Friday, May 27, 2011

Penikmat Emansipasi

PENIKMAT EMANSIPASI
Oleh : Ria Jumriati
(Dimuat di Majalah D'sari Edisi April 2011) 





Renata tersenyum memandangi cincin yang melingkari jari manisnya. Masa 3 tahun berpacaran dengan Nugros, akan segera diakhiri dengan pesta pernikahan yang telah di rancang sesuai impiannya. Satu tahapan methamorphosis sebentar lagi akan dilaluinya. Status baru dan istimewa bagi perjalanan hidup setiap perempuan, akan segera disandangnya. Ny Nugros , Akh, elegan sekali nama itu! Hati Renata semakin berbunga setiap harinya. Hingga suara suara sumbang. tak mungkin mampu mengoyak keputusannya. Ia cinta mati dengan pria jangkung itu. Selalu ada segudang maaf untuk segala bukti kelakuan Nugros yang menurut beberapa sahabat dekatnya, tidak setulus cinta Renata. Tapi ia memiliki keyakinan setinggi puncak Himalaya, kelak Nugros pasti berubah.

            "Menikah itu, bukan urusan sebulan dua bulan loh, Ren” Ujar Bella sahabat karibnya disuatu kesempatan.

            “Pasti dong, Makanya aku hanya mau menikah sekali seumur hidupku dengan Nugros” Timpal mantap.

            “Bukan keyakinanmu yang aku takutkan, tapi ke naifan mu menilai Nugros. Ia tahu betul memanfaatkan kelemahanmu. Cinta memang buta Ren, tapi tolong, biarkan logikamu tetap terbuka dan melihat laki laki seperti apa Nugros itu"

            “Aku sudah hapal semua sifat baik dan buruknya. Tenanglah Bel, tidak akan terjadi hal buruk pada hubungan kami”

“Pikirkan sekali lagi Ren, Nugros itu telah memiliki semua kartu trufmu dan sangat menikmati kelemahanmu"

            "Aku sangat mengenalnya Bel, dia memang seperti memanfaatkanku. Tapi aku suka semua itu! Malah aku merasa terdidik lebih mandiri” Sanggahnya bersemangat “Justru laki laki seperti Nugros lah yang aku dambakan selama ini, demokratis dan anti cemburu. Nugros memang terlalu kekanak kanakan. Pasti kebersamaan kami sebagai suami istri nanti, akan membuatnya lebih dewasa”

            "Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Ren. Tak ada maksud apapun, kecuali kebahagiaan untukmu. Jika Nugros tidak bisa berubah selama ini, apa yang akan kau harapkan nanti? Mengharap laki laki berubah setelah menikah, rasanya terlalu mustahil. Kebanyakan, malah sifat aslinya keluar semua saat sudah berumah tangga"

            "Tenanglah Bel, aku yakin bisa merubahnya!"

            "Kenapa tidak kau lakukan sekarang, mumpung masih pacaran. Kalau tidak ada itikad baiknya untuk berubah. Tanya kan hati kecilmu Ren, cukup sanggupkah harga dirimu terus di permainkan dan dimanfaatkan olehnya?"

            "Tapi Nugros tidak pernah selingkuh Bel, dia bahkan terlalu setia. Kalau cuma masalah pantas atau tidak pantas aku melakukan semua hal yang di inginkan Nugros. Bukankah itu konsekwensi logis dari emansipasi yang kita tuntut?"

            "Ada batasan emansipasi Ren, yang terjadi di hubunganmu dengan Nugros bukan lagi emansipasi. Tapi perbudakan!" Seloroh Bella pedas setengah putus asa menyadarkan karib sekaligus saudara sepupunya.

Renata hanya terdiam. Itu pembicaraan satu bulan lalu saat ia mengabarkan berita pertunangannya pada Bella. Meski Nugros belum terlalu siap, tapi akhirnya lumer juga ketika Renata memaksa. Sejak awal, Renatalah yang paling agresif. Ia bahkan yang mulai menyatakan cintanya pada Nugros, memberi perhatian dan memburu Nugros bak Irfan Bachdim.  Renata begitu memuja Nugros yang sering memanfaatkan cinta mati Renata di luar batas, dan tak pernah di sadarinya. Emansipasi memang terimplementasi sempurna dihubungan mereka, namun selalu menempatkan Renata pada posisi yang tak seharusnya. Misalnya, Renata lah yang harus menjemput Nugros saat pulang kantor, setiap sore ia harus menyewa joki dan berjuang menerobos macet jalur 3 in 1. Konon, rumah yang mereka beli bersama, ternyata lebih banyak uang Renata yang keluar, sementara Nugros hanya mau merenovasi pagar rumah. Untuk urusan sepele pun, jika jam tangannya rusak atau handphone terblokir Renatalah yang diserahkan Nugros untuk mengurusnya. Bill di restaurant, bayar bensin bahkan parkir yang hanya lima ribu rupiah, semua terogoh dari kocek Renata!.  Dan gadis itu tetap bahagia melakukannya. Nugros terlanjur dipilih hatinya atau telah meracuni hatinya? Hanya Renata lah yang bisa merasakan perbedaan itu. Tapi satu kelebihan Nugros di mata Renata, yang luar biasa menurutnya. Laki laki itu setia, anti mendua dan memberinya kebebasan bergaul dan berkarir setinggi yang ia mampu.

            Dan pernikahan pun terjadi. Seperti biasa, desas desus masih terjadi. Biaya pernikahan model apapun tak ada yang murah di zaman ini, dan semua biaya ternyata 80% nya terogoh dari tabungan Renata dan keluarganya, termasuk sumbangan dari keluarga Bella. Bahkan demi meredam gunjingan keluarga. Renata rela berbohong kalau uang tabungannya adalah pemberian Nugros. Tapi Renata terlihat sangat berbahagia di pesta pernikahannya. Ia sangat yakin dengan keputusannya dan berangkat atas nama cinta yang tulus. Namun, pernikahan adalah penyatuan dua ketulusan cinta dari dua prinsip anak manusia yang telah terbentuk begitu sempurna. Akan begitu banyak pertentangan dan pengorbanan jika satu pihak tak ingin prinsipnya yang telah begitu sempurna digoyah oleh pasangannya. Meski keyakinan sering berpihak pada kebaikan. Sangat perlu membuat analisa batin, bagi prilaku mendalam tentang siapa dan akan seperti apa pendamping kita kini dan nanti. Untuk itu, sangat perlu menempatkan logika yang selalu bekerja sesuai realita.

            Hampir satu tahun Renata menyandang statusnya sebagai Nyonya Nugros.  Ia masih bekerja dan bebas bergaul dengan sahabatnya dari kalangan manapun. Nugros pun tetap menjalani perannya sebagai suami yang baik, dan sejauh ini telah memenuhi harapan Renata.  Tak ada satu pun kegiatan Renata yang di larangnya. Bahkan Nyonya Nugros itu, terlihat lebih bebas setelah menikah. Konsekwensi logis pun terjadi, karir Renata mengalami lompatan drastis. Tahun ini, ia mendapat promosi sebagai Marketing Manager di perusahaannya bekerja.

            "Selamat Ren, aku bangga sekali dengan pencapaianmu " Ucap Saskia sambil memeluknya. Disusul Bella yang memberi ucapan serupa.

            "Pasti Nugros bangga sekali punya istri dengan karir cemerlang" Tambah Bella. Renata hanya tersenyum simpul.

            "Oya, katamu Nugros juga mau ambil S2? Jadi?" Tanya Saskia kemudian. Renata hanya menggeleng pelan sambil meneguk cappucinonya.

            "Ow, kenapa?" Tanya Bella penasaran. Ia yang sedari kecil akrab dengan Renata, langsung mencium gelagat kurang baik.

            "Menurutnya tidak lagi terlalu penting, toh penghasilanku dengan jabatan baru ini sudah sangat lumayan untuk menopang hidup keluarga kami"

            "Hah? tidak penting? Dia bilang begitu?" Bellah hanya menggeleng dengan senyum, sementara Saskia hanya menatap wajah Renata dengan kernyitan bingung.

            "Biarlah, yang penting dia setia dan tidak pecemburu, mendukung karirku dan memberiku kebebasan hingga aku bisa meraih apa yang aku inginkan” Tutup Renata membela suaminya. Kedua sahabatnya pun tak lagi berani berkomentar. Meski banyak hal yang ingin dimuntahkan Bella. Tapi ia sadar dan harus menghargai keputusan Renata. Jika Ia bisa sangat berbahagia dengan hal itu, apalagi yang harus dipermasalahkan.



            Dan Renata pun semakin sibuk menjalani karir barunya, kehidupan rumah tangganya berjalan seperti biasa. Tak ada lonjakan atau isu miring yang menerpa apalagi kehadiran orang ketiga. Renata bebas keluar kota mempromosikan produk produk di bawah tanggung jawabnya. Membuat proposal bisnis untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Dalam waktu singkat, Renata sangat berhasil sebagai Marketing Manager yang memiliki performance mendekati sempurna. Penghasilannya pun bertambah, fasilitas meningkat dan ia mulai dilirik banyak kompetitor dan jasa head hunter. Profilenya sering tampil di majalah dan Koran sebagai wanita muda yang sukses. Sementara Nugros, tetap santai dan adem ayem, namun tetap mendukung karir istrinya. Tak ada gunjingan secuil pun terlebih ketika Renata melakukan perjalanan keluar kota, bahkan luar negeri hingga berminggu minggu.  Sampai suatu ketika Nugros tak lagi melakukan aktivitas kerjanya seperti biasa. Ia hanya keluar rumah untuk bersantai di café, main bowling, nge-gym dan futsal. Setiba di rumah, dilanjutkan dengan bermalasan sambil bermain game online atau nonton dvd. Tak jarang, kelelahan Renata di sambut dengan dentuman suara game yang sangat menguji kesabaran Renata sebagai istri yang terlalu memuja suami.

             "Kenapa tidak masuk kantor lagi ?" Tanya Renata suatu pagi, saat Nugros tak juga beranjak dari tempat tidur dan  terus saja asyik dengan iPadnya.

            "Aku nggak kerja lagi" Ujarnya santai. Renata tersentak tak percaya, Dihampirinya suaminya sambil merampas benda ditangannya.

            "Kenapa Mas? Apa pantas aku kerja keras sementara kamu bermalas malasan dirumah? Apa nggak malu sama tetangga terlebih keluarga kita ?"

            "Aku sudah dipecat ! Mau di apakan lagi ?!  Jawab Nugros seenaknya.

            "Hah ? Kok bisa ? Apa masalahnya ? Tanya Renata kaget

            “Ah ! sudahlah gak usah banyak tanya !”

            “Cari kerjaan lagi dong, Mas !”

            "Malas lah! Semua udah terpenuhi, ngapain lagi aku kerja" Bentaknya keras lalu beranjak meninggalkan Renata yang langsung merasakan sakit luar biasa. Rasa sakit yang tak pernah ia rasakan sejak kebersamaannya bersama Nugros. Renata pun menangis. Ada sesal yang terlalu lambat dikenali benaknya.

            Dan waktu pun tetap berjalan seperti biasa, 24 jam waktu yang tersedia bagi Renata dan Nugros, tapi mereka menjalaninya dengan aktivitas bak bumi dan langit. Renata berusaha menenggelamkan kesedihan dan kekecewaannya dengan berbagai kesibukan di kantor. Sementara Nugros, semakin asyik menikmati kemenangan emansipasi yang tanpa sadar dituntut Renata terlalu tinggi. Kadang ego dan harga dirinya juga terusik oleh semakin tajam dan runcingnya karir Renata, tapi ia berusaha menumpulkan semua itu. Toh, Nugros tidak sendiri. Trend dan zaman semakin mendukung keputusannya untuk tidak buru buru mencari pekerjaan baru dan menjadi benalu bagi semua penghasilan dan fasilitas yang dimiliki istrinya. Perlahan, Nugros pun menemui komunitasnya di kubangan species sejenis di salah satu café langganan yang sama. Species Yos – Wajahnya terlalu standar untuk dipuja kaum hawa dan pengangguran berat. Tapi nyatanya ia malah mendapat modal seratus persen dari istrinya untuk menjalankan usaha warnet. Dan tak pernah serius dikelolanya. Lalu Andhika, berwajah ganteng bak peragawan catwalk kelas dunia. Hidup mewah bergelimang harta warisan mertua dan istrinya. Sering selingkuh dan pemabuk berat, tapi selalu mendapat pengampunan bersyarat dari istrinya, meski kadang syarat itu hanya sebuah isyarat yang tak berat berat amat untuk dilanggar. Dan Nugros tentunya. Komunitas penikmat emansipasi ini, selalu menggemakan tawa bebas penuh arti. Mungkin tawa itu bermakna terima kasih pada perjuangan Ibu Kartini !

            Tak seperti biasa, Renata tampak tak bersemangat saat berkumpul bersama sahabatnya. Dan selalu Bella yang pertama kali merasakan hal itu.

            ”Kenapa Ren, kamu sakit? Atau lagi sedih? Cerita dong” Bujuknya pelan. Renata hanya menggeleng pelan sambil mengaduk aduk minumannya.

            ”Ayolah Ren, jangan sedih sendirian. Mungkin ada yang bisa kita bantu” Timpal Saskia sambil menyentuh lengannya.

            ”Suamiku di pecat dari kantornya ” Ujarnya terisak. Bella dan Saskia saling memandang dengan tatapan bingung.

            ”Emm..dia kan cukup berpengalaman. Pasti gampang dapat kerjaan baru” Ujar Saskia menghibur.

            ”Masalahnya....dia tidak mau kerja lagi”

            ”Apa ??! Alasannya apa Ren, kok sampai tidak mau kerja lagi ?” Bella mulai terusik.

            ”Katanya, penghasilanku sudah cukup untuk menopang kehidupan keluarga kami, jadi dia mau menikmati hidup saja sekarang ini”

            ”What ?? Menikmati hidup ?!  Mata Bella melotot tak percaya.

            ”Walah, enak banget tuh cowok! Kok ya bisa bisa nya berkata begitu !” Seloroh Saskia spontan tapi langsung minta maaf pada Renata.

            ”Nggak apa apa Sas. Nugros memang makin keterlaluan” Timpalnya pelan. Sementara Bella hanya menarik nafas panjang

            ”Lalu apa yang akan kamu lakukan Ren ?”

            ”Mau di apakan lagi? Terima nasib saja lah”

            “Aku yakin kamu bisa merubahnya “ Bella meyakinkan.

            “Sepertinya susah. Benar katamu dulu, laki laki ketika sudah menikah semakin terlihat semua watak aslinya. Dan dulu aku terlalu naif untuk bisa merubahnya. Maaf kan aku ya Bel. Seandainya waktu bisa undo..”

Saskia dan Bella hanya saling menatap dengan wajah iba. Apa yang menimpa Renata, tentu menjadi pelajaran tersendiri bagi mereka untuk lebih berhati hati, agar tak terjebak pada species penikmat emansipasi belaka. Mereka tahu pasti, Renata tak mungkin mengambil langkah untuk bercerai, ia terlalu mencintai Nugros. Apapun perlakuan dan keputusan Nugros selalu dianggapnya sebagai pengorbanan cinta. Lagi pula tak ada alasan kuat untuk menempatkan Nugros sebagai terdakwa, hanya karena ia di PHK dan malas bekerja. Sedang untuk nafkah, sayangnya Renata terlanjur berikrar di awal. Ia hanya butuh cinta dan bukan harta. Dan inilah yang menjadi awal Nugros memanfaatkan segalanya.

Setiap takdir memiliki “blue print” dasar. Untuk nasib tertentu, terkadang mendapat dispensasi perubahan dari Sang Pencipta. Tapi anak manusia, terlalu asyik berkreasi hingga lupa pada pola dasar yang seharusnya. Perempuan tercipta dari tulang rusuk pria, berdekatan dengan tangannya agar bekerja sama, bersisian hati agar saling mencintai. Bersebalahan dengan tubuhnya untuk saling menopang kala suka dan duka. Emansipasi memang harus terjadi. Sebuah godaan terbalut tantangan agar tetap berpedoman pada blue print dasar yang telah ditetapkan sang pencipta. Intinya hanya keseimbangan. Kebahagiaan hidup hakiki adalah ketika keseimbangan dan keselarasan berdetak senada seirama.



TAMAT


source : www.m.dsarimagz.com/D'SARI%2027/27-11-cerpen.htm


Monday, May 09, 2011

Happy Mother's Day - I'm Proud Being A Paranoid Mother !


Tanggal 8 May merupakan Moment bagi seluruh Ibu di dunia merayakan berkah dan anugerah menjadi Ibu. Hari ini memang patut untuk sekedar di rayakan dengan rasa syukur dan sukacita antara kita para wanita dengan karunia yang sama. Jalan apapun yang membentuk kita menjadi Ibu, Apapun proses yang telah terlewati hingga takdir menjadikan kita Ibu seorang anak. Karunia Tuhan akan sama derasnya mengalir bagi mereka yang merelakan raga, hati, sanubari, nurani dan seluruh hidup untuk berkolaborasi denganNYA tuk bertaut doa bagi buah hati tercinta yang dititipkan Tuhan yang tak sekedar di pelihara tapi dijaga dengan penuh kasih dan cinta yang konon tercipta langsung dari Surga. Bukan sekedar kiasan ayat, atau kata mutiara semata bahwa satu satunya pekerjaan paling mulia yang gema doanya bisa menembus kesakralan langit ke tujuh, hanyalah suara seorang Ibu. Tak berlebihan, jika hal termulia  di dunia dan kerjaaan akhirat yaitu Surga, berada di bawah telapak kaki Ibu.
 
Selalu ada cerita tentang indahnya kasih Ibu, dimana mukjizat selalu menyertainya. Bahkan kemustahilan sebagai manusia biasa, terkadang bisa dilakukan seorang Ibu lewat spontanitasnya dalam berdoa bagi buah hati tercinta. Selalu ada energi diluar kendali diri yang tiba tiba berbuncah ketika seorang Ibu mendengar anaknya celaka. Sikap melindungi yang terlalu berlebih dari seorang Ibu, bisa jadi menganggu sebagian orang. Namun pada nurani Ibulah, suara hati Tuhan bisa dengan jernih terdengar. Hingga, duga dan rasa nya sering kali benar adanya . "I'm a Paranoid Mother", Itu adalah julukan yang datang dari beberapa guru anak saya. Dan saya bangga mendapat julukan itu, dan merasa kasihan pada siapapun terlebih seorang pendidik, yang menyepelekan nurani seorang Ibu, hingga hanya mengecek keberadaan anak remaja saya di sekolah, adalah kegiatan yang  mengganggu mereka. Mungkin perlu kurikulum  baru untuk para pendidik, agar lebih memahami tentang kedalaman sanubari seorang Ibu. Bagi pendidik yang ber nurani dangkal, perlu ber puluh puluh kurikulum untuk memahaminya atau mungkin tidak akan  pernah di pahaminya sampai kapanpun. Semoga, tak lagi saya temui pendidik dengan nurani seperti ini di kemudian hari.


Dan saya tetap menjalani berkah ini sesuai apa yang diamanatkan takdir,  untuk senantiasa memahami dan selalu berdamai dengan transformasi emosi yang terus terjadi bahkan hormon, gaya hidup dan jati diri sebagai wanita, ketika seorang anak terus bertumbuh dan  selalu ada tuntutan berbeda yang meminta tubuh dan jiwa kita untuk senantiasa berlaku luwes agar lebih memahami sang buah hati tercinta. Hingga, saat sayap mereka telah lengkap sempurna dan terbang jauh dari kehidupan kita, tetap ada temali kasih untuk menarik mereka selalu kembali dalam sangkar pelukan kita sebagai Ibu, yang kehangatan dan cahayanya tak akan pernah bisa di temui dimanapun. Itulah yang dilakukan Ibu saya….Ibundah H. Marwiyah. Sejauh apapun saya melangkah, jiwanya terus terbawa di pikiran dan benak saya untuk selalu kembali ke pelukannya. Semoga, temali kasih itu juga telah terajut di sayap cita kedua buah hati saya….. 

Selamat Hari Ibu !


"I Saved My Son's Life by Being A Paranoid Mother - Rachel Johnson"

Sunday, May 08, 2011

Sayap Malaikat Rhaya

Sayap Malaikat Rhaya
Oleh : Ria Jumriati


Menjelang pertengahan tahun, terus saja di hiasi rintik air hujan dan taburan mega dicakrawala pekat. Namun Rhaya melihat bidadari tengah meronce buliran air hujan dan merangkainya menjadi juntaian permata berwarna pelangi. Rhaya tersenyum, ia melihat mata Tuhan tersenyum padanya. Ia melihat wajah malaikat bersinar menyilaukan mata beningnya. Rhaya pun tersenyum. Ia melihat burung burung surga terbang mengiringi pesawat yang ditumpanginya. Dan ia melihat senyum bidadari itu di salah satu pramugari yang tadi menggendongnya sejenak. Rhaya belum mengerti bahasa manusia. Dipunggungnya masih melekat lembutnya sayap malaikat. Satu satunya manusia yang bisa mengerti segala keinginannya, hanyalah Ibunya. Ia adalah perempuan, dimana Rhaya bisa melihat keindahan surga lewat nyanyian nina boboknya.


“Mau bobok sayangku….” Mata surga itu menatap wajah bening Rhaya dengan lembut. Satu helai sayapnya meliuk jatuh perlahan ke bumi. Rhaya tertidur dalam nyanyian berkidung kedamaian. Disana, seperti biasa Rhaya bermain bersama para malaikat kecil penghuni kerajaan Illahi. Hanya terdengar tawa dan canda kebahagiaan. Namun tak lama ia pun terbangun. Guncangan demi guncangan membuat perjalanan dalam pesawat itu kerap membuatnya kehilangan teman teman kecilnya. Mereka terbang saat mata Rhaya terbuka menyibak jendela dunia. Namun dalam perjalanan kali ini, Rhaya diiringi puluhan burung burung surgawi dan…..bidadari itu, terus saja merajut dan meronce buliran hujan menjadi rangkaian permata terindah yang pernah dilihatnya. Rhaya ingin meraihnya sehelai. Ia ingin mengalungkannya di leher perempuan pemilik ruang penuh kehangatan, dimana ia pernah bersemayam selama 9 bulan disana.


“Kamu pipis lagi ya…” Ujarnya dengan senyum lembut.

“Mama, aku ingin membawamu melihat surga”  Ujar Rhaya. Tapi bahasa Rhaya tak pernah bisa dimengerti secara harpiah olehnya. Yang terdengar hanya celotehan lucu yang membuatnya semakin gemas. Ia pun menciumi pipi gembil Rhaya.

“Makan dulu ya sayang, sebentar lagi kita akan ketemu Oma dan Opa”

Ia pun menyuapi mulut kecil itu dengan sepotong biscuit yang dicampur susu. Seorang pramugari lewat di sampingnya. Rhaya kembali melihat senyum bidadari itu di matanya.

            “Hallo sayang…sudah bangun ya ?” Sapanya ramah. Rhaya tersenyum girang. Ia pun mencubit pelan pipi gembilnya.

            “Ada banyak malaikat menunggu senyum manis mu disana”

            “Aih..lucu sekali” Ujarnya saat mendengar celoteh Rhaya “Berapa usianya, Bu ?”  Tanyanya sambil membelai rambut keritingnya.

            “Bulan depan genap setahun” Terang Ibunya. Pramugari cantik itu pun mengangguk sambil berlalu dan menebar senyum ramahnya kepada penumpang lain.  

           

            Detik dan menit saling berkejaran menuju dentang takdir. Cuaca semakin tak bersahabat. Ada kegelisahan yang sama dirasakan para penumpang dipesawat itu. Semantara Rhaya kembali tertidur dan menemui teman teman kecilnya yang semakin riang menyambutnya di ujung gerbang penuh sinar. Ia merasakan sayap sayapnya perlahan berguguran. Melayang diudara…kadang hinggap di batang cemara, hingga jatuh menyentuh bumi. Rhaya menggeliat membuka mata kecilnya. Mengapa didalam pesawat ini begitu banyak malaikat berbaju putih. Masing masing menghantar sinar tersendiri ditangan mereka. Semua menebar senyum pada mata Rhaya.

            “Mari Nak…..” Salah satu malaikat itu meraih jemari mungilnya. Ia seolah menari diatas gemerlap cahayanya. Rhaya merasakan kedamaian yang luar biasa, kehangatan yang sama dirasakannya saat ia bersemayam dialam rahim.

            “Mama…” Rhaya menatap mata Ibunya yang terlihat gelisah. Kali ini ia sama sekali tak menggubris celoteh lucunya. Ia terus saja mendekap tubuh Rhaya erat.

            “Mama, aku baru saja diberi rajutan permata ini oleh Bidadari itu”

            “Apa ? Pesawat ini akan jatuh !” Jeritnya dengan tangis ketakutan.

            “Tenang Bu, kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa apa ?” Ujar salah satu awak mencoba menenangkan.

            “Tapi ?! Goncangannya semakin keras…tolooooong” Jerit perempuan tua di kursi belakang. Ia terus saja menangis ketakutan dipundak suaminya. Para penumpang serempak menampakkan wajah ketakutan. Menangis, berpelukan dan berlarian kesana kemari. Begitu juga para pramugari dan awak pesawat sibuk menenangkan semua kepanikan yang ada. Namun tak urung wajah mereka pun diliputi kecemasan yang sama. Sementara badan pesawat semakin terasa menukik kebawah. Kegaduhan kian terasa, semua berteriak dan menangis. Tapi dimata Rhaya…Ia hanya melihat para malaikat yang jumlahnya kian bertambah. Menebar kristal kristal cahaya pada setiap orang  yang ada didalam pesawat itu. Salah satu malaikat itu menghampirinya. Tersenyum dan mengajaknya terbang bersama anak anak kecil lainnya. Suasana dimata Rhaya sangatlah indah. Lalu para burung dan bidadari itu yang sedari tadi mengawal perjalanan mereka. Kian menebar senyum kebahagiaan. Rintik hujan telah berhenti dan berganti pelangi, Rhaya bergelayut riang di juntai warna pelangi itu bersama teman teman kecilnya. Penuh celoteh riang. Suara dentuman pun terdengar. Ada kilat api dan asap hitam yang disusul dengan hamburan serpihan badan pesawat. Rhaya melihat roh Ibunya melayang terbang menuju kearahnya, disertai beberapa malaikat dengan sinar yang terus mengawal perjalanannya.



            Awan membelah sempurna menampakkan pemandangan indah dan bersimbah kedamaian. Rhaya memetik salah satu bintang yang biasa ia lihat di alam mimpinya. Bersama teman teman kecilnya, ia kini menjadi penghuni salah satu tempat ternyaman di kerajaan Illahi. Rhaya dan bersama roh roh lainnya kini tertawa bahagia tanpa sedikit pun rasa sakit apalagi derita menyerta. 



            Nun jauh dihamparan bumi di kedalaman lautan luas. Berhamburan serpihan pesawat dan tubuh manusia. Namun itu hanyalah ragawi bagi semua penghuni alam Illahi. Hanya sebagai bukti keberadaan mereka yang pernah menjejaki bumi. Memang ada airmata, jerit kesakitan dan darah yang berhambur deras. Dan sekali lagi, itu hanyalah kodrati dari takdir rasa yang harus dijalani sebagai manusia. Namun, satu yang perlu diyakini meski melintasi batas kewajaran yang berlaku sama di bumi. Mereka…telah dikawal oleh ribuan malaikat dan bidadari tanpa rasa sakit dan derita yang memilukan. Mereka tak sekedar menjalani takdir apalagi harus membayar karma sebagai mahluk berlumur dosa. Ada banyak cara milik Tuhan untuk mengajak setiap mahluknya membuka pintu pintu surga meski harus melewati serangkaian bencana. Dan cara apapun, dimata dan bagaimana Dia bekerja tentu harus diyakini tanpa derita menyimbahi. Karena Dia Maha Pengasih dan Penyayang.



            Hingga pada suatu hari….seorang anak kecil berlarian ditepi pantai. Ia pun masih memiliki sayap malaikat itu. Dengan riang ia berlari mengejar anak anak ombak yang bergantian menjilati kaki mungilnya. Di dekatnya berdiri Ibunya yang terus mengawal langkahnya. Tiba tiba, mata kecil itu menangkap sehelai sayap malaikat yang sama dimilikinya. Ia pun memungutnya dan tersenyum…..ada pesan melambai pada helainya. Ia membacanya dengan tersenyum.  Pesan itu berbunyi :

           



“Aku bernama Rhaya…bersama teman teman kecilku

Kini aku bersemayam dalam damai  pelukan Ibu dan Tuhanku

Terbangkan pesan ini untuk Oma dan Opa ku…

Keringkan lah air mata dan bernyanyilah lagu riang untukku

Karena aku....

Selalu berbahagia dalam damai dan kasih Tuhanku”

           



TAMAT



"Untuk Bayi dan Balita di Pesawat MA60 - R.I.P

Monday, April 04, 2011

Kutipan karya Khalil GIbran 'Doa Sang Nabi'

Di kutip dari kumpulan karya Khalil Gibran yg di ambil dari buku , 
'' Doa Sang Nabi..'' 


CINTA

LALU berkatalah Almitra, Bicaralah pada kami perihal Cinta.

Ditengadahkan kepalanya dan memandang pada orang-orang itu, dan keheningan menguasai mereka. Dan dengan suara lantang dia berkata :


Pabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,

Walau jalannya sukar dan curam.

Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.

Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.

Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.

Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.

Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia kan menyalibmu. Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu, demikian pula diaada untuk pemanakasanmu.



Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.

Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan mengguncang- guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.

Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.



Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.

Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.

Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.

Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;

Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya. sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus Tuhan.



Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa kaupahami rahasia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.



Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta.


Maka lebih baiklah bagimu kalau kaututupi ketelanjanganmu dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.

Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa, tapi tak seluruh gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.



Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.

Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki;

Karena cinta telah cukup bagi cinta.


Pabila kau mencintai kau takkan berkata, "Tuhan ada di dalam hatiku," tapi sebaliknya, "Aku berada di dalam hati Tuhan."


Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.


Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan, biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.



Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.

Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tenung cinta;

Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.

Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;

Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;

Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;


Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sebuah gita puji pada bibirmu



PERSAHABATAN


Dan seorang remaja berkata,  Bicaralah pada kami tentang kebenaran Persahabatan

Dan mendapat jawaban:

Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang  mesti terpenuhi.

Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.

Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.

Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.



Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata "tidak" di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata "ya".

Dan bilamana ia diam, hatimu tiada 'kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.

Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berdukacita;

Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.


Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan.

Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.


Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.

Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.

Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?

Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!

Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.

Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.

Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.



WAKTU


Dan seorang pakar perbintangan berkata, Guru, bagaimanakah perihal Waktu?


Dan dia menjawab:

Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.

Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.

Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.


Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,

Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.

Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.

Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?

Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?

Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?


Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,

Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan

Friday, February 04, 2011

Puzzle Kehidupan Ayah



Sejak terlahir, Iris hanya mengenal Ayah sesekali. Pekerjaan Ayah yang sering kali keluar kota dan berlayar menjaga perairan Nusantara hingga berbulan bulan, membuat Iris kecil terkadang lupa wajah Ayah. Tapi ia selalu ingat bau khas Ayah. Ia ingat suasana hati nya yang mendadak riang saat Ayah pulang dan membawa oleh oleh untuknya. Menciumnya sekali lalu tertidur kelelahan. Saat bangun, Ayah kembali disibukkan oleh urusan lain.

Saat Iris remaja. Wajah Ayah makin melekat erat tak hanya di ingatannya, tapi juga di segala bentuk rupanya terutama bentuk hidungnya. Ayah masih sering pergi dan pulang setelah berbulan bulan. Tak banyak kenangan tentang Ayah, tapi bau khasnya dan suasana hati Iris yang tak pernah berubah saat Ayah pulang dengan oleh oleh dan kelelahan yang luar biasa. Ayah mulai menua. Saat terbangun, Ayah lebih banyak merenung. Tak banyak cerita terluncur dari bibir Ayah. Tapi Ayah banyak tersenyum, kehangatan senyum Ayah itu seolah mencairkan segala kekakuannya sebagai orang tua.

Kini Iris tumbuh menjadi gadis belia. Banyak pria yang coba mendapatkan hatinya. Tapi Iris lebih memilih Fahreza karena memiliki senyum sehangat Ayah. Sosok Ayah yang bagi Iris seperti potongan puzzle yang hilang. Semua dapat dilengkapi sempurna oleh  Fahreza. Tapi tetap tak ada yang bisa menggantikan suasana hati Iris, saat Ayah datang dan memeluknya.

Kini Ayah memeluknya erat, sambil membisikkan kalimat kebahagiaan dan kata maaf karena tak bisa menyempurnakan puzzle kehidupannya sebagai Ayah. Tapi Ayah punya doa, harapan dan cinta sejauh apapun jarak memisahkan mereka. Ayah selalu menempatkan anak-anaknya dalam bingkai hati terindah yang dimilikinya. Iris memeluk Ayah erat, di hari pernikahannya Ayah hadir bersama Bunda. Memberi oleh oleh berupa restu yang membuat hatinya tak hanya girang tapi juga nelangsa. Puzzle itu memang telah terangkai indah. Tapi Iris merasa ada yang tertinggal di senyum dan lambaian tangan renta Ayah. Tiba tiba, Iris rindu kembali ke masa kecil di mana Ayah memeluknya sesekali.  

Ayah, dulu, kini, nanti dan selamanya akan tetap melekat erat di jiwa, hati dan sanubari Iris. Tak banyak kenangan tentang Ayah. Tapi senyum, pelukan, dan tatapan cinta Ayah telah menyulam indah rajutan rajutan kasih yang pernah terurai oleh waktu, yang kala itu tak berpihak pada Iris dan Ayah untuk saling menautkan keduanya untuk berbagi kisah dan kasih. Kini wajah Ayah hanya bisa dinikmati lewat foto besarnya yang terpampang di dinding.  Dan Iris akan tetap menyimpan kehangatan senyum Ayah, menjaga hatinya untuk selalu riang gembira saat mengenang Ayah. Dan Iris yakin, doa-doa yang terpanjat untuk Ayah akan menembus lapisan langit ketujuh untuk  membuat Ayah  merasakan keriangan yang sama, sebagai balasan oleh oleh dari Iris saat dulu Ayah pulang dan memeluknya sesekali....

***

”Salah satu kenikmatan Allah atas seorang ialah dijadikan anaknya mirip dengan ayahnya (dalam kebaikan). (HR. Ath-Thahawi)

 - Ria Jumriati -  Bogor, 24.37 Wib -

Friday, January 28, 2011

Doa Asa


Pagi masih bayi
Saat hati tergelinjang lagu sunyi
Irama beralun misteri
Menusuk sebuah rangkaian memori

Pagi menjamah mentari
Hati merambah hangat hari
Masih tersisa lagu berirama duri
Bukan tersisa, tapi menetap di sini….

Bulan memancarkan warna pasi
Tersisa jejak lazuardi mengusir pelangi
Lalu bintang pagi tak lagi membawa cahaya surgawi
Ooo…Alnitak, Alnilam dan  Mintaka masih mengerling penuh arti !

Malam mencoba merambah mimpi
Terselip doa dan asa tuk hari terjanji
Tak hari ini..tapi pasti terjadi !



Shuttle Bus, Jan 2011

- Ria Jumriati -





Monday, December 13, 2010

Peristiwa 10 Muharram dan Hikmah Berpuasa Aasyura

(Sumber: Kultum Islam)

Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah S.A.W bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu darjat. Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka                                                                               
                            
                                                                                  
Lalu para sahabat bertanya Rasulullah S.A.W: "Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?". Maka berkata Rasulullah S.A.W: "Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir'aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura!".[]

Monday, December 06, 2010

Launching FIMELA.COM


Tanggal 3 Desember 2010, berlangsung launching www.fimela.com yaitu online media portal khusus para wanita Indonesia yang modern dan memiliki mobilitas tinggi. Bersama team Marcom, saya dan teman2 yang diundang turut menjadi team penggembira diantara para selebritis dan kaum jet set lainnya. Kuncinya...percaya diri ajah ! :-)

l



Sarah Sechan, Indi Barend, Samuel Mulia & Becky Tumewu sebagai tamu kehormatan

Marcom'ers & Magnivate 
Numpang Nampang :-)

Among the Celebrities...:-) *Invisible guest mode on*

Wednesday, December 01, 2010

SIKLUS TERINDAH


SIKLUS TERINDAH
by : Ria Jumriati
(Dimuat di Majalah Goodhouse Keeping Edisi Juli 2010)

Entah mengapa selama 2 tahun berturut turut ini, Nenek meminta ulang tahunnya dirayakan di bulan Juni. Padahal Nenek sendiri terlahir di bulan Desember. Entahlah, Nenek punya alasan tersendiri kenapa ia memilih bulan Juni. Kalau mau jujur, memang agak merepotkan dibanding jika Nenek tetap membiarkan kita anak cucunya merayakan di bulan Desember. Selain banyak hari Libur dan tentunya bonus tahunan yang biasanya keluar di bulan tersebut. Tapi ini di Juni ???? Bulan yang pelit hari libur dan evaluasi performance pertengahan tahun pun, biasa dilakukan beberapa perusahaan di bulan ini. Akan sangat mengurangi penilaian, jika mengambil cuti apalagi bolos mendadak.
          ”Hah, Nenek minta di bulan Juni lagi ?” Tanya Papa ketika Mama baru saja meletakkan gagang telepon seusai pembicaraannya dengan Nenek. Mama hanya mengangguk pelan, tanpa berani menatap mata kami yang penuh diliputi tanda tanya dan sedikit rasa kesal. Terutama aku, yang masih terbilang karyawan baru di perusahaan tempatku bekerja. Apalagi hari Sabtu masih sering diminta masuk untuk mengejar dateline materi iklan. Tapi, toh tak ada yang berani membantah keinginan Nenek. Bahkan Om Sandy – Anak bungsu Nenek yang kini bermukim di Australia, sudah dipastikan datang di pertengahan Juni nanti untuk merayakan hari ’besar’ tersebut. Dan seperti sudah menjadi perjanjian tak tertulis, namun harus di patuhi semua anggota keluarga, bahwa tidak ada yang boleh berhalangan hadir untuk acara ulang tahun Nenek. Berlaku mutlak untuk ke 7 anak anak Nenek serta 14 orang cucunya.
          ”Emm...apa tidak bisa di nego lagi Ma ? Seperti tahun tahun sebelumnya, kalau di bulan Desember, tentu Daeng Jasil dan Mbak Ning tidak akan terlalu repot terbang dari Makassar ke Jakarta, mengingat mereka masih punya balita”
          “Kayak tidak tahu Nenek saja. Jangankan dari Makassar, Bang Amir yang di Kalimantan, Sandy di Australia, Mbak Atik  di Bangkok..pokoknya, semua anak, menantu dan cucu Nenek harus mengosongkan jadwal di bulan Juni nanti. Termasuk keluarga kita” Sahut Mama mantap.
          ” Wah, jangan sampai tanggal 20 ya Ma! Mati deh, kalau sampai bentrok sama acara study tour dengan teman di sekolah” Seru Aldo berharap.
          ”Kemungkinan besar tanggal 15 Juni, tapi kita lihat sajalah maunya Nenek bagaimana” Sahut Mama santai, dan langsung disambut tatapan tak bersemangat dari Aldo. Ada helaan panjang berbarengan antara kita bertiga. Anehnya, semenjak aku dan adikku Aldo lahir dan menjadi anak Papa dan Mama. Keluarga kami terbilang demokratis, banyak hal yang bisa diperdebatkan hingga menemui solusi yang menyenangkan semua pihak. Tapi  untuk urusan ulang tahun Nenek ?? Semua argumen mendadak tidak berlaku.

          Aku memperhatikan Mama yang sedang sibuk menelpon jasa catering untuk persiapan ulang tahun Nenek. Mama memang anak kepercayaan Nenek untuk menjadi EO dan bagian promosi untuk segala hal yang berkaitan dengan hajat Nenek. Mama selalu punya waktu lebih untuk meladeni segala obrolan yang sangat membosankan dengan Nenek. Bahkan Mama pernah mengambil cuti ’unpaid’ dari kantornya selama 1 bulan, hanya untuk mengurusi Nenek yang waktu itu terserang demam berdarah. Padahal ada Tante Dinda yang juga tinggal di Jakarta. Tapi Nenek sepertinya hanya mengandalkan Mama. Menurut Mama, semakin tua seseorang yang dibutukan adalah ketulusan. Dan Nenek tahu betul, Mama lah yang paling bisa memberikan hal itu untuknya. Bukan berarti anak lainnya tidak tulus, tapi mata hati Nenek terlalu  peka untuk di tolak apalagi dibohongi.

Terlebih sejak kakek meninggal 3 tahun lalu, dan Nenek tinggal seorang diri. Berbagai cara sudah kami lakukan untuk membujuknya agar tinggal bersama kami, tapi ia bersikeras mendiami rumah kenangannya bersama kakek. Rasanya setiap jengkal di rumah itu menggurat banyak kenangan indah dan berat untuk ditinggalkan. Meski ada seorang perawat yang kami bayar untuk menjaganya, ternyata terlalu sulit untuk memahami keegoisan Nenek dan sifat kekanakan yang semakin mendominasi pola tingkahnya  dari hari ke hari. Di usianya yang ke 75 tahun, Nenek memang tidak dihinggapi penyakit pikun. Terbukti ia masih lancar bercerita mengenai nostalgia terindahnya bersama kakek. Dan cerita itu terdengar hampir seperti CD yang terputar setiap pagi, sore, dan malam hari. Dan ia akan sangat tersinggung jika perawat yang menjaganya terlihat bosan apalagi mengantuk saat mendengar dongengnya. Dan  langsung menelepon Mama untuk meminta ganti perawat yang lebih ramah dan yang terpenting tidak pernah mengeluh bosan untuk mendengarkan semua kisah cintanya bersama Kakek.

Tidak hanya itu, perawat yang menjaga Nenek harus pula mengurus semua benda-benda rongsokan miliknya, seperti radio dari zaman Jepang, cangkir-cangkir antik, frame foto yang membingkai gambar masa mudanya bersama kakek, serta banyak lagi benda-benda kecil, seperti sisir, sapu tangan, dan topi lusuh kakek. Dan setiap pagi, hal yang pertama ditemui dan diperiksanya adalah barang rongsokan itu. Ia selalu ingat, jika salah satu benda kesayangannya bergeser tempat atau berkurang. Pernah suatu kali, seorang perawat lengah memecahkan satu cangkir antiknya. Nenek langsung termenung sedih dan menolak makan hingga berhari hari. Karuan saja tubuh tuanya menjadi lemah dan harus dibawa ke rumah sakit untuk di infus. Akhirnya, jadilah itu beban kami untuk mencari penggantinya hingga ke kolektor barang-barang antik, dan membayarnya dengan harga yang lumayan mahal. Lama kelamaan, kebiasaan Nenek ini akhirnya mendobrak batas kesabaranku sebagai cucunya. Ketika pada suatu pagi, sisir kesayangannya hilang. Siapa sih, yang mau mencuri sisir jelek buatan zaman purbakala itu? Bentuknya besar dan berat, dan bisa bikin rambut rontok karena bergigi jarang dan tajam. Tapi, sejak saat itu Nenek tidak lagi mau menyisir rambutnya bahkan menolak untuk mandi. Mama jadi pusing memikirkannya karena tidak ada lagi yang menjual sisir, seperti milik Nenek. Aku sempat tidak mengerti dengan kelakuan Nenek yang selalu membuat susah dengan permintaannya yang selalu diluar perkiraan kita.
          ”Kok ngelamun, Armel ?” Tanya Mama lembut, namun sempat membuatku kaget. Aku tersenyum.
          ”Ma, Ingat tidak waktu Nenek kehilangan sisir antiknya ?” Tanyaku kemudian. Mama mengangguk dengan senyum.
          ”Cuma heran aja, kenapa orang itu makin tua makin aneh, ya Ma ? Dan aku salut sama Mama yang begitu sabar meladeni Nenek”
“Itulah siklus terindah yang harus kita bayar penuh.”
          “Maksud Mama?” Aku menatapnya tidak mengerti.
          “Ingat saat kamu masih kecil?”  
          Aku mengangguk pelan. Sementara Mama tetap tersenyum penuh arti.
          “Masih ingat? Ada berapa benda kesayangan milikmu yang bila hilang salah satunya, akan membuatmu merajuk dan tidak mau makan,” ujarnya yang serta merta kembali membongkar kenangan pada benda-benda masa kecilku. Ingatanku pun melayang saat aku  kehilangan Pony–boneka kesayanganku. Aku begitu sedih, semangat bermainku lenyap hingga turut menurunkan nafsu makanku. Lalu apa hubungannya dengan Nenek?
          “Kebiasaan Nenek saat ini adalah siklus yang harus Mama bayar lunas sama ketika dulu Nenek selalu menjaga mainan kesayangan Mama dan anak anaknya yang lain. Bahkan Nenek pernah berhenti bekerja hanya untuk merawat Mama dan Tante Atik yang terkena wabah cacar air, ditambah Om Yoto yang nakal luar biasa sampai tak ada pembantu yang betah bekerja dirumah kami. Padahal waktu itu posisi di Nenek di Departemen Kesehatan lumayan bagus. Meski menurutmu apa yang di inginkan Nenek adalah aneh dan membosankan. Sebagai anak, kita punya kewajiban itu Nak, karena kita adalah penyemangat hidupnya hingga kini. Kamu mau Nenek panjang umur kan ?” Tanyanya sambil membelai rambutku.
          Tak ada satu kalimat pun yang keluar dari bibirku. Aku langsung memeluk Mama dengan mata berkaca kaca.
         
          Pertengahan Juni pun tiba, rumah Nenek sejak semalam sudah kedatangan anak cucunya yang bermukim diluar negeri. Dan pagi ini,  Nenek luar biasa terlihat lebih sehat dan bahagia ketika kami semua berkumpul. Terlebih ketika aku mau berlama lama menemaninya ngobrol. Mata Nenek, berbinar indah dan lebih cantik dari biasanya.
          ”Nek, mau tanya dong ? Tanyaku manja sambil merapikan payet payet yang bertebaran semarak di baju Nenek.
          ”Tanya apa Tuni ” Sahut Nenek dengan panggilan sayangnya padaku. Dan hanya akulah satu satunya cucu Nenek yang punya panggilan sayang ”Tuni”.
          ”Kenapa ulang tahun Nenek dirayakan di bulan Juni ?”
Nenek terdiam sejenak. Ada getar dibibir tuanya.
          “Bukannya Nenek tidak menghargai Tuhan yang telah memberi Nenek awal kehidupan di bulan Desember. Tapi diantara 12 bulan yang teranugerah di hidup Nenek, Juni adalah bulan yang selalu mengingatkan Nenek akan kegiatan Nenek dulu yang sangat menguras energi dan peran indah Nenek sebagai seorang Ibu”
          “Maksud Nenek ? Emmm…..”  Nenek memotong kalimatku dengan senyum dan pelukannya.
          ”Dengan anugerah tujuh orang anak yang berselisih umur masing masing 1 tahun. Nenek tidak pernah lupa, setiap bulan Juni Nenek selalu direpotkan dengan kegiatan sekolah. Dari mulai mendaftarkan Om Sandy masuk TK, Om Reza masuk SD, Tante Atik daftar ulang dan Mama mu yang selalu minta ditemani setiap kali ada test ujian”.
          ”Lalu apa hubungannya dengan ulang tahun Nenek ?” Tanyaku masih tak mengerti. Nenek tersenyum dengan mata menerawang.
          ”Karena Nenek selalu merindukan moment di setiap Juni itu. Nenek ingin semua anak dan cucu Nenek berkumpul. Menyaksikan keriuhan dan keributan mereka, yang kini telah menjadi manusia dewasa dan menganugerahi Nenek cucu cucu yang luar biasa. Seandainya bisa, Nenek ingin kembali pada kesibukan di setiap Juni yang telah lama berlalu”
          ”Lalu, mengapa harus menyebut moment ini sebagai ganti ulang Tahun Nenek dibulan Desember ?”
          ”Karena hanya pada perayaan ulang tahun Neneklah, mereka semua mau datang dan berkumpul, selain itu....pasti ada saja yang berhalangan” Ujar Nenek dengan suara parau dan wajah tertunduk sedih.
          ”Kalau Nenek yang minta, di  bulan apapun pasti lah semua anak dan cucu Nenek mau datang” Bujukku sambil memeluk tubuhnya. Nenek kembali tersenyum ceria. Terlebih ketika, Om Yoto, Om Jasil, Om Sandy, Om Reza, Tante Atik, Tante Dinda dan semua anak menantu Nenek lainnya serta ke-14 cucunya ramai ramai menyanyikan lagu ”Aryati” di iringi gitar yang dimainkan  Aldo. Lagu inilah yang konon membuat hati Nenek luluh dan menerima lamaran Kakek.
          Bergantian kuperhatikan keceriaan di wajah Nenek, lalu Mama. Ada siklus terindah yang juga harus ku lunasi untuk dua wanita terkasih ini, kini dan nanti. 

TAMAT

         

Wednesday, November 10, 2010

Seni Mencinta



"What a grand thing, to be loved. What a grander thing still, to love." - Victor Hugo -
 
Alkisah, ketika manusia diciptakan, Tuhan mempunyai rencana indah. Hati yang ditaruh dalam diri setiap manusia tidak lengkap. Ada yang hanya separuh, ada yang sepertiganya saja, tetapi ada juga yang nyaris penuh.
 
Sisanya yang lain, justru sengaja dibuat berkeping-keping dan ditaruh dalam diri manusia yang lainnya. Baru setelah itulah, manusia dikirim ke muka bumi. Dan inilah yang kemudian menjadi tugas manusia. Yakni mencari dan mendapatkan kembali kepingan hatinya justru melalui hubungan dan
perhatiannya kepada orang lain. Mereka yang terobsesi mencari pada dirinya saja akan sia-sia.


Namun, inilah permainan yang menarik, melalui cinta dan perhatian kita pada orang lainlah, maka hati kita menjadi utuh kembali. Menariknya pula, kita tidak pernah tahu siapa yang menyimpan kepingan hati kita. Kita hanya bisa mencoba dan berusaha. Kita harus ingat bahwa kita pun menyimpan
kepingan-kepingan hati orang lain yang harus kita berikan kepada orang yang layak mendapatkannya. Inilah bagian dari
'seni mencinta' bagi manusia di dunia.


Suatu penelitian soal cinta yang menarik dari majalah Psychology Today pada 2002 mengatakan bahwa jiwa kita membutuhkan cinta, sama seperti halnya tubuh kita membutuhkan oksigen. Mereka yang kekurangan cinta cenderung akan menjadi mudah depresi.


Bahkan, dikatakan bahwa cinta adalah obat anti-depresant terbaik di dunia! Realita justru menemukan bahwa mereka yang gampang depresi tidak mudah untuk mencintai, baik diri mereka sendiri maupun orang lain. Mereka ini jadi sangat berpusat pada diri mereka sendiri. Namun, inilah yang justru
menyebabkan mereka dijauhi orang.


Cinta merupakan seni penting dalam kehidupan kita. Bukan pada manusia saja, bahkan bagi hewanpun, cinta merupakan kunci kehidupan penting.
Beberapa penelitian dengan kucing menunjukkan bahwa kucing-kucing yang selama tiga bulan pertama tidak pernah bersentuhan dengan induknya atau manusia, akhirnya akan menjadi kucing liar.


Beberapa penelitian lain dengan bayi manusia menunjukkan bahwa anak-anak yang jarang bersentuhan dengan ibunya menjadi lebih kurang merasa aman serta kurang terbuka dalam mengekspresikan perasaannya kepada orang lain.

Sayangnya, berbagai film dan cerita romantik membuat kita agak kacau memahami soal cinta. Karena itu ada beberapa landasan penting soal cinta, yang perlu kita bangun kembali.

Pertama, mari bedakan antara cinta dan sensasi. Cinta adalah sesuatu yang lama serta mendalam, sedangkan sensasi hanya sesaat. Banyak orang berusaha mencari ke sana ke mari untuk mendapatkan cinta yang spektakuler, yang menyebabkan hidupnya jadi bertualang dari satu orang ke orang lain. Pada
dasarnya ini bukanlah cinta, tetapi sensasi.


Hal ini sering jadi penyakit orang-orang terkenal yang ditampilkan dalam berita-berita seputar para selebritas. Saya masih ingat pernah terkagum-kagum dengan perkawinan spektakuler seorang artis dengan pria bule yang kaya dan tampan.


Perkawinannya pun dibuat sangat romantis, pokoknya sempurna. Saat ditanya wartawanpun dia berkata, "Saya yakin telah menemukan cinta sejati saya. Saya merasa dialah soulmate saya". Namun, kenyataannya, beberapa tahun
kemudian cinta si artis itu pun meluntur. Konon si artis ini menemukan pria tambatan cintanya yang lain. Mereka pun
bercerai. Hal ini lantas memberikan kita pelajaran yang menarik.

Karena itulah kita melihat cinta bukanlah sekadar pesta meriah, cinta juga bukanlah hanya hadiah luar biasa, atau peristiwa yang spektakuler. Bahkan, jauh dari itu, cinta adalah sesuatu yang wajar, mendalam, menyentuh relung hati yang paling dalam, rasional serta membutuhkan komitmen panjang.

Bandingkan dengan kisah cinta artis pop Celine Dion yang pada 2000 yang memutuskan mundur sementara dari panggung musik, karena suaminya Rene Angelil menderita kanker. Beberapa tahun, dia bahkan hanya menghabiskan
waktu merawat suaminya. Padahal, tentu saja Celine Dion bisa meneruskan karirnya atau bahkan mencari pria lain, sekalipun. Namun, inilah bukti cinta yang dia perjuangkan demi orang yang dicintainya. Maka, rasanya sangat pantaslah kalau Celine Dion melantunkan lagunya The Power of Love. Dia bukan hanya menyanyikan, tetapi juga membuktikannya.


Kedua, cinta bukanlah proses yang pasif. Banyak film dan cerita novel yang seolah-olah mengajari bahwa cinta adalah sesuatu yang kebetulan dan orang hanya menunggu ketika momennya tiba.


Berbalikan dengan semua ini, majalah Psychology Today justru meneliti bahwa mereka yang sehat hubungannya dengan pasanggannya bukanlah yang pasif, tetapi yang justru aktif memberi dan membagikan kasih sayangnya. Sebaliknya, mereka yang depresi lebih sering menunggu dan pasif dalam hal mengekspresikan perasaan ataupun kasih sayangnya.

Tidaklah mengherankan kalau dalam kesimpulan majalah Psychology Today tersebut dikatakan bahwa cinta adalah suatu keterampilan yang sangat penting untuk dipelajari. Saatnya kita belajar juga seni mencintai dan belajar secara aktif memberikan kasih kita kepada orang-orang sekeliling kita, maka kita pun akan mendapatkannya dalam bentuk balasan berkali-kali lipat.


Ketiga, cinta bukanlah bisnis. Banyak orang mencintai dengan harapan akan mendapat balasan tertentu. Akibatnya, saat tidak mendapatkan apa yang diharapkan, orang menjadi mudah kecewa. Begitu pula, ada beberapa orang yang melakukan tuntutan atas nama cinta. "Kalau kamu mencintai, kamu pasti
mau begini..." Ini adalah bentuk manipulasi cinta dan ini bukanlah cinta tetapi sebuah transaksi. Dalam cinta yang sesungguhnya kita tidak lagi hitung-hitungan. Bahkan ada banyak kisah di mana justru jika dihitung-hitung secara bisnis, cinta ini merugikan. Namun, ganjarannya adalah kebahagiaan dan inilah yang tak terukur dengan uang.


Keempat, perasaan cinta pun menyehatkan secara fisiologis. Perasaan cinta ternyata menghasilkan suatu zat oksitoksin yang sangat berguna bagi tubuh kita. Zat inilah yang membuat kita merasa nyaman, hangat dan ceria terus. Beberapa obat-obatan terlarang juga menghasilkan zat-zat dengan efek yang mirip. Beberapa penelitian dengan pasangan tua yang banyak memberikan pelukan dan mengungkapkan rasa kasih sayangnya, menunjukkan jumlah zat oksitoksin yang lebih banyak dalam kandungan darah mereka.


Begitu juga anak-anak yang sering mendapatkan pelukan dan ciuman dari orang tuanya, mempunyai kandung oksitoksin yang lebih tinggi. Yang membuat mereka lebih tidak mudah depresi, lebih ceria dan lebih bahagia dalam hidupnya.

<oleh Anthony Dio Martin, Director HR Excellency>