Tuesday, March 07, 2017

KARMA GETIH - Bab Satu "Karma Getih" #Cerbung


KARMA GETIH dalam bahasa Jawa memiliki arti Karma Berdarah. Cerita ini pernah saya kirim ke beberapa Penerbit dan sejumlah Majalah Wanita, namun tak ada berita apakah diterima atau di tolak. Dan saya memutuskan untuk menayangkan secara berseri di blog saya ini. 
Selamat menikmati ! 

Image : From Google

 BAB I 
KARMA GETIH
Ria Jumriati
  
            Sejak kecil Dahayu hanya mengenal kakek neneknya. Hanya dua manusia renta itu yang mengurusnya hingga akhirnya salah satunya meninggal ketika Dahayu menginjak usia 40 hari. Tersisa hanya Mbah Kijah yang terbungkuk payah memanggul beban sebagai tukang sayur keliling demi membiayai hidup cucu semata wayangnya. Meski Mbah Kijah bersikeras agar Dahayu menamatkan sekolahnya hingga jenjang SMU, namun gadis itu menolak. Ia tak lagi bisa berkompromi dengan kemirisan hatinya demi melihat penderitaan Mbah Kijah. Tawaran menjadi pembantu di kota akhirnya  terpikir juga olehnya demi mengurangi beban neneknya.
            “Mbah masih mampu kasih makan kamu, ndak usah ke kota Nduk. Aku wedhi, sampean di jahati wong kota”
            “Tapi aku kan dibawa sama Pak Abdil, orangnya Mbah Kijah kan juga sudah lama kenal dan baik sekali sama keluarga kita”
            “Tapi dikota kan kamu bakal kerja sama orang yang juga ndak terlalu dikenal sama Pak Abdil, wong dia itu kan cuma makelar pembantu”
            “ Tapi aku tak tega melihat Mbah terus terusan kerja dan menderita” Seru Dahayu hampir menangis. Namun Mbah Kijah berusaha tegar. Nuraninya tetap membisikkan sesuatu yang aneh untuk melepas cucu semata wayangnya.
            “Izinkan aku pergi ya Mbah …” Pinta Dahayu memohon, namun Mbah Kijah bergeming dengan wajah mengeras.
            “Kamu tahu kan Nduk ? Ujarnya sambil menatap iba wajah Dahayu. “Sudah banyak kita dengar orang-orang desa sini yang jadi korban kejahatan orang kota. Belum lagi yang kerja diluar negeri, pulang bukan bawa uang malah jadi gila karena dijahili majikannya. Aku ndak mau kamu bernasib seperti itu Nduk, cuma kamu satu-satunya harapan Mbah dihidup ini”
            Dahayu hanya terdiam sedih. Cerita mengerikan dari Lastri dan Hanum sudah menjadi buah bibir tak berkesudahan di desanya. Lastri yang menjadi TKW di Malaysia bahkan harus menjalani hidupnya sebagai gadis cacat karena menjadi korban penganiayaan majikannya yang kejam. Lalu ada Hanum, yang seumur hidupnya harus menanggung malu dengan mengandung dan melahirkan anak keturunan arab dari benih anak majikannya yang memperkosanya saat bekerja disana. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menerima kenyataan itu sebagai takdir sial yang harus dipanggul seumur hidup. Belum lagi, kisah Karsih dan adiknya yang terpaksa menjadi piatu saat ibu mereka pulang dalam keadaan tak bernyawa karena di bunuh oleh majikan Jiran nya. Tapi ironisnya, animo masyarakat terutama kaum perempuan masih saja tinggi untuk bekerja di kota dan luar negeri. Iming – iming gaji dan fasilitas besar memang bisa menghapus berita seburuk apapun. Kemiskinan yang kian mencekik dari hari kehari telah membutakan mata dan hati mereka pada pengalaman pahit yang pernah dialami  teman mereka sebelumnya.  Keluar dari jurang kemiskinan meski harus mendaki keterjalan yang tak jarang merusak masa depan dan pertaruhan nyawa, juga tak membuat mereka menjadi jera. Jiran memang bermandikan harapan, Namur terkadang harus dibayar sangat mahal oleh derita terampasnya harga diri, masa depan bahkan nyawa. Dan sayangnya, tak ada satu pun tangan perkasa di negeri ini yang bisa melindungi harga diri mereka sebagai bagian dari anak bangsa yang mencoba mencari peruntungan hidup yang tak pernah bisa disediakan oleh perangkat negara yang mengurusi kekayaan negeri ini dengan cara cara yang salah dan kerap mengorbankan mereka.

            Dahayu masih diliputi kebimbangan pada tawaran Pak Abdil beberapa minggu lalu. Terbayang jumlah gaji yang dijanjikan Pak Abdil. Angka itu sangat bisa menutupi semua kebutuhan hidupnya selama ini. Dan yang lebih penting Mbah Kijah tak perlu lagi berjualan sayur keliling desa. Belum lagi bila sayurannya tak laku dan Mbah Kijah terjatuh sakit hingga berhari hari. Apa yang bisa dilakukan Dahayu ? Uang tak punya, harta tak lagi ada yang tersisa untuk dijual, yang ada hanya pasrah. Hal itulah yang membuat Dahayu ingin sekali menerima tawaran Pak Abdil. Ia tak perlu bekerja bertahun tahun, menurut hitungannya hanya setahun saja ia sudah bisa mengumpulkan uang untuk modal Mbah Kijah berjualan dirumah, membuka kios kecil untuk berjualan sayur mayur.
            “Lumayan loch Yu, gajinya ringgit. Kalo di tukar ke rupiah jumlahnya bisa jutaan setiap bulannya” Bujuk Pak Abdil ketika dilihatnya Dahayu masih ragu ragu.
            “Tapi Mbah Kijah ndak setuju Pak, dia takut aku dijahati sama majikanku seperti Lastri dan Hanum”
            “Lah, itukan masalah nasib” Pak Abdil mulai mengeluarkan siasat rayuannya “Wong banyak juga kok  warga desa ini yang sukses bekerja di luar negeri. Kamu tahu rumah gedong di desa Kenasih ? Itu rumahnya Bu Sagiyem yang sudah 10 tahun bekerja di Malaysia. Wah, dia itu jadi wong sugih sedesa Kenasih! Kamu mau kan seperti itu ?”
            Mata Dahayu masih terlihat ragu. Terbayang wajah Mbah Kijah yang tak pernah memberinya restu.
            “ Lagi pula ndak semua orang Malaysia atau Arab itu jahat. Tergantung kita bisa membawa diri, dan aku yakin kamu pasti bisa bernasib baik seperti Bu Sagiyem itu. Apalagi...hmmmm, wajah dan penampilanmu sangat anggun dan bermartabat. Pasti orang akan berpikir ulang untuk melecehkanmu, Dahayu” Tutur Pak Abdil meyakinkan.
            “Tapi…Mbah Kijah ndak setuju Pak”
Terdengar tawa renyah Pak Abdil. Ia menepuk pundak Dahayu pelan.
            “Tenang Nduk, nanti aku yang bicara pada Mbah mu”
            “Dia pasti ndak bakal kasih” Ujar Dahayu putus asa.
            “Tidak usah khawatir, yang penting kamunya mau. Urusan Mbah Kijah biar aku yang tangani. Selama kamu pergi nanti aku akan kasih uang sangu untuknya” Ujar Pak Abdil berusaha bijaksana. Ada ketenangan dihati Dahayu mendengarnya. Sementara kebulatan tekad untuk meninggalkan desanya semakin kuat. Rumah Bu Sagiyem memang bak istana megah. Ia bahkan bisa membuka pabrik makanan kecil yang dimodali dari hasil  kerjanya bertahun tahun di Malaysia. Anak dan suaminya hidup berkecukupan. Serta merta ia pun menjadi orang yang sangat dihormati dan disegani seantero desa Kenasih. Dan Dahayu ingin sekali hidupnya kelak seperti itu. Jauh dari  balutan kemiskinan, jauh dari hina dan cerca serta pelecehan sebagai gadis tunggal dan yatim piatu. Dahayu yakin, uang lah yang bisa membuat banyak orang tertunduk hormat padanya. Sebagai gadis yang tak pernah mengenal kedua orang tuanya dan tak mengeyam pendidikan tinggi, menjadi TKW adalah jalan pintas meraih impiannya. Lalu ada Pak Abdil yang bisa menjadi jembatan untuk mewujudkannya. Tinggal kendala meyakinkan Mbah Kijah, itu saja. Ada senyum tipis dibibir mungil Dahayu. Tekad itu semakin menggumpal bulat dibenaknya.
            Pagi seperti biasanya, Mbah Kijah terlihat berjalan pelan sambil memanggul sayuran di pundaknya. Menjajakan dengan ramah kesetiap rumah penduduk untuk membeli sayurannya. Tak ada beban tersirat di mata tua itu. Kerelaan menjalani garis nasib perlahan lebur bersama kepasrahan seorang nenek tua yang berusaha berdamai dan merasakan kenyamanan dari segala beban hidup yang terasa berat bila kita mencoba sedikit saja melongok kehidupan setingkat diatasnya. Namun Mbah Kijah, tak pernah melakukan itu. Entah tak peduli atau tak berani untuk sekedar membuat perbandingan. Yang dirasakan orang sepertinya hanyalah berusaha selagi masih diberi nyawa.

            “Mbah, ada sayur nangka Ndak ?!” Teriak Bu Darjo dari balik jendela rumahnya. Bibir Mbah Kijah serta merta tersenyum lebar meski tak lagi dihiasi satu gigipun. Setengah tergopoh ia memasuki pekarangan rumah Bu Darjo.
            “Ada Bu, masih segar dan bagus loch. Dimasak santan dan dicampur daun melinjo bisa tambah enak” Tuturnya berpromosi. Bu Darjo pun segera sibuk memilih sayuran dalam bakul Mbah Kijah.
            “Aku ambil sekalian kelapa sama terongnya ya “
            “Silahkan bu, terima kasih” Jawabnya ramah sambil membungkus sayuran Bu Darjo.
            “Mbah Kijah, aku dengar Dahayu mau dibawa Pak Abdil ke Malaysia ya ?” Tanya Bu Darjo tiba-tiba. Mata tua Mbah Kijah serta merta terkejut.
            “Tidak kok Bu, aku tidak pernah memberi izin padanya”
            “Iya, jangan Mbah. Sudah banyak korban ! Apa Dahayu tahu kalau Ibunya dulu…” Kalimat Bu Darjo segera di hentikan oleh isyarat tangan Mbah Kijah.
            “Ssssst, mohon jangan pernah bicarakan itu lagi. Kasihan Dahayu”
Bu Darjo pun tersenyum maklum. Lalu segera membayar pesanan sayurannya.
Setelah pamit, Mbah Kijah keluar dari pekarangan Bu Darjo dengan semangat terbelah. Hati lelahnya mendadak berduka. Ada luka masa lalu yang perlahan terkuak. Tiba tiba ia merasa bakul sayurannya terasa berat. Mbah Kijah berjalan semakin pelan. Hari ini semangatnya hampir tersedot kekubangan masa lalu yang kelam. Ada bulir bening yang berusaha ditahannya. Namur kaki renta itu terus menjejaki jalan setapak desa dan menjajakan sayurannya dengan suara parau.

            Saat sore menjelang Mbah Kijah pun pulang kerumah dengan badan yang terasa lebih lelah dari biasanya. Ia melihat Dahayu telah menyiapkan teh panas dan ubi rebus di meja. Namun sosok Dahayu tak terlihat seperti biasanya.
            “Nduk, nduk…dimana koe ?” Teriaknya pelan. Tapi Dahayu tak juga menampakkan diri. Mbah Kijah mencari kedalam kamarnya. Tak ada, hatinya kembali diliputi perasaan tak enak. Peristiwa kehilangan Dahayu, sudah sering ia alami, bahkan ketika ia masih bayi, pernah hilang selama 3 jam dan kembali dalam keadaan baik sekali,  tanpa diketahui siapa yang telah membawa bayi berumur 2 bulan itu. Hal itu masin terulang saat ia berumur 5 tahun. Ketika ditanya kemana saja selama menghilang, Dahayu sendiri tak bisa menjawabnya. Sejak lahir, hidup Dahayu memang banyak diliputi hal hal mistis kental dengan kemisteriusan.
Mbah Kijah pun melangkah keluar, untuk mencari, sosok Hanum tiba tiba muncul didepan pintu.
            “Mbah..sudah pulang ?”
            “Iya, kamu lihat dimana Dahayu ?” Tanyanya cemas
            “Barusan dia pamit, katanya diajak Pak Abdil untuk dipotret ditempat foto di Desa Kenasih. Dia minta di izinkan kalau Mbah pulang” Tutur Hanum pelan.
            “Foto ? Dengan Pak Abdil ? Untuk apa ?! Mbah Kijah mulai panik
            “Katanya untuk passport ke Malaysia”
            “Apa ?! Siapa yang memberinya izin ? Berani-beraninya Pak Abdil mengambil cucuku tanpa seizinku !” Ujarnya marah dan panik.
            “Aku tidak tahu Mbah, aku cuma dititipi pesan. Tadinya Dahayu memang menolak, tapi Pak Abdil memaksa. Katanya biar nanti dia yang bicara dengan Mbah Kijah” Jelas Hanum sambil membetulkan gendongan anaknya yang berwajah arab. Terdengar desahan kesal Mbah Kijah. Tapi ia hanya dapat terduduk lemah dengan wajah kesal.
            “Katanya sih cuma sebentar. Sebelum sore sudah pulang” Lanjut Hanum mencoba menenangkan.
            “Ya sudah Num, terima kasih yaa..biar aku tunggu saja disini”
Hanumpun tersenyum tipis seraya pamit. Mbah Kijah masih menahan gemuruh didadanya dengan mata berkaca kaca. Pikirannya serta merta melayang ke masa silam. Luka dan rasa sakit itu masih belum lagi mengering dihatinya. Rasanya ia tak sanggup jika Dahayu harus mengalami hal yang sama dengan Ibunya. Mata Mbah Kijah serta merta basah oleh buliran air mata yang mengaliri pipi keriputnya. Kotak kenangan masa lalu itu kembali terbuka.
            Saat itu di desanya memang tengah terjadi boming pencarian tenaga kerja wanita untuk di rekrut sebagai TKW. Bahkan kantor agen yang mengurusi keberangkatan para TKI itu tak pernah sepi didatangi orang yang hendak mengadu nasib di negeri orang. Dan Nuri adalah salah satunya. Tergiur oleh bujuk rayu teman-temannya dan iming-iming gaji tinggi. Akhirnya, Nuri pun mendaptarkan diri untuk ikut diberangkatkan ke Malaysia. Meski mendapat izin dari Ayahnya, namun naluri keibuan Mbah Kijah mengisyaratkan sesuatu yang buruk pada Nuri. Ia bersikeras melarang kepergian Nuri ke negeri Jiran.
            “Ndak usah ikut-ikutan temanmu, dia itukan sudah pengalaman kerja di kota. Lah..kamu? wong masak saja masih belum becus”
            “Tapi nanti akan diajari dulu Bu, baru kalo sudah pintar kita akan ditempatkan di rumah orang orang kaya di Malaysia”
            “Kejauhan Nduk, kalo ada apa-apa Ibu dan Bapak ndak bisa cepat membantu”
            “Doakan saja lah Bu, aku pasti akan baik-baik saja” Ujar Nuri meyakinkan “Lagi pula, gajinya besar dan lumayan untuk nambahin modal usaha Bapak”
            “Tapi perasaanku ndak enak….” Ujarnya sambil menatap putri semata wayangnya.
            Dan perasaan tak enak Mbah Kijah memang terbukti. Setahun bekerja di Malaysia. Nuri pun pulang. Tapi tidak membawa uang seperti harapannya. Ia dipulangkan dalam keadaan berbadan dua. Gajinya yang hanya dibayarkan sebagaian habis ludes dicuri oleh oknum di Depnaker. Saat dalam karantina dan menunggu waktu untuk dipulangkan ke desa nya. Nuri di paksa membayar sepuluh kali lipat ongkos menuju kampungnya. Karena tidak ada uang rupiah, Nuri dengan lugunya meminta oknum itu untuk menukarkan semua gajinya yang dalam bentuk ringgit kepada oknum tersebut untuk ditukarkan Rupiah. Malang nasib Nuri, uang itu tak pernah kembali dan tak ada seorang pun di tempat karantina itu yang sudi membantunya. Nuri bisa sampai ke desanya, karena kebaikan hati Lastri yang kebetulan satu jalan dengannya meski berlainan desa. Dengan Lastri lah ia kemudian mendapat pinjaman uang untuk kembali bertemu orangtuanya.
            Kedatangan Nuri memang disambut bahagia oleh kedua orang tuanya, bahkan para tetangga. Terlebih Mbah Kijah. Apalagi dilihatnya tubuh putrinya lebih berisi dibanding setahun lalu. Tapi keanehan sikap dan prilaku Nuri mau tak mau membuat orangtuanya meminta penjelasan.
            Tak ada kata sepatahpun yang mampu terucap. Nuri kebanyakan menangis tersedu sambil terus meremas-remas perutnya. Matanya seolah terbebani trauma yang sangat menyakitkan. Dan alangkah terkejutnya Mbah Kijah dan suaminya, saat ditemuinya banyak luka di tubuh Nuri. Bahkan bentuk telapak setrika terlihat menempel jelas dipunggungnya.
            “Apa yang mereka perbuat, Nduk ? Kenapa koe ndak segera pulang!” Jerit Mbah Kijah sambil terus menangis memeluk tubuh putrinya.
            “Siapa yang melakukan ini !” Ujar Mbah Lasirun keras sambil mengguncang tubuh anaknya.
            “Ma..majikanku Pak. Dia..dia sering menyiksaku dan…….” Tangis Nuri pun pecah dipelukan Ibunya. “Dan apa Nduk……” Bisik Mbah Kijah pedih ditelinga Nuri.
            “Dia juga memperkosaku ! Aku sudah ndak perawan lagi Bu…dan aku..aku! Nuri terus menangis sambil terus meremas-remas perutnya. Dan itu sudah cukup menjelaskan kepada kedua orang tuanya akan bencana yang sesungguhnya.

            Sejak saat itu, seolah petaka tak henti hentinya mendera kehidupan Mbah Kijah. Nuri yang selama mengandung terus menerus dihantui trauma dan dihujat warga desa, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya saat melahirkan Dahayu dalam kondisi premature. Lalu keadaan Mbah Lasirun yang terus sakit sakitan karena beban psikologis yang harus ditanggungnya karena bencana ini. Hingga kakek malang itu pun menyusul Nuri ke alam baka. Kini, hanya tinggal Mbah Kijah bersama Dahayu – penerus keturunan satu satunya yang nyata menjadi prasasti hidup dan merupakan gambaran derita dari pengalaman pahit anaknya di negeri Jiran. Air mata Mbah Kijah terus mengalir deras. Terdengar desis doa mengumandang dibibir pucatnya. Perutnya tak lagi terasa lapar, ia ingin cucunya segera kembali. Batinnya tak sanggup lagi menghadapi bentuk kehilangan apapun, sudah terlalu banyak yang direngut dikehidupannya. Suara tangis itu pun pecah diambang sore menjelang. Menyaksikan Dahayu yang semakin tumbuh remaja, memberi keresahan tersendiri di batinnya. Sejak lahir, Dahayu memiliki anugerah cakra ungu yang terletak diantara ke dua matanya. Ia memiliki kemampuan menjelajah ruang lewat terawang batinnya. Meski belum pernah sekalipun bertemu Ayah kandungnya, Dahayu bisa menggambarkan dengan jelas sosok rupa lelaki itu hingga tanda lahir yang dimiliki di punggungnya. Bahkan di waktu waktu tertentu, Dahayu kerap berbicara seorang diri, kadang tersenyum, tertawa terpingkal pingkal sampai menangis tersedu sedu. Saat ditanya, siapa lawan bicaranya. Macam-macam yang ia sebutkan. Terlebih ketika masih balita ia mengaku sering didatangi nenek berambut putih panjang yang memiliki kendaraan kuda putih penuh cahaya dan sering mengajaknya ketempat yang membuatnya selalu damai. Atau di ajak berjalan ketempat yang menyeramkan bersama Ibu kandungnya. Setelah beranjak remaja, semakin aneh saja yang dirasakan Dahayu. Ia mengaku sering dikunjungi salah satu prajurit Mahapatih Gajah Mada yang menurutnya sangat tampan dan selalu dinantikan kehadirannya. Pernah satu kali, Mbah Kijah menemui Dahayu yang terduduk lemah, dengan wajah dibanjiri keringat hingga membuat basah sekujur tubuh dan pakaiannya. Saat ditanya, apa yang terjadi. Dengan tersendat ia mengatakan, baru saja terlepas kepungan Perang Bubat yang melibatkan dirinya dan  Raden Mas Ganendra – salah satu prajurit Patih Gajah Mada, yang sering mendatanginya itu. Tentu saja semua itu membuat Mbah Kijah ketakutan, di datangi arwah Ibunya saja membuat ia khawatir setengah mati, apalagi harus ada ’mahluk asing’ dari dunia lain yang bisa membawa raga dan batin cucu semata wayangnya menerobos kemisteriusan ruang dan poros waktu yang tak pernah bisa diterima logika dan akal sehat siapapun. Untuk itulah Mbah Kijah, sering mendatangi Eyang Karso – guru spiritualnya untuk sesering mungkin melakukan ’ruwatan’ pada Dahayu agar terlepas dari hal-hal gaib tersebut. Beruntung sejauh ini, tak ada satupun warga desa yang menyadari keanehan pada diri Dahayu.
            Eyang Karso yang sudah sangat di kenal sebagai maha guru penganut Ilmu Kejawen pun, selalu mendapat tantangan tersendiri untuk mengeluarkan Dahayu dari pengaruh gaib yang telah ada di dirinya sejak lahir. Tak hanya bakat indigo yang dimiliki gadis itu, namun kematian Nuri yang membawa dendam ternyata juga di wariskan sepenuhnya pada anaknya. Hingga Eyang Karso harus melakukan semedi dan puasa beberapa hari, jika proses ruwatan untuk Dahayu akan dilakukannya.

***
(Bersambung, BAB Dua - Serat Jiwa)

Thursday, March 02, 2017

Atap Untuk Sarti #Cerpen




Sarti gadis lugu, muda dan baru saja kena tipu. Ditawarkan oleh Ibu mertuaku untuk di pekerjakan sebagai pembantu rumah tangga kami. Sebelumnya, Sarti bekerja sebagai buruh pabrik ’Home Industri’ yang di kelola Ibu mertua. Sebulan lalu, ia di usir keluarganya dan di asingkan oleh penduduk kampung, karena ketahuan hamil. Pelaku yang notabene pacar Sarti, ternyata kabur entah kemana begitu mengetahui keadaan Sarti.

            Di dorong rasa Iba, Ibu mertua menawarkan gadis malang itu untuk bekerja di rumah kami, sambil mengumpulkan biaya melahirkan anaknya. Dan, sudah 3 bulan ini Sarti menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami. Ia bekerja sangat giat, bangun pagi dan tertidur baru larut malam. Hampir tak ada cela, rumah tertata sangat rapi dan bersih. Anak anak sejahtera, karena masakan Sarti lumayan enak. Saat kandungan Sarti mulai membesar, saya tak tega membiarkan Ibu muda itu terseok seok sendiri dengan pekerjaan rumah tangga yang sepertinya tak kunjung selesai dari pagi hingga malam. Jadi saya putuskan, urusan mencuci baju untuk sementara memakai jasa laundry kiloan.

            Suatu hari Sarti mendatangi saya, ”Bu, bagaimana caranya bisa nabung dan beli rumah” Ujarnya terbata. Saya tercengang sejenak. Gadis 17 tahun dengan kandungan yang kian membesar, sudah memikirkan atap masa depan  untuk buah hatinya.
            ”Banyak cara Sarti, nanti saya kasih tahu yaa..” Jawab saya menjanjikan. Ia pun tersenyum percaya.
            ”Soalnya, saya nggak mau pulang lagi ke kampung Bu. Tapi saya mau punya rumah sendiri, jadi kalau anak saya sudah lahir dan besar. Dia sudah punya rumah ”.
            ”Bagus Sarti, kamu memang harus punya rencana masa depan untuk dirimu dan anakmu”.

            Tak hanya terdorong oleh rasa Iba tapi juga takjub akan rencana Sarti memiliki rumah. Saya pun langsung mendatangi customer service BRI Syariah yang memiliki program KPR Sejahtera BRI syariah iB, yang membiayai rumah murah 25 juta s/d 80 juta. Selanjutnya, membawa Sarti untuk bertemu langsung dan untuk penjelasan tentang KPR Sejahtera BRI Syariah dari pihak Bank. Banyak  hal yang tak sejalan dengan nalar Sarti yang hanya tamatan SMP. Tapi ia punya semangat dan tanggung jawab yang tinggi untuk masa depannya. Hal itu, sangat membantu Sarti memahami segalanya lewat nalar dasarnya sebagai calon Ibu.

            Lewat fasilitas Calculator KPR BRI Syariah. Pelan dan sabar, saya menjelaskan kepada Sarti, untuk menabung sedikitnya 10.000 perhari dari gaji Sarti perbulan sebesar Rp. 600.000,-. Jika Sarti ingin menyicil rumah seharga Rp. 25.000.000,- selama 15 tahun. Maka Sarti saya anjurkan untuk menabung Rp. 15.000/hari. Karena uang angsuran perbulan dari rumah yang akan di belinya sebesar Rp. 316.311,-. Meski lama dan mengalami kebingungan berhari hari untuk memahami hal ini, Sarti tetap semangat mempelajarinya. Ia pun mulai menabung dan menyisihkan sebagian gajinya untuk di tabung membeli rumah.  Sarti makin giat bekerja, ia bahkan terlalu  kuat dan dewasa untuk gadis seusianya dengan beban hidup yang mungkin sebagian orang melihatnya sangat berat. Tapi Sarti menjalaninya dengan ikhlas, jarang sekali saya temui ia  mengeluh. Si cabang bayi nya pun seolah memaklumi. Sarti tak mengalami ”morning sick”. Tak ada rasa mual atau pusing, layaknya yang sering di alami Ibu hamil. Hal itu pasti karena semangat Sarti yang tinggi untuk memiliki Rumah Masa Depan bagi buah hatinya. Pernah suatu kali, saya memasuki kamar Sarti, perasaan saya langsung tertohok oleh rasa iba. Di dinding kamarnya yang sempit. Ia menempel gambar rumah mungil yang di hiasi tulisan tangannya ”Rumah untuk Dedek”. Apa yang tak mungkin, jika kita memiliki keinginan yang tinggi   untuk  mencapai sesuatu ? Dan Sarti, akan segera membuktikannya.

            Hari dan bulan pun berlalu. Proses administrasi KPR Sejahtera BRI Syariah, sangat mudah. Meski rumah Sarti belum lagi di bangun, tapi bentuknya sudah pasti. Ia pun semakin giat menabung. Menyicil angsuran dan mempelajari dengan seksama semua cara yang saya ajarkan. Tanggal 5 setiap bulannya, Sarti selalu tak pernah telat untuk menyetor angsuran KPR nya ke Bank BRI terdekat.  Senangnya melihat semangat Sarti !.

Bulan September lalu, Sarti melahirkan bayi perempuan yang cantik. Ia memberinya nama Septiani Salamah. Sesuai haknya, saya memberi cuti 3 bulan pada Sarti untuk total menyusui dan merawat bayinya. Ia masih melakukan pekerjaan rumah meski hanya yang ringan-ringan saja. Sampai saat ini, Sarti masih menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami. Dan ia tetap memufuk impiannya menjadi kenyataan untuk memiliki rumah idamannya. Insya Allah, Januari tahun depan rumah idaman Sarti akan segera di bangun. Tak ada yang tak mungkin. Memiliki rumah idaman bisa di wujudkan oleh siapapun yang punya tekad untuk mendapatkannya. Dan Sarti telah membuktikan semangat dan tekadnya tersebut.


TAMAT


Dimuat di Bulletin online BRI Syariah


Thursday, January 05, 2017

Catatan Ayah #Cerpen

(Juara 3 - Lomba Menulis Cerpen Hari Ayah by Telkomsel)

Setahun belakangan ini, sejak adik kembarku berusia  3 tahun, tiba tiba Ayah menjadi sosok yang pendiam, jarang di rumah karena makin sibuk bekerja. Terasa menjauh dari kami anak anaknya. Ayah memang jarang berbicara, ia lebih sering mengekpresikan perasaannya lewat prilaku. Tapi kini Ayah lebih sering merenung dengan mata kosong menerawang. Ingin rasanya mengajaknya berbicara, tapi Ibu sering menahan keinginanku itu.

                “Biarkan Ayah sendiri, Ia butuh istirahat”

Aku pun beringsut pergi, mengintip Ayah dari sela tirai. Matanya terus menatap halaman belakang rumah dengan tatapan hampa. Apa yang Ayah pikirkan ? Terlalu beratkah beban kerjanya ? Ia memang terlihat makin kurus dan sering terbatuk batuk. Sebagai anak tertua, kadang ingin sekali mengobrol dengannya. Pernah aku menghampiri dan duduk di sisinya, hanya berselang semenit, Ayah langsung bangkit sambil mengusap rambutku. Ada apa dengan Ayah ?

Hidup kami terbilang sederhana. Ayah bekerja sebagai karyawan swasta dengan jabatan biasa. Ibu yang dulu total mengurus kami, kini ikut menopang segala kebutuhan Ayah dengan sesekali berjualan baju dan makanan kecil. Tapi Ibu tak bisa melakukan itu setiap hari, karena harus mengurus 2 orang adik kembarku dengan kenakalan yang sekali lagi, cuma Ibu yang bisa mengatasinya. Akhir akhir ini, tak pernah sekali pun ayah menggendong mereka, Hingga Abdil dan Abdul sering mencari perhatian dengan bertingkah nakal.  

Pernah satu kali, Abdil menarik narik baju Ayah minta di belikan mainan. Ia pun berteriak dari volume sedang hingga melengking. Reaksi Ayah datar, tak marah tak juga tersenyum apalagi membujuk. Ia hanya menempelkan telunjuk di bibirnya. “Sssst....” Lalu berlalu meninggalkan Abdil yang semakin berteriak kencang. Drama sisanya, adalah bagianku membujuk Abdil yang mula berguling heboh. Inilah beban kerjaku yang paling melelahkan jika Ibu pergi berbelanja. Untung Ibu selalu membawa Abdul, agar rumah tidak terlalu kacau saat Ibu tidak ada. Jarak usiaku yang berselisih 12 tahun dengan Si kembar juga sedikit meringankan Ibu dalam mengasuh mereka.

Aku mencoba mengingat masa kecilku bersama Ayah. Ayah yang kukenal saat aku balita adalah Ayah yang penuh semangat. Sering mengajakku bermain di taman, membuatkan aku boneka dari saputangan dan banyak lagi kedekatan lainnya yang tidak di rasakan sepasang adik kembarku. Apa karena aku anak perempuan ? Tidak sukakah Ayah pada anak lelaki yang nakal ?

        “Jangan berpikir begitu, Nayla” Bantah Ibu lembut saat aku mempertanyakan sikap Ayah yang kaku kepada Abdil dan Abdul
          “Ayah sangat sayang pada kalian semua”       
         "Tapi, Ayah jarang menggendong mereka, Bu. Aku bahkan tidak pernah melihat Ayah mencium Abdil atau Abdul” Ibu menghela nafas panjang. Seolah ingin menghalau beban berat di batinnya.
        “Sudahlah, mungkin Ayah hanya lelah...beri dia waktu untuk beristirahat.

Mengurus Abdil dan Abdul memang perlu energi extra” Jawab Ibu menutup percakapan dengan senyum lembutnya. Meski tak puas, tapi aku bisa merasakan ada kepiluan di senyum Ibu. Sakitkah Ayah ? Perlahan ada kepiluan merayapi hatiku dan aku kangen Ayah !. Saat hari libur tiba, seperti biasa Ayah banyak menghabiskan waktunya dengan tidur, atau duduk termenung di halaman belakang. Aku bertekad untuk menemui  Ayah, kebetulan Ibu juga sedang berbelanja dan untungnya ia mengajak Abdil dan Abdul yang kali ini berebut ikut Ibu.

Aku mengintip pelan ke kamar Ayah, hmm...ia sedang tertidur, nafasnya tersenggal sesak. Ayah memang terlihat sangat lelah. Perlahan aku melangkah masuk lalu menghampiri sisi ranjang, ingin rasanya aku memeluk Ayah, sudah hampir 1 tahun ini aku tak pernah merasakan dekapan Ayah yang menenangkan. Hampir tumpah tangisku tapi segera teralih, saat mataku tertuju pada sebuah buku diary di meja rias Ibu. Pelan aku pun membuka halaman pertama tertulis judul besar..... BUKU ke – 27 Mulai : 1 Maret 2015......Jam 04.25 WIB Subuh pagi Dari Ayah Untuk Ibu, Nayla, Abdil dan Abdul.....Tanganku bergetar membuka lembar berikutnya.....

3 Maret 2015, Pkl 15.00 WIB

AYAH :  Ibu, Abdil tambah lucu yach. Seperti Ayah waktu kecil. Meski dari kejauhan, Ayah bisa loch mengendus bau keringatnya yang mirip sama Ayah...Nenek bilang, bau seperti itu namanya “Perengus” he he he he.....Abdul juga, ia memiliki tanda lahir seperti Ayah di punggung. Akh, andai Ayah bisa memandikan Abdul dan Abdil setiap hari J

IBU :Iya, Ibu janji akan mengurus mereka dengan baik J. Ayah tak usah khawatir.

4 Maret 2015, Pkl 07.00 WIB

AYAH :Ibu, lain kali bilang sama Nayla. Rambutnya  jangan sering di urai. Nayla kan sudah remaja. Ia cantik sekali ya Bu J Bangga rasanya melihat ia berseragam SMA. Apa dia sudah punya pacar Bu ? Ahh, seandainya Tuhan memberi Ayah waktu lebih lama lagi untuk hidup, dan bukan beberapa bulan lagi seperti kata dokter...Dia pasti akan jadi pengantin tercantik pada saat menikah nanti.

IBU :Nanti Ibu kasih tahu Nayla....Pacar sepertinya belum. Sejak Ayah terkena penyakit ini, Nayla juga jadi ikutan pendiam, jarang mau curhat. Meski Ibu tidak pernah memberi tahu ini pada Nayla. Ayah harus yakin, jangan percaya prediksi dokter ! Airmataku runtuh seketika. Dugaanku selama ini ternyata benar ! Ayahku sakit dan itu pasti parah. Tak bisa berbicara lagi dan harus berkomunikasi dengan Ibu lewat buku ini. Ini adalah buku ke 57 ? Itu artinya sudah sekian lama Ayah dan Ibu berkomunikasi lewat buku. Dan waktu hidup Ayahku tersisa beberapa bulan lagi ??! Aku mengusap airmataku yg membanjir deras, saat kurasakan jemari Ayah meraih pundakku. Aku langsung menyerusuk di dadanya. Tangisku semakin menjadi.
        “Maaf in Nay, Ayah...!”
        “Sssst.....” Hanya itu yang keluar dari bibir pucat Ayah.

Hari berikutnya, meski terasa lebih plong, terang benderang namun rasa sedih masih terus menggeluti. Lega karena memahami kondisi Ayah yang ternyata mengidap kanker pita suara sejak setahun lalu, dan sedih karena diagnosa pada penyakit Ayah yang kian kritis. Ayah bukan perokok, tapi ia bekerja di lingkungan perokok berat dan Ayah menanggung akibat menyakitkan sebagai perokok pasif.

Sejak saat itu, aku pun punya buku catatan komunikasi dengan Ayah. Hari liburnya kini banyak berdekatan dengan ku sambil saling mencatat apa yang ingin ia utarakan. Senang rasanya mendapati sosok Ayah yang hangat meski lewat catatan tangannya. Baru 1 bulan, aku dan Ayah sudah memiliki buku catatan komunikasi sebanyak 11 buku. Tak pernah lelah Ayah menulis apapun untukku. Kadang kami tertawa, berpelukan meski tanpa suara. Oh Ayah, seandainya Tuhan memberimu umur lebih panjang lagi.

 Aku berusaha mengadaptasi ketabahan milik Ibu. Meski lelah lahir batin, Ibu tetap terlihat tegar dan sabar menghadapi kenyataan harus di tinggal suami tercintanya dalam waktu dekat ini. Menurut dokter, waktu Ayah tersisa paling lambat 2 bulan lagi.

 AYAH untuk NAYLA : Nayla gadis cantik Ayah...Hari ini mungkin terakhir Ayah menulis untukmu. Meski banyak sekali yang ingin Ayah sampaikan. Untukmu, Abdil dan Abdul. Tapi Tuhan berkehedak lain, bukan karena tidak menyayangi kita, tapi karena Ayah di anugerahi seorang anak gadis  yang kuat dan cerdas menerima semua cobaan ini. Jaga Ibu dan kedua adikmu ya Nak...Salam dari Ayah yang selalu menyayangimu.
 Itu adalah catatan terakhir Ayah, yang di tulisnya selepas Sholat Subuh. Tubuhnya di temukan Ibu terbujur kaku sambil mendekat buku catatanku.

Kini tak ada lagi Ayah yang selalu duduk termenung di halaman belakang. Selama hidupnya, Ayah yang kukenal adalah pejuang keluarga yang hebat, pahlawan masa depanku. Dan dari semua hal yang di wariskan Ayah untukku, buku catatan Ayah adalah yang paling berharga, yang akan terus menjadi pedoman hidupku sampai kapanpun.
Selamat Jalan Ayah...

Di muat di kumpulan cerpen, digital book +Qbaca Lovers

Thursday, December 15, 2016

Surat Dari Surga - #Cerpen





SURAT DARI SURGA
Ria Jumriati
(Dimuat di Majalah Goodhouse Keeping Edisi Oktober)


Sejak Letisha terlahir dan melihat semua keajaiban yang bertumbuh dan terpancar pada putri kecilnya, Marla seakan memiliki pemandangan surga. Pada mata bening Letisha ia menemukan kedamaian, digelak tawanya ada keceriaan yang dapat mengganti semua kerumitan hidup dan kelelahan di tempatnya bekerja. Letisha pun semakin tumbuh menjadi gadis kecil harapan satu satunya. Marla hanya mau meninggalkan anaknya untuk urusan kerja, selebihnya ia selalu menghabiskan waktunya bersama Letisha.

 Meski kehadiran anak merupakan anugerah. Tapi proses kelahiran Letisha menggurat sesuatu yang terkadang membuat dada Marla sesak berhari hari. Bila mau diakui dengan jujur, terlalu banyak airmata dan rasa sakit yang harus dibayarnya dibanding kenikmatan bercinta dengan lelaki yang telah menyumbang benih pada kehadiran Letisha. Ia bisa saja memikul semua tanggung jawab yang di abaikan Irwan, tapi ketika proses Akte Kelahiran Letisha menuntut kartu keluarga dan  surat nikah yang harus di tanda tangani Irwan, namun kerap ditolak dengan alasan dan perkataan yang semakin membuatnya menderita.


“’Dua tahun lagi Letisha masuk TK, dia harus punya akte” Pinta Marla pada Irwan yang tak pernah mau menikahinya.
“Pake Akte tembak saja, nggak usah buat alasan macam macam lah! Bentaknya selalu sengit setiap kali Marla menuntut hal yang sama.
            “Aku hanya minta semacam, Akte Kelahiran anakmu! Dan itu perlu surat nikah yang kita tanda tangani bersama”
            “Pokoknya tidak pernah ada surat nikah untukmu, apapun alasannya !
            “Tapi Letisha anakmu Ir, sebejat apapun kamu tolong pikirkan masa depannya. Dia anak perempuan, sesekali pakai otakmu jangan nafsumu terus! Timpal Marla emosi.
             
            “Heh! Apa yang kita lakukan berdasarkan suka sama suka, kamunya saja bodoh! Harusnya cuma cari enak malah di bikin anak! Rasakan sendiri akibatnya, jangan bawa bawa aku dalam masalahmu” Serangnya tak mau kalah.

Begitulah Irwan, lelaki yang tak pernah mengenal arti cinta sejati. Pemburu sensasi dan penjerat kenikmatan sesaat. Wajah ganteng dan kemampuan merayu tingkat tinggi yang dimilikinya, menjadi modal yang sangat vital untuk menjaring mangsa dari kalangan manapun. Marla adalah korban pertamanya. Dan sama sekali tak pernah disadarinya, jika ternyata laki laki yang telah merengut harga diri dan masa depannya, justru lelaki yang dipercaya menjadi ayah buah hatinya. Nasi memang telah menjadi bubur. Tapi bubur pun bisa dimodifikasi menjadi makanan yang lezat. Sejak Irwan semakin memperlihatkan watak bejatnya, Marla memang tak mau lagi mempedulikan itu. Entah berapa banyak korban perempuan  berjatuhan akibat rayuan gombalnya. Bahkan ada yang sampai depresi dan nyaris bunuh diri. Toh, Irwan tetap melenggang bebas dengan alasan suka sama suka. Dan semakin sibuk mencari sensasi cinta kepada wanita manapun yang ia suka dan bisa terjerat dengan mudah. Tapi ketika Marla dihadapkan pada kebutuhan yang menyangkut jati diri anaknya, siapa lagi yang bisa dituntutnya selain mengejar lelaki yang hanya memiliki kandungan birahi dalam dirinya.
             
            “Sudahlah Mar, toh masih dua tahun lagi Tisha masuk TK. Mungkin bulan depan atau bahkan besok ada terbuka jalan bagi masalahmu” Nasehat Nadia – kakaknya. Saat mereka berkesempatan bertemu di satu cafe.
             
            “Tapi itu persyaratan mutlak masuk sekolah Nad. Jika aku tunda terus sementara si biadab itu semakin tidak peduli. Apa jadinya nasib Letisha nanti ?”
             
            “Berdoa sajalah, semoga ada azab Tuhan yang bisa membuat dia sadar” Jawab Nadia dengan wajah geram. Membayangkan Irwan selalu menyulut kebencian yang tak termaafkan sampai kapanpun. Entah karma apa yang telah diperbuat adiknya, hingga bisa terperangkap jaring sesatnya. Nasib Marla yang memiliki anak tanpa menikah, tentu menjadi pukulan maha berat bagi Ibunya yang sejak petaka itu terjadi,  harus sering sering menginap dirumah sakit.
             
            “Aku memang bodoh !” Seru Marla tiba tiba sambil menjambak rambutnya pelan.
            “Bukan bodoh hanya korban, sudahlah tidak usah memikirkan hal yang sudah lewat. Ingat, ada Letisha yang membutuhkan banyak energi positifmu”


Marla hanya terdiam dengan pandangan kosong. Dibenaknya terbayang vonis dokter akan kanker leher rahim yang ternyata telah lama dideritanya. Ia berusaha untuk tidak menangis.Tapi ketika wajah mungil Letisha menyembul dibenaknya. Tiba tiba tangisnya pun meledak. Nadia membisu dengan mata berkaca kaca. Dipeluknya tubuh adiknya dengan iba. Sebagai kakak,  dulu ia sangat mengenal Marla sebagai wanita yang begitu menikmati hidup, karir mapan, wajah cantik dan penganut gaya hidup metropolitan. Sayangnya dikomunitas metropolitan itu lah ia bertemu Irwan, dan memang banyak species sejenis Irwan berkeliaran di setiap lorong kehidupan metropolitan kelas atas. Tapi, Marla telah banyak berubah terlebih setelah kelahiran Letisha. Ia tetap bekerja dan menabung dengan giat. Tak ada lagi kegiatan dugem dan pesta pora yang di ikuti sejak ada manusia kecil dihidupnya. Bahkan kebiasaan merokok yang sempat membuat kedua orang tuanya frustasi, ternyata mampu berhenti seketika karena kehadiran anak. Letisha telah memberi begitu banyak hal positif dihidup Marla. Hingga keluarga besarnya pun, tak lagi mempermasalahkan kebodohan dan kecerobohannya masa lalunya.Malah berbalik mengasihaninya.
             
            “Marla, menurutku kalau cuma soal akte kelahiran Tisha yang menjadi tujuan utamamu mengejar Irwan, untuk apa sih buang energi untuk manusia bejat itu ? Ini cuma masalah administrasi yang diminta pihak kelurahan kan ? Untuk sementara masukkan saja nama Tisha di kartu keluargaku dengan predikat sebagai anak ke 3 ku. Seminggu pasti deh aktenya Tisha keluar” Tutur Nadia memberi solusi.

            “Bukan hanya itu Nad, Aku....aku ingin, aku ingin di akte kelahiran Tisha akulah yang tertulis sebagai ibu kandungnya dan Irwan sebagai ayahnya. Kalau pakai kartu keluargamu, pasti  namamu dan Mas Poer yang tercantum”
            “Ini kan hanya solusi sementara, mudah mudahan 2 atau 3 tahun lagi akte Tisha bisa di ubah sesuai keinginanmu. Dokumen apa sih yang nggak bisa dibayar di negeri ini ?” Imbuh Nadia santai, namun mendadak disambut oleh ledakan tangis Marla.
             
            “Loh, Marla ?! Kok nangis sih ? Ini kan sementara saja, kalau kamu tidak setuju, kita cari jalan keluar yang lain, ok ?” Bujuk Nadia bingung sambil memeluk adiknya.
            “Karena umurku tidak akan selama itu Nad...!” Bisik Marla sambil terus terisak pedih.
            “Apa ??? Jangan putus asa Mar, ingat kamu masih punya keluarga yang sangat menyayangimu dan Letisha”
            Marla berusaha menenangkan diri sambil menyeka airmata yang terus mengalir dengan tissue. Beruntung posisi duduk mereka ada dipojok, hingga hanya menarik perhatian beberapa orang waiters dan bukan pengunjung cafe.
             
             
            “Dua bulan lalu, aku....aku...divonis positif menderita kanker serviks stadium lanjut. Dan menurut perhitungan dokter, umurku tidak sampai satu tahun. Untuk itulah Nad, sebelum aku benar benar di panggil Tuhan. Aku mau urusan jati diri Letisha beres, hingga ia bisa mengingatku sebagai ibu kandungnya. Dan akte itu adalah bukti seumur hidup yang akan dipergunakanya terus sampai dewasa” Tuturnya penuh isak. Nadia tak sanggup berkata kata, airmata yang sama deras akhirnya bobol juga. Ia kembali memeluk tubuh Marla. Tak ada lagi kalimat yang mampu terluncur dari keduanya. Mereka hanya saling berpelukan dan menangis.
***
            Hari berjalan dalam derap takdir yang pasti. Marla berusaha tetap tenang menghitung hari. Ia terduduk di meja kerjanya sambil menulis beberapa surat yang dimasukkan dalam beberapa amplop terpisah. Kertas surat dan amplop yang di beri ornamen dan hiasan kartun kesukaan putrinya. Di ujung pembaringan Letisha tengah tertidur dengan damai. Marla berusaha untuk tidak menangis lagi, dihampirinya buah hatinya sambil mengelus pipi gembilnya. Semakin dekat dengan hari yang ditentukan dokter, Marla berusaha berdamai dengan nasibnya. Ia tak lagi memiliki semangat mengejar Irwan. Meski kabar terakhir yang ia dengar, Irwan masuk penjara karena kasus Narkoba. Ia pun berhenti mengeluh dan lebih banyak berdoa, berharap ada keajaiban di hidupnya, meski berbanding terbalik dengan kenyataan yang dirasakannya kini. Rasa sakit akibat penyakit yang dideritanya, seolah menjadi sinyal bahwa ia pun tak lagi sanggup menahannya terlalu lama. Dan bila Tuhan memanggilnya lebih cepat, itu semata karena Tuhan tak ingin membuatnya menderita terlalu lama.
             
            “Hai, lagi ngapain ? Aku bawakan schottel macaroni keju kesukaan Tisha loh” Tiba tiba Nadia muncul di depan pintu kamarnya. Marla tersenyum girang menyambutnya.
            “Wah, aku juga suka tuh!” Serunya senang seraya mengambil bungkusan di tangan kakaknya.
            “Mar, bagaimana kondisi mu? Tadi aku telpon kekantormu, katanya kamu cuti seminggu, makanya aku langsung kemari”
            “Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Tisha”
            “Aku punya teman yang bisa sembuh dengan pengobatan alternatif. Kalau kamu mau, lusa aku mau mengajakmu kesana”
             
            “Tidak usah Nad, terima kasih. Sudah cukup aku merepotkan hidupmu. Aku hanya minta tolong, jangan pernah beritahu Ibu tentang penyakitku ini ya, kasihan dia” Tuturnya mulai sedih lagi.
            “Tapi Mar…kau adikku, dan aku tak mau kehilanganmu!”
            “Nad, aku hanya minta tolong satu hal padamu” Pinta Marla seraya berdiri mengambil beberapa amplop yang telah disiapkannya tadi, dan menyerahkan pada Nadia yang termangu bingung.
            “Surat surat untuk Letisha ?? Sebanyak ini, untuk apa Mar ?”
            “Ada 23 surat yang aku tulis  sejak aku divonis penyakit ini. Aku mohon, kirimkan kepada Letisha setiap hari ulang tahunnya, anggap saja itu surat yang aku kirim dari surga untuk memberinya ucapan selamat dan meyakinkan dirinya, bahwa aku selalu sayang dan mengingatnya”
            “Jangan berkata begitu Marla, kamu akan terus hidup sampai Tisha dewasa!” Seru Nadia terisak. Marla hanya tersenyum gamang. Ditangannya masih tersisa satu amplop namun dengan ornamen putri dan pangeran yang tengah menikah.
             
            “Oya, masih ada satu surat lagi. Aku selalu berdoa Letisha mendapatkan jodoh dan pria terbaik di usianya yang ke 26. Mohon  kirimkan surat ini padanya ya. Ada beberapa nasehat yang aku tulis untuk hari pernikahannya kelak. Ya Tuhan ! Dia pasti akan sangat cantik dihari bahagianya itu” Tutur Marla dengan mata terpejam dalam senyum,  namun hanya mengundang ledakan tangis Nadia, yang  langsung memeluk adiknya erat.
***
             
            Enam bulan kemudian, kondisi Marla semakin kritis. Ia terbaring lemah di rumah sakit namun dengan wajah yang tetap di sinari semangat. Letisha ikut berbaring disampingnya, seolah tahu waktu kebersamaan dengan Ibu hanya tersisa sedikit lagi. Beberapa keluarga telah berkumpul dengan wajah yang menyiratkan kesedihan yang sama. Hanya Nadia yang tak terlihat. Sejak kondisi Marla kian buruk, ia lah yang mati matian mengejar Irwan untuk mendapatkan akte Letisha, dan ternyata tak terlalu sulit karena akhirnya Irwan begitu gampang di temui di ruang sel nya yang kotor dan dingin. Hampir sore menjelang, Nadia pun datang dengan selembar Akte ditangannya. Ia langsung menghampiri adiknya yang sudah dalam keadaan setengah sadar.
             
            “Marla…Marla…aku berhasil mengurus akte Tisha. Lihat ! tercantum namamu dan Irwan sebagai orang tuanya”
Marla yang kian lemah hanya melirik akte yang memang tercantum namanya dan Irwan. Ia tersenyum bahagia. Semenit kemudian, detak kehidupan Marla pun terhenti dan berganti dengan tangis pilu yang menyayat hati.
***

Letisha Permata hatiku......

Disurga memang hanya ada kebahagiaan dan kesempurnaan. Dan dihari pernikahanmu yang indah ini, Mama mengirimkan surat ini untukmu dan menitipkan doa kebahagiaan dan kesempurnaan dari surga untuk kehidupan pernikahanmu kini dan nanti. Siapapun pria yang berhasil mendapatkan hatimu, Mama yakin dia lah yang terbaik yang telah di pilih Tuhan untuk menjaga hidupmu. Salinglah menjaga senantiasa, hadirkan hanya kebahagiaan dan kebersamaan di hidup kalian.


Doa penuh kasih dan cinta dari Mama di surga


Letisha menyeka airmatanya sambil menutup amplop berwarna merah muda dengan ornamen wedding party yang diberikan Nadia di hari pernikahannya. Nadia memang telah menjalankan amanahnya membesarkan Letisha dan membawanya ke gerbang pernikahan bersama pria terbaik sesuai harapan Marla.
             
            “Itu adalah surat terakhir yang dikirim Mamamu dari surga”
            Letisha menatap Nadia dengan mata basah. Sejujurnya, surat surat itu adalah  wujud lain dari kehadiran Marla di kehidupan Letisha selama ini. Setiap kali membacanya, Letisha seolah mendengar langsung suara lembut Ibunya.
             
            “Mamamu pasti tahu, hidupmu akan lebih berwarna, indah dan bahagia setelah menikah. Dan tante yakin, kini Mamamu hanya perlu mengirimkan doa untukmu dari surga”


Letisha memeluk Nadia yang telah dianggap sebagai Ibu kandungnya. Surat Marla memang tak pernah datang lagi. Namun semua surat yang bertanda tangan Marla disimpan dan di jaga oleh Letisha melebihi harta paling berharga yang dimiliki dalam hidupnya, dan tetap ia yakini datang dari surga. Ia bahkan tak terlalu menggubris akte kelahiran itu. Surat surat dari surga itu telah menjadi bukti yang memberi keyakinan dalam pada Letisha akan  kebesaran cinta Ibunya yang tiada dua.


TAMAT