinga orang yang memakainya, cenderung menggoncang-menggoncang kejiwaan orang yang kasmaran. Perasaannya dan jiwanya seringkali diliputi perasaan tak menentu. Bahagia, khawatir, rindu, berkecamuk menjadi satu. Kondisi kejiwaan semacam ini merupakan reaksi dari peringkat pertama, al-mailun.

Rasa cinta yang mendalam, bisa memunculkan dorongan hati yang kuat sekali untuk bertemu, selalu berdekatan dan berdampingan dengan orang dicintainya. Bila dorongan tersebut tak terpenuhi, maka akan menjadikan si pemilik hati tersebut akan merasakan kegelisahan. Jadilah, semua kenikmatan dan kebahagian terasa hampa. Malam terasa sangat panjang. Siang terasa melelahkan. Malam selalu terbayang. Dan siang pun selalu terkenang. Inilah yang kemudian memunculkan perasaan yang kita sebut dengan kerinduan.

Kerinduan yang memuncak, namun tak tercapai seringkali membuat hati pemiliknya sangat tersiksa. Nuruddin al- Jami, seorang pujangga besar menggambarkan kerinduan Siti Zulaikha terhadap nabi Yusuf as, dengan kata-katanya, "Bibirnya sibuk mengobrol dengan dayang-dayangnya, sementara hatinya mengaduh dalam keluhan, lidahnya berbicara dengan mereka, sementara seribu lidah api membakar dadanya dengan penuh nafsu. Matanya ada pada wajah orang lain, tapi semua perasaannya ada pada bayangan itu. Kendali hatinya berada di tangannya, tetapi dimanakah hatinya? Ia ada ditempat si pemikat hati itu berada."

Jika peringkat pertama dari al-Mailun merupakan awal tumbuhnya bunga-bunga cinta, maka al-Qurth adalah kuncupnya yang mulai mekar. Bila hati yang menampung cinta sudah tak mampu lagi bertahan. Kerinduan semakin memuncak. Maka perasaan tersebut akan meningkat ke peringkat yang ketiga, yaitu al-hubb. Inilah yang kemudian menjadikan hati terasa dipenuhi taman-taman bunga yang tampak mekar mempesona. Bagi orang yang dirundung cinta, apapun akan tampak terlihat indah.

3. Al-Hubb

Al-hubb mengandung banyak makna dalam bahasa Arab. Diantaranya, ia bermakna letupan gelembung-gelembung air. Jika kita memperhatikan air yang sedang mendidih, maka disana akan muncul gelembung- gelembung airnya yang meletup-letup. Al-hubb menggambarkan nuansa psikologis pecinta yang jiwa dan perasaannya meletup-meletup, laksana letupan gelembung-gelembung air. Hati dan perasaan orang yang sedang dirundung jatuh cinta, seringkali tak menentu. Indahnya tak terperikan, namun maknanya tak mampu diungkapkan dengan lisan, maupun tulisan. Mustafa Lutfi Manfaluthi, seorang novelis besar di Mesir yang menyadur sebuah novel Perancis yang berjudul Majdolin. Di dalam salah satu dialog tokoh utamanya, Steven mengungkapkan isi hatinya kepada kekasihnya, Majdolin dengan ungkapannya yang terkenal: "Aku mencintaimu dengan sepenuh jiwa. Cinta yang menjadikan pena dan dan kata tak berdaya. Karena pena hanyalah tetesan tinta yang berasal dari benda-benda bumi. Sedangkan cinta adalah roh dari para arwah malaikat surgawi".
Dalam makna al-hubb secara implisit terkandung makna penguasaan terhadap diri orang yang dicintainya. Oleh karena itulah, ketika Imaratul Aziz, Zulaikha ingin membujuk nabi Yusuf memadu cinta dengannya, al-Qur'an menggunakan redaksi kata "Qad syaghafahaa hubban." Redaksi tersebut menggambarkan bahwa betapa cinta Zulaikha adalah cinta yang dilandasi syahwat nafsu, sehingga ketika ia tak berhasil membujuk nabi Yusuf, Zulaikha pun nekat mengurung Yusuf di rumahnya, dan mengajaknya berselingkuh. Akal sehat Zulaikha telah dikuasai oleh dorongan nafsunya. Sehingga ia tak lagi memperdulikan derajatnya sebagai seorang istri pembesar terhormat waktu itu. (Rujuk kembali, Qs. Yusuf: 30 ). Dalam ayat lain, makna al-hubb yang identik dan sejajar dengan kesenangan hawa nafsu terdapat dalam surah al-Imran ayat 14. Dalam surah tersebut, maknanya al-hubb tidak saja terbatas pada cinta lawan jenis, akan tetapi juga mencakup cinta harta, cinta kekuasaan, dan cinta keluarga, anak-anak dan sebagainya. (Qs. Ali Imran: 14).

Disebabkan cinta pada tahapan al-hubb ini bermakna penguasaan, maka tak jarang menimbulkan rasa cemburu bagi para pencintanya, jika cinta tersebut berpindah ke hati lain. Sifat al-hubb ini hanya menginginkan cinta murni yang tak tak boleh terbagi ke lain hati. Semakin besar rasa cemburu, dapat memberikan indikasi sebegitu besar pula kadar cintanya. Namun, kerapkali juga rasa cemburu yang berlebihan akan mengakibatkan ketersiksaan, baik bagi orang mencintai maupun yang dicintai, sehingga jadilah cinta yang seharusnya membuat kebahagiaan, berubah menjadi derita dan kesengsaraan.

Makna kedua dari al-hubb, juga bisa berarti biji-bijian. Dari makna inilah kita bisa mendeskripsikan sifat cinta itu seperti layaknya biji-bijian. Sifat cinta senantiasa hidup. Ia akan tumbuh dan bertunas, hingga akhirnya menjadi pohon kukuh yang tak akan roboh, kendatipun diterjang angin badai sekalipun. Cinta bisa hidup dimanapun ia disemai, selama ladangnya yang menampungnya subur menumbuhkan dan memeliharanya. Jika cinta yang disemai senantiasa dipelihara, maka ia akan tumbuh subur dan memunculkan bunga-bunga indah mempesona yang menebarkan aroma semerbak wewangian surgawi.

4. Asyiqun

Pada tahapan selanjutnya cinta juga dinamai dengan asyiqun. Asyiqun bisa bermakna melekat. Orang yang mencapai peringkat ini, cintanya kepada kekasihnya tidak bisa lagi dipisahkan oleh siapapun. Muncullah ungkapan, gunung kan kudaki, dan lautan kan kuseberangi, demi menggapai kesempurnaan cinta. Bahkan, kematian sekalipun bukanlah pengahalang menuju keabadian cinta. Oleh karena itulah, sang pencintanya rela mengorbankan apa saja demi orang yang dicintanya.

Tak ada rintangan yang besar bagi sang pencinta. Semuar rintangan dan hambatan dilalui dengan mudah. Sehingga Ibnu Qudamah mendefinisikan cinta dengan latar perubahan. Cinta mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, yang pelit menjadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang kasar jadi lembut, yang pesimis menjadi optimis, yang lemah menjadi kuat. Itulah cinta.


5.Al-Habariyah

Tahapan cinta yang kelima adalah al-habariyah. Al-Habariyah bermakna tong besar. Makna ini menunujuk kepada sifat hati yang menampung persemayaman cinta tersebut. Sebagaimana yang dikatakan Kahlil Gibran, "Jika suara adalah kata-kata untuk mengungkap rasa, maka cinta butuh hati untuk singgasananya." Hati yang dipenuhi oleh rasa cinta, seumpama sebuah tong besar yang dipenuhi oleh air. Manakala air itu t'lah memenuhi tong besar tersebut. Sekiranya ditambahkan juga, niscaya air tersebut hanya akan tumpah. Seseorang yang t'lah mencapai derajat cinta ini, tidak akan dapat menggantikan siapapun untuk menggantikan posisi kekasihnya. Hal semacam ini, dapat kita lihat dari perkataan Qais yang mengatakan bahwa sekiranya bidadari sekalipun yang datang untuk menggantikan Laila, niscaya dia tidak akan berpaling dari cintanya kepada kekasihnya itu.

Jelaslah, bahwa seseorang tidak akan mampu mencintai dua orang kekasih dengan porsi cinta yang sama. Demikianlah baginda Rasulullah saw pernah mengadukan perihalnya kepada Allah, bahwa hati beliau tidak adil dalam mencintai istri-istri beliau. Cintanya kepada Aisyah melebihi cinta terhadap para istri-istri beliau yang lain. Dan Allah pun tidak membebani beliau dengan menyamakan perasaan cinta tersebut. Dalam Al-Qur'an sendiri, Allah menyatakan bahwa manusia hanya mempunyai satu hati. Jika hati itu mengarah ke arah barat, maka ia akan membelakangi arah timur, dan begitupun sebaliknya. Seorang sahabat penulis, El-Fandi yang menulis novel berjudul

"Syair-Syair Cinta Pejuang Andalus," menuliskan satu bait syair, "Sekiranya aku mempunyai dua hati, niscaya akan kubagi satu hati untukmu. Namun, Tuhan hanya memberikan satu hati untukku."


6.Shababah

Shababah artinya garam. Jika kecenderungan cinta semakin kuat, maka ia disebut dengan shababah. Apa jadinya sekiranya masakan tanpa garam, tentunya ada sesuatu yang terasa kurang. Begitupula orang yang rasa ketertarikannya sangat kuat, merasakan kehampaan hidup tanpa kehadiran kekasihnya. Jiwanya sudah seakan sudah menyatu dengan orang yang dicintainya. Tingkat kecintaan ini biasanya seringkali dirasakan oleh orang-orang yang mencapai peringkat mahabbah dalam maqamat tasawuf.

Seorang wanita ahli sufi, Rabiatul 'Adawiyah dipuncak kecintaan dengan Allah, menulis bait-bait syairnya: "Aku mencintaimu disebabkan dua cinta. Cinta karena nafsu, dan cinta sejati. Cinta nafsu, karena aku berusaha mencintaimu. Sedangkan cinta sejati engkau t'lah menyingkapkan hijab-Mu, sehingga aku bisa menandang-Mu."
Orang-orang sufi yang mencapai derajat cinta ini sering mengatakan, "Tidaklah aku melihat diriku, melainkan melihat-Nya. Kemana pun kuhadapkan wajahku, disanalah ada wajah-Nya. Aku adalah dia, dan dia adalah aku." Pernyataan semacam ini, hanya merupakan ekspresi tingkat kecintaan yang diluar alam sadar sang pencintanya.

7. Tatayum

Tingkatan cinta yang terakhir adalah tatayum yang berarti penghambaan dan perbudakan. Tak jarang orang yang lemah imannya, akan menjadikan cinta sebagai sesembahannya. Bahkan, ia menganggap kematian atas nama cinta merupakan bentuk keagungan dari cinta. Dalam syairnya Kahlil Gibran mengatakan, "Biarkan aku mati dengan pisau yang engkau tusukkan di dadaku. Jangan engkau cabut pisau ini di dadaku, hanya karena kau ingin aku tetap hidup. Tapi cabutlah pisau ini, agar aku mati dengan kedamaian dan kelembutan cintamu."

Epilog

Kesimpulan dari artikel ini adalah makna cinta itu tak terbatas, sebagaimana tak terbatasnya kekuatan cinta yang maha dahsyat. Tingkatan-tingkatan cinta tersebut diatas hanyalah pembagian-pembagian secara keberagamaan sinonim mufradat kata-katanya dalam bahasa Arab. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Arab yang sejatinya menjadi bahasa Al-Qur'an, bahasa akhir zaman sangatlah kaya dengan keragaman diksi. Pembahasan ini sebenarnya jauh dari sempurna, lantaran keterbatasan ilmu si penulisnya. Namun, pada intinya yang ingin penulis sampaikan disini bahwa cinta begitu luar biasa, sebab ia berasal dari Allah yang Maha Luar Biasa pula. Dan sesungguhnya tidak ada cinta sejati, melainkan cinta yang seorang hamba kepada Tuhan-Nya.

Oleh karena itu, hendaklah puncak kecintaan tertinggi hanya pantas dan layak dipersembahkan kepada Sang Pencipta, Allah Azza Wajalla. Bentuk kecintaan tersebut adalah dengan sepenuh jiwa tunduk dan mengikuti semua perintah dan aturan-aturan-Nya. (Rujuk, Qs. Ali Imran: 31). Dan dalam sebuah hadits baginda Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya tidaklah sempurna iman kalian, sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anak-anaknya." Dalam makna hadits yang sama, baginda Rasulullah saw bersabda: Al-mar'u ma'a man ahabb "Seseorang itu akan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama orang dicintainya.


Dari sinilah dapat kita simpulkan bahwa cinta adalah ketaatan dan kebersamaan. Bila keduanya dapat terkumpul dalam diri seorang hamba, maka ia akan mencapai derajat muhibbin. Dalam istilah tasawuf disebut dengan maqam mahabbah. Semoga Allah menganugerahkan peringkat cinta tertinggi tersebut kepada kita. Karena kekuatan cinta adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita, sebab kekuatan itu tidak akan pernah direbut oleh malaikat sekalipun.



Pinggiran kota Cairo , 26 Des 09
Pukul 10.11 AM.

Thursday, June 10, 2010

Buku "KETIKA WANITA MENSYUKURI APA YANG ADA - The Moslem's Chicken Soup






Judul : Ketika Wanita Mensyukuri Apa Yang Ada (Moslem's Chicken Soup)
Penulis : RIA JUMRIATI
Penerbit : Inti Medina (Group 3 Serangkai)
Seharga : Rp. 26.000,-
Setebal : 98 halaman



Kesukaan pada buku buku bergenre psikologi populer seperti Chicken Soup, menerbit kan obsesi tersendiri di benak saya untuk menciptakan kreasi sejenis namun bernuansa muslim. Terdiri dari 3 rangkaian bab yang merefleksikan diri seorang wanita pada umumnya. Tentang Kebesaran Cinta dan Anugerah Terindah Menjadi Ibu, tertuang buliran perenungan dalam bab "DUNIA HATI DAN IMAJINASI.

Melewati pergelutan hidup, mencinta, dicinta, dikhianati, penyesalan, kebesaran jiwa, persahabatan dan segala pernik kehidupan yang banyak melibatkan rasa dan naluri seorang wanita, teruang indah dalam Bab "BELAHAN JIWA".

Lalu keindahan hidup yang terhias doa dan ketawakkalan sebagai Hamba Allah yang mulia, dan percaya pada mukjizat dan kekuatan doa. Semua terangkum penuh hikmah dalam Bab "KEKUATAN SEBUAH DOA".


Semoga semua kisah bermakna perenungan yang ada didalamnya, bisa menjadi pembelajaran penuh kuyup hikmah.

Untuk pemesanan langsung dengan penulisnya, bisa menghubungi :

real2925@yahoo.com

Friday, April 16, 2010

Book Review - NOVEL DUNIA KRISTAL

BOOK REVIEW :

NOVEL DUNIA KRISTAL

Oleh Ria Jumriati - Jakarta, Indonesia
Ketua Harian & Kordinator WOL Indonesia

riajumriati

Pernahkah terpikirkan secara pasti tentang siapakah belahan jiwa kita sesungguhnya? sosok seperti apa yang kelak menjadi teman sehidup semati kita dalam mengarungi lautan kehidupan yang luas dengan banyak cobaan yang datang bersamanya? Tak pernah ada yang bisa memprediksi lalu lintas takdir yang terkadang berjalan tak sesuai peta kehidupan anak manusia, meski telah terancang sesempurna mungkin.



Hal itu yang dirasakan dan di alami Miranda. Bertahun tahun ia bergelut dengan segala dilema dan cintanya bersama Aksa yang berbeda kasta dengannya. Bertahun tahun, ia berusaha meyakinkan hatinya bahwa Aksa lah belahan jiwa bagi sebagian hatinya. Tapi ternyata takdir tak sepaham dengan keyakinannya. Ditambah keluarga Aksa yang memang tak pernah memberi restu pada keberadaannya. Lalu Miranda pun mencoba menerima sebentuk jiwa dan nafas cinta yang ternyata senada dengan mimpi dan harapannya. Kesungguhan cinta itu ditawarkan Mayong dan diterima dengan tulus oleh Miranda. Aksa pun terluka namun tak pernah bisa pasrah akan takdir yang memisahkannya dengan Miranda. Hingga kemudian Keisha terlahir dengan anugerah autisme sebagai bentuk cobaan cinta antara Mayong dan Miranda. Namun kehadiran Keisha yang menjadi penghuni tetap “DUNIA KRISTAL” justru memberi warna berbeda bagi hubungan special yang bisa terjalin indah dengan Mayong – Sang Ayah, lalu memberi kekuatan batin tersendiri bagi Miranda. Lalu adakah cela bagi Aksa untuk kembali merebut Miranda? Keinginan memiliki yang sangat tinggi dan cinta berlebih terkadang selalu menghadirkan kenekatan yang selalu menantang takdir yang telah digariskan oleh Nya. Mampu kah Aksa melepas Mayong dan merengkuh Miranda dan Keisha? Dan cukup sanggupkah Aksa menjadi pahlawan yang membawa Keisha dari dunia Autismenya?.



Novel tipis namun sarat makna ini, memang telah menjadi ciri khas penulisnya yang lebih mendahulukan isi dan hikmah bagi setiap tulisannya. Alur cerita yang mengharu biru di awal, memberi semangat di pertengahan dan pencerahan di bagian akhir telah menjadi kekuatan dan daya tarik tersendiri bagi Novel ini, yang semakin dihayati kata demi kata maka akan ramai ditemui pernik pernik kalimat perenungan tentang makna kehidupan, belahan jiwa dan cinta yang sesungguh. Sangat menarik untuk menjadi bacaan yang tak sekedar hiburan tapi banyak hikmah yang terkandung bersamanya. Begitulah, gaya bahasa yang telah menjadi ciri dari novelis Ria Jumriati dalam menuturkan setiap kalimat yang tertuang di ke-4 novel nya yang telah terbit yaitu : Sperma Buat Ratri, 5 Kelopak Mawar Berbisa, Bunga Bunga Bangkai dan Dunia Kristal.



JOIN - RIA dalam