Thursday, December 14, 2017

Emak - Kompetisi Blog #KarenaIbu

EMAK 

Semasa remaja, terus terang Aku tidak pernah merasa bangga memiliki Ibu seperti yang setiap hari Ku panggil “Emak”. Tubuh gembur, selalu lelah, terkadang sering marah tanpa sebab dan sering ikut campur urusanku sebagai remaja yang sedang bersemangat mencari jati diri. Dari semua yang di tampilkan Emak, satu kesimpulan ku. Ia adalah Ibu rumah tangga yang tidak bahagia. Pernah Aku begitu membencinya, karena melarangku ikutan hiking bersama teman sekelasku. Alasannya konyol sekali, takut Aku di gigit ular. Dari sekian banyak siswa yang ikut, apakah tiba tiba hanya aku yang di pilih Si  Ular sebagai mangsa utama ? Marah dan kecewa, Akupun nekat kabur dan tetap ikut hiking tanpa menghiraukan jeritan pilu Emak.

Sesama teman se-gank, hanya Aku yang tak pernah membanggakan keberadaan Emak. Sita selalu aktif memposting foto-foto Mommy nya di social media, yang langganan menjadi pembicara di berbagai kelas motivasi. Diana, rutin dan begitu antusias membedah novel – novel best seller tulisan Bundanya. Sedang aku ? hanya punya Emak yang cuma bisa memasak, mencuci, setrika dan selalu terlihat lelah. Apa yang bisa di banggakan ? Bukankah itu mirip mirip pembantu rumah tangga ?  Kelebihannya cuma karena dia adalah Ibu yang melahirkanku. Bertahun tahun aku di siksa dengan perbedaan itu. Bertahun tahun aku mengutuki nasib, kenapa punya Emak yang tak punya prestasi membanggakan seperti Mommy Sita dan Bunda Diana. Aroma kedua wanita itu pun semerbak wangi parfume bermerek, sementara Emak ? terkadang bau bawang atau minyak angin. Tidak pantas untuk di pamerkan  !

Tahun pun berlalu, Aku memilih kost dan jarang bertemu Emak. Semakin hari, Emak terlihat lebih tua dibanding wanita sebayanya. Ada perasaan kosong saat berjauhan dengan Emak. Tak ada lagi rendang lezat buatannya, suara cemprengnya saat membangunkan Aku untuk sholat shubuh, dan sarapan nasi uduk yang selalu sempat dibuat untuk keluarganya meski harus bangun pukul 4 pagi setiap hari. Tiba tiba aku kangen bau bawang dan minyak angin Emak.
Entah karena apa, sekonyong banyak hal salah yang telah aku lakukan pada Emak. Seorang Ibu, yang tak pernah Ku akui prestasinya. Namun, membuat Sita dan Diana serta temanku yang lain selalu memilih rumahku sebagai tempat belajar, karena satu alasan. Bisa merasakan “Rujak Tumbuk” ala Emak yang kelezatan bumbunya tak bisa di temui di resto manapun. Atau Pisang Goreng Kremesnya yang tak harus memakai borax tapi tetap garing hingga berjam jam. Emak Ku yang selalu memohon hingga memaksaku menjual nasi uduk buatannya sebagai tambahan belanja dapur, tapi sering ku tolak meski selalu laku keras ketika dengan terpaksa aku pernah membantu menjualnya. Dan semua itu, tak pernah kuanggap sebagai prestasi. Aku tak pernah menyadari, karena jerih payah Emak Aku bisa meraih semua ini !
 “ Emak, lagi ngapain ?” Tanyaku melalui telpon. Geruduk sesal menyeruak ramai di hatiku.
Tak biasanya, suara Emak terdengan pelan bahkan hampir merintih. Tak ada sepatah kata yang terucapan, hanya desahan nafasnya yang terdengar melalui handphoneku.
                “Emak..Emak kenapa ? Kok tidak ada suaranya ? Jawaban yang terdengar adalah suara Bapak.
                “Emak sakit Nak. Kalau kamu tidak sibuk, pulanglah” Pinta Bapak pelan.
                “Kenapa aku tidak di beritahu dari awal Pak!” Protesku sedih.
                “Emak tidak mau mengganggumu, karena takut kamu marah”

Marah ? Sedurhaka itukah Aku Tuhan ? Aku terhenyak pedih. Geruduk sesal itu semakin kencang menghujam dadaku.  Perjalanan menuju rumah dan bertemu Emak, serasa begitu panjang. Aku ingin bertemu Emak, ingin memeluk Emak, ingin bersujud dikakinya dan memohon ampun !. Waktu seakan menghantuiku, waktu menyeringai tajam mengejekku dan waktu pasti menghukumku sebagai anak yang tak pernah menghargai jasa Ibunya.

Sesampai di rumah, hanya ada kelenggangan. Ku buka pintu rumah yang tak terkunci. Kamar tidur Emak sudah di penuhi beberapa orang. Wajah duka dan tangisan pilu. Aku tersungkur lunglai.
Emak.....jangan pergi ! Dan semua terasa melayang dan gelap.

“Emak, meski kata maaf ini tak sempat kau dengar terucap dari bibirku yang terlalu angkuh mengakui kehebatanmu. Tetaplah ampuni Aku, pada gundukan tanah liat tempat jasadmu tersemayam. Ku panjat dan kumohon doa, agar waktu tak menghujatku karena tak pernah menghargai jerihmu.

Emak, pada taburan bunga kematianmu. Izinkan aku menitipkan sepanjat doa meski berhias sesal yang tak selesai hingga Tuhan kini menggenggammu dalam keindahan hidayah dan amalan hidupmu.

“Emak, biarkan dan izinkan aku tetap mengenangmu dalam gaungan doa di batinku...
Istirahatlah Emak,  Izinkanlah doaku menemani setiap langkah panjangmu menuju Surga Illahi Rabbi”

Kututup hari dengan jutaan bayangan wajah lugu, sedih, ceria dan lelah yang tergurat silih berganti di wajah Emak. Kepiluan bertabur sesal mungkin tak pernah hilang, sampai karma menyapa dan mungkin bisa menyapu semua dosaku.








Wednesday, November 08, 2017

Cinta Berlogika #Cerpen





CINTA & LOGIKA
Ria Jumriati

7  Tahun pernikahan, menurut banyak orang mestinya sudah melewati masa krisis. Tapi bagi rumah tangga Arlene, justru krisis dan berbagai cobaan tengah mengalami titik kulminasinya. Ia pernah hampir menyerah karena tak sanggup lagi pada perlakuan Kevin yang semakin membabi buta menyakiti Arlene. Tapi selalu urung karena alasan cinta. Meski tak ada kekerasan fisik, tapi akibat yang di alami Arlene melebihi siksaan tubuh.
Sudah hampir setahun ini, Kevin ketahuan selingkuh dengan salah satu perempuan di panti pijat langganannya. Mereka bahkan telah mengontrak rumah dan hidup bersama. Belum lagi, nafkah bulanan yang perlahan tak lagi di setor Kevin untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Tapi Arlene mencoba bertahan. Ia tetap membawa deritanya dalam doa. Keyakinannya sangat tinggi, pada janji pernikahannya. Bahwa mereka yang telah di satuan Tuhan, hanya bisa di pisahkan oleh maut. Arlene penganut Katolik yang taat. Dulu hingga kini, cintanya pada Kevin tak pernah berubah. Tapi Arlene, manusia biasa dengan keterbatasannya dalam menahan rasa sakit, yang terus di uji suaminya hingga melewati atas manusia pada umumnya. Arlene terlihat kuat, tapi kadang hampir menyerah, linglung dan pasrah.
          “Pikirkanlah yang terbaik, kau tidak bisa hidup terus menerus seperti ini. Kasihan anakmu” Ujarku sambil menyeka airmata sahabatku lembut. Spontan ia meraih jemariku, meremasnya dengan tangisan seseguk. Seolah meminta kekuatan yang kian tererosi emosi dan dukanya. Aku terlarut iba. Beberapa menit kemudian, Arlene mulai tenang.
          “Apa salahku, Niken ?”
          “Tidak ada, kau perempuan sempurna”
          “Lalu mengapa Kevin begitu tega memperlakukan aku seperti ini ?”
          “Pernahkah kau tahu, seberapa dalam Kevin mencintaimu ?” Mata sendu itu menatapku bimbang. Lalu menggeleng sedih.
          “Arlene....maaf, bolehkah aku tanya sesuatu yang lebih pribadi ?” Ia kembali menatapku, airmatanya  masih berlinang. Mendesah lalu mengangguk pelan.
          “Kau pasti setuju, bahwa mencintai adalah persetujuan dua pihak. Jika hanya sendiri itu berarti mimpi. Tetap mencintai sementara Ia bersama yang lain, itu...itu adalah kebodohan. Dan aku tahu, kau bukan jenis perempuan seperti itu”
          “Tapi aku mencintainya ! Tetap setia dan mau berkorban apapun untuk kebahagiaannya. Apakah itu tidak cukup ?? !” Timpalnya terisak.
          “Pernikahan adalah keseimbangan Arlene, kesetaraan dan pengertian. Tidak berat sebelah dan kosong di satu sisi”
          “Tapi aku yakin, semua cinta dan pengorbananku untuk Kevin. Pasti akan membuatnya mencintaiku. Meski awalnya, Ia memang tak pernah mencintaiku. Semua bermula dari keinginanku. Kevin menikahiku karena.......karena saat itu aku lebih memilih mati saat Ia memutuskan untuk meninggalkanku”.
          “Arlene, fondasi pernikahan tak cukup di bangun oleh cinta dan pengorbanan yang datang darimu. Harus di topang oleh dua sisi. Tak ada pernikahan yang bisa tegak sempurna jika hanya satu orang yang mengusahakannya. Jika Kevin tetap tak bisa mencintaimu, Apakah kau masih menganggap pernikahanmu memiliki fondasi yang kuat ?”.
          “Aku menikah Katolik, Niken. Kevin tak bisa menceraikanku !”
          “Tapi ia berselingkuh, membuatmu menderita dan tak pernah menjadi milikmu seutuhnya. Buka mata hatimu Arlene!”
          “Tapi...Aku...aku...”
          “Arlene, jujur lah ! Selama 7 tahun pernikahanmu, sudah berapa kali Kevin bertingkah dan memancing perceraian? 3..4..5 ? Bahkan ketika kau tengah mengandung Shanne, ia tega meninggalkanmu lalu melahirkan tanpa suamimu yang seharusnya ada disisi istrinya yang tengah meregang nyawa !”
          ”Tapi Kevin Ayah yang baik. Ia sangat menyayangi Shanne” Timpalnya masih membela. Aku menarik nafas dalam.
          ”Jika Kevin tak menyayangi anaknya sendiri. Aku tak tahu lagi, species jenis apa yang pantas di kategorikan untuknya. Sadarlah Arlene..”
          “Maksudmu ??? Aku harus menceraikannya ? Dan merelakan suamiku hidup bersama pelacur itu ?!”
          “Arlene, kau perempuan yang sempurna. Hidup dan cintamu terlalu berharga dan mulia untuk kau berikan pada lelaki seperti Kevin”.
          “Tapi bagaimana dengan pernikahanku, aku pasti berdosa”
          “Saat dulu kau memilih bunuh diri, ketika Kevin menolak menikahimu. Saat itu kau tengah menentang takdir Tuhan. Ini adalah akibat dari keseimbangan takdir yang sudah IA gariskan. Percayalah Arlene, kau pasti akan bisa melewati semua ini dan mendapatkan yang terbaik”
          “Aku...aku tidak bisa hidup tanpa Kevin....aku sangat mencintainya, Niken”
          “Tapi ia tak mencintaimu. Ia lebih nyaman hidup dengan perempuan panti pijat, di banding dengan seorang Arlene – Perempuan cantik, cerdas, karir cemerlang dan patuh pada Tuhannya. Cintamu terlalu murni Arlene, hanya pria sejati berhati putih yang bisa mengenalinya...dan sayangnya, itu bukan Kevin”.
          Arlene terdiam lama. Hanya desahan nafasnya yang makin tak teratur. Aku membiarkannya untuk mencerna semua perkataanku.
          “Haruskah aku menyesal, Niken ? Ujarnya kemudian.  “Ibuku pun dulu pernah menasehatiku seperti itu. Tapi aku peduli. Bagiku Kevin adalah segalanya” Ujarnya dengan mata menerawang. Aku menimpali dengan senyum sambil mengusap punggungnya lembut.
          Nafas Arlene perlahan mulai tenang. Airmatanya pun mengering. Ia kembali meraih jemariku. Tak lagi diremasnya. Ia mempermainkan cincin kawin di jari manisku. Perlahan ada senyum kecil di sudut bibirnya. Meski airmatanya kembali menetes. Aku bisa merasa lega, telah memberi sedikit pencerahan di hatinya.
          “Niken, mau kah kau membantuku melewati semua ini ?”
          “Tentu...kau sahabatku. Aku ingin yang terbaik buat hidupmu”
          “Bisakah aku hidup tanpa Kevin ?”
          “Kau perempuan yang kuat Arlene. Tuhan pasti tak pernah berencana menyatukan mu dengan pria yang hanya menjadi algojo bagi batinmu. Tuhan pasti sangat menyayangimu, dan ingin membuatmu melihat, bahwa kemurnianmu tak sepadan dengan kebejatan Kevin selama ini. Kau perempuan berhati permata, Arlene. Percayalah itu....”
          Perlahan, aku melihat kekuatan berbeda di mata sahabatku. Desahan nafasnya tak lagi beraroma derita. Tapi keyakinan yang membawa pikirannya untuk mengenal cinta berlogika. Sesungging senyum kembali terhias di bibir mungilnya. Meski tak mudah melepas cintanya pada Kevin. Arlene pada akhirnya semakin memahami......Bahwa....

Mencintai adalah persetujuan dua pihak, jika hanya sendiri itu berarti mimpi
Mencintai bukanlah tetap menunggu saat dia meninggalkan, itu adalah pengkhianatan.

Mencintai bukanlah derasnya airmata derita karenanya, itu adalah pelecehan jiwa
Mencintai bukanlah tetap setia sementara dia bersama yang lain, itu adalah kebodohan...

Aku yakin, Arlene akan semakin menyadari dan belajar untuk mendapatkan dan mempertahan cinta sejatinya. Dan kali ini, ia akan selalu menyertakan logika dalam prosesnya.

TAMAT



(dimuat di majalah Goodhouse keeping)

Wednesday, September 13, 2017

TIPS & TRIK BERPACARAN DENGAN BOS DI KANTOR #Artikel

                                                            image : from google

Dewi cinta alias  cupido memang tidak terlalu pandai melesatkan anak panahnya. Bisa menancap di mana pun, kapan saja dan tak pandang bulu. Cupid juga tidak pernah cek latar belakang korbannya. Mau sudah menikah atau jomblo, yang penting mission completed ketika busurnya mengenai hati seseorang. Konon salah satu tempat favorite si Cupid ini, adalah kantor. Wah, pantes banyak banget cerita perselingkuhan yang terjadi di kantor !.

Nah, bagaimana jika seorang Bos yang memegang kendali atas semua kebijakan professional kemudian jadi korban si Cupid nakal ini, dan busur beracun cinta itu menancap juga di salah satu hati anak buahnya. Seru nih ! Karena siapa yang berani melarang Bos yang lagi kasmaran ? Bisa kena PHK atau resiko tidak naik jabatan. Namanya juga lagi jatuh cinta, slogan dunia milik berdua akan tetap berlaku. Gunjingan sana sini kadang menjadi samar atau malah tak terdengar karena tebalnya dinding kekuatan cinta.

Berikut ada saran bijak bagi anda sebagai Bos yang kasmaran dengan anak buah, juga bagi anda sebagai bawahan yang tersangkut cinta nine to five dengan atasan.

Bagi anda berdua, bersiaplah menerima konsekwensi masa sulit dan masa bahagia saat menjalin kisah kasih di ruang professional, terutama bagi anda yang sudah memiliki pasangan tetap dirumah yang pasti mengira anda adalah suami/istri  yang setia.

Simak tips dan trik sederhana bagi Anda sebagai Bos atau bawahan yang menjalin cinta di kantor yang sama :

ü  Hindari panggilan mesra, tetap jaga professionalisme kerja dengan memanggil dengan “Pak atau Bu”.
ü  Jangan biarkan emosi dan ego menjadi pertengkaran di tempat kerja. Ingat, pasangan yang sedang kasmaran sangat mudah terbaca dari gesture dan sorot mata.
ü  Sebagai Bos merangkap ‘kekasih’ apalagi ada embel-embel ‘gelap’, memang tidak mudah menjaga objectivitas diantara anak buah yang lain dan kekasih Anda. Tetaplah bersikap bijaksana dalam membagi volume kerja kepada yang lain. Hindari perlakuan ‘My Princess My Everything’ apalagi perlakuan anak emas. Trust me, it’s smell so badly !

ü  Bagi Anda yang berhasil membuat Bos Anda bertekuk lutut dengan kekuatan cinta yang bisa mengalahkan budget tahunan perusahaan. Tetaplah memijak bumi, Anda memang pemenang diatas para anak buah Bos anda di kantor dan juga Istri dan anak-anaknya di rumah. Nikmatilah  kemenangan mendapatkan sebuah kekuatan cinta,  meski di luar kewajaran, tetaplah berlaku bijak agar karma tak segera mencari alamat Anda. Toh, anda tidak bisa disalahkan juga. Salahkan si cupido, pastinya. Dan, bagi Anda yang memacari Bos Jomblo. Tetap lah bersikap elegan, hindari kesan pongah dan merasa pasti bisa mendapatkan segalanya. Satu hal lagi,  tetap berhati hati memilih teman curhat. Jangan memilih teman sekantor apalagi yang satu team dengan Anda. Hal ini, bisa menjadi boomerang karena akan ada kecemburuan social yang siapa tahu di pendam teman Anda.

ü  Saran terakhir untuk Bos dan bawahan yang terlibat cinta. Hindari terlalu sering berduaan di sela sela jam kantor. Bermain cantik dengan waktu, selalu ada ruang indah yang di sediakan Cupid untuk mereka yang sedang kasmaran. Nasehat terbaik, bermesraan lah ketika jam kantor telah berakhir – office ethic harus tetap di jaga, di luar jam itu,  It’s all yours !




#Artikel 
#BukanCurhat

Tuesday, May 16, 2017

Gifted - #MovieReview

Movie Review

Title                : Gifted
Release           : 7 April 2017 (USA)
Reviewed by   : Ria Jumriati



Satu kata pembuka untuk film "Gifted"- Keren !. Hampir tidak ada cela baik jalan cerita dan para pemeran di film ini. Misinya sangat jelas, menyadarkan orang tua tentang bagaimana meletakkan dunia anak pada tempatnya. Mengikis ego sebagai manusia dewasa dan tidak membiarkan anak tumbuh melampui usia dan emosinya. Hingga tak ada lagi kalimat "Anak anak yang terjebak di tubuh orang dewasa".atau sebaliknya.  
Mary - gadis berusia tujuh tahun dengan kemampuan matematika luar biasa, diturunkan secara genetik dari Diana - Ibu kandungnya yang meninggal bunuh diri karena stress akibat perlakuan Ibunya yang terlalu protective dan memaksa kemampuan matematikanya untuk menyelesaikan obsesi masa mudanya sebagai ahli matematika yang tak pernah terwujud.  Diana tumbuh sebagai remaja penuh tekanan, dilarang berpacaran dan orang yang di cintainya malah di tuduh penculik oleh Ibunya ketika mereka berdua tengah berlibur bersama, Diana yang frustasi akhirnya  hamil di luar nikah dengan lelaki yang sama sekali tidak terlalu di kenalnya, dan menghasilkan Mary - gadis kecil jenius yang tidak di  harapkan tumbuh seperti dirinya. Sebelum kematiannya yang tragis, Diana menitipkan Mary pada Frank - Adiknya, yang juga lebih memilih menjadi montir perahu boat di banding menjadi assistant professor seperti keinginan Ibunya. Di tangan Frank, Mary di ajarkan tumbuh menjadi selayaknya anak - anak. 
Tiba saat Mary harus memasuki dunia sekolah - Frank nekat mendaftarkannya di sekolah umum, meski sudah ditentang Roberta - Tetangga Frank yang mengasuh Mary setiap hari libur. Roberta khawatir, bakat luar biasa yang di miliki Mary akan menjadi boomerang bagi kehidupan Frank dan Mary.  Benar saja, seminggu memasuki sekolah umum, Mary mulai memperlihatkan "bakat" luar biasanya. Hingga akhirnya tercium oleh sang Nenek, yang langsung menyewa pengacara untuk mendapatkan Mary demi meneruskan obsesinya sebagai ahli matematika.  Tak ada yang menjadi pemenang dalam merebut hak asuh Mary. Hakim memutuskan untuk memberikan Mary pada orang tua asuh yang di nilai normal untuk membesarkan Mary. Namun, kelicikan Ibu Frank justru tetap memaksa Mary untuk menjadi ahli matematika serta memasung kekebasannya dengan menempatkan Mary pada sekelompok ahli matematika untuk memecahkan sejumlah algoritma rumit di sebuah faviliun rumah orang tua asuh Mary. 


Freed Kucing kesayangan Mary pun di buang Neneknya - Satu satunya mahluk hidup yang membuat Mary bisa tersenyum setelah berpisah dari pamannya - Frank yang mengetahui hal ini dari guru Mary segera menjemput Mary dan menyadarkan Ibunya tentang obsesinya yang telah memakan korban anaknya sendiri. Moment super menyentuh saat Frank meminta Mary untuk pulang dan menyadari kesalahannya telah menitipkan dirinya pada orang tua asuh meski itu adalah perintah pengadilan. Gesture keduanya begitu natural dan berkesan. Memintal emosi penonton pada satu bentuk ikatan yang sulit di lupakan. Setidaknya begitulah kesan yang saya dapat. 

 "School is gonna be fun, you're gonna meet friends you can borrow money from the rest of your life"
 "My sister wanted Mary to be a kid. She wanted friends and to be happy" #GiftedMovie


"Mary : Is there a God?
"Frank : Yeah..I don't know.
 "Mary : Roberta believe in God, How about Jesus ?"
"Frank : Well, I love that Guy"  
 😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊





Thursday, April 27, 2017

Terima Kasih Tuhan..


Sejak zaman SMP sampai sekarang ini, saya sering kali di pilih oleh beberapa sahabat saya sebagai tempat ‘curhat’mereka. Ada cerita yang biasa saja, berat bahkan tabu. Dan saya punya komitmen untuk menjaga rahasia itu bahkan kepada suami saya sendiri. Banyak hikmah yang saya dapat. Cara berpikir saya pun beberapa terevolusi dari banyak kasus dan masalah yang menimpa para sahabat saya tersebut. Utamanya rasa bersyukur, meski klise tapi memang patut di yakini bahwa kebahagiaan itu hanya bisa kita dapatkan dari mensyukuri apa yang kita miliki dan bukan mengeluhkan apa yang belum  kita punyai.


Di banyak pendapat umum, pola pikir hampir kebanyakan orang bahwa kebahagiaan adalah ketika karir gemilang dan materi berlimpah, suami atau istri setia, anak anak tumbuh sehat dan bahagia, memiliki ipar, sepupu dan keluarga besar yang saling mendukung. Saya tidak memungkiri pendapat itu. Bagi saya itu adalah kesempurnaan dan selalu ada garis tipis yang memisahkan antara makna kesempurnaan dan kebahagiaan. Dari semua cerita duka perjalanan nasib para sahabat saya, ada beberapa kesimpulan dan tentu hikmah yang bisa saya petik. Bahwa kesempurnaan tak selalu menjanjikan kebahagiaan. Tapi kebahagiaan bisa meraih kesempurnaan dalam pola rasa bersyukur kita pada kehidupan ini. Menyesuaikan pola kesempurnaan kita pada batas rasa syukur kita pada anugerah ini, secara perlahan akan membawa kita pada kebahagiaan yang memang sepadan dengan apa  yang kita butuhkan. Ibarat memilih baju atau sepatu, akan terasa enak dan nyaman di pakai ketika ukuran, model dan motifnya sesuai dengan ukuran tubuh dan selera kita. Memang selalu ada pendapat nyinyir tentang pilihan selera yang tak sesuai dengan keinginan umum, tapi jangan biarkan hidup kita berkubang di dalam ukuran sepatu orang lain. Intinya, kesempurnaan adalah kebahagiaan kecil yang bisa selaras dengan banyak lini di kehidupan kita.
 

Ada beberapa  cerita yang saya dapat dari beberapa sahabat saya, yang jelas mencerminkan pola kesempurnaan yang tak mendatangkan kebahagiaan pada mereka dan sebaliknya. Sebut saja Rasty – Cantik, karir cemerlang, anak sehat, pintar masak dan jago cari bisnis sampingan. Tapi sering tersedu sedu dan curhat mengenai suaminya yang doyan selingkuh. Sampai akhirnya ia pun tak sanggup dan memilih untuk bercerai. Lain halnya, sebut saja Agny – 12 tahun menikah dan belum di karuniai anak dengan karir dan kehidupan yang jauh dari kemewahan apalagi kaya. Toh bisa sangat berbahagia dengan banyak binatang peliharaannya yang di asuhnya bak anak kandung sendiri. Ketika saya menyarankan untuk mengadopsi seorang anak, dengan bijaksana Agny menjawab : “Binatang juga mahluk Tuhan, jika saya dan suami bisa memberikan kasih sayang tulus pada ciptaannya, Dia pasti akan memberikan anugerah lain, yang berhubungan dengan kasih sayang”. Saya terenyuh mendengarnya. Bagi saya Agni  lebih memilih cara berdoa dengan tindakan serta pembuktian tulus. Dan saya sangat merasakan aura kebahagiaan begitu menyebar indah di seluruh penjuru ruang di kediamannya. Agni telah membuat pola kesempurnaannya sesuai dengan kehidupan yang dapat membuatnya bahagia.
 

Ketika sebuah masalah bisa merefleksikan rasa bersyukur dan interospeksi diri, saya semakin merasa kaya. Tak terhitung anugerah Illahi yang telah saya dapatkan selama ini. Rumah mungil kami semakin terasa luas oleh cinta, ketulusan, kesetiaan dan komitmen yang Alhamdullilah tetap terikat kuat hingga kini, dan Insya Allah hingga ajal menyapa. Kemewahan tertinggi adalah ketika tonggak Iman semakin terbangun kuat di pondasi kehidupan kami. Menaungi, menyinari dan menghembuskan semilir hidayah pada keluarga kecil kami yang sederhana dalam pola kesempurnaan hidup yang sesuai dengan kebahagiaan yang kami inginkan.

Masalah, tentu akan selalu ada, dan itu lah seninya kehidupan. Ibarat bermain kartu, jangan pernah menyesali kartu kartu kehidupan yang sudah ada di suratan tangan kita. Tapi bagaimana cara memainkannya agar hidup terasa berwarna dalam banyak tantangan yang beraneka. 

Wednesday, March 29, 2017

Permainan Mencari Keajaiban #Opini







                                                                      image : devianart
Tuhan tidak pernah salah dalam menciptakan manusia. Asal muasal manusia tetaplah mahluk yang paling sempurna di banding Setan bahkan Malaikat. Diberi akal, pikiran dan budi pekerti serta nurani dengan suara hati yang suci. 
Namun, ada peran dan janji Setan untuk terus merusak kesempurnaan yang di berikan Tuhan kepada Manusia. Sering kita lihat, seseorang dengan anugerah kecantikan dan keseksian namun menggunakannya untuk tujuan jahat. Memanfaatkan kelebihannya itu untuk hidup enak di atas penderitaan orang lain.
Di sekitar kita selalu ada mahluk jelmaan setan tersebut. Selalu punya kepiawaian untuk mengelabui dan menutup mata para petinggi untuk menutupi kebusukan dan kemalasannya. Terkadang, waktu pun memihak dan menjembatani segala kebutuhan sesatnya. Ujian kah bagi mahluk seperti saya ? Segala sesuatu terjadi kerap membawa pembelajaran tersendiri, tidak ada kebetulan di dunia ini. 
Keajaiban bisa saja tengah menjauh. Tuhan memang unik, Dia menyukai permainan mencari keajaiban. Penuh tantangan, doa dan semangat. Untuk itu lah, ia ciptakan mahluk seksi jelmaan setan. Karena gesture dan tingkah lakunya sangat memacu kita untuk segera memukulnya lewat keajaiban. Dan hanya keajaiban yang bisa menjatuhkannya !

#DemotivasiTingkatLangit

 

Tuesday, March 21, 2017

LION - #MovieReview



Movie Review 

Title                         : Lion
Release date       : 25 Nov 2016 (USA)
Reviewed by       : Ria Jumriati

“Saroo” adalah nama seorang bocah berumur 5 tahun yang dalam bahasa inggris berarti “LION” (singa). Saroo hidup diperkampungan kecil dan sangat miskin ‘Ganesh Talai” yang bahkan di peta konvensional tidak tertera nama itu. Setiap hari Saroo dan Guddu – Kakak sulungnya, berpacu di atas kereta batu bara, untuk  mengambil serpihannya dan menukarnya dengan susu dan makanan. Kadang diberikan kepada Ibunya yang sangat menyayangi Saroo dan kedua anaknya.

Suatu hari, karena kantuk dan kelelahan. Saroo tidak bisa mengikuti jejak Guddu untuk mencari batu bara seperti biasa, ia pun di tinggal di bangku tunggu sebuah stasiun kereta. Ketika tersadar, Saroo mendapati dirinya seorang diri, kebingungan dan terus berlari mencari kakaknya. Saroo yang aktif, terus mencari hingga akhirnya ia menaiki kereta menuju kota Calcutta – Kereta yang pada akhirnya membawa kehidupan seorang Saroo berlabuh terlalu jauh. Selama dua bulan, hidup Saroo berada dalam berbagai macam intaian bahaya. Penculikan anak, phedophilia dan mengemis apa saja demi mengisi perut kecilnya yang selalu kelaparan. Hingga suatu hari, seorang laki laki menemukan Saroo dan membawanya ke sebuah penampungan anak di kota India.

Selama di penampungan, Saroo dan beberapa anak terlantar di ajarkan tata krama dan bahasa Inggris. Hingga akhirnya nasib mempertemukan Saroo dengan pasangan kaya dari Australia, yang begitu jatuh hati dengan penampilan dan sikap Saroo – Sue dan John Brierley, yang di perankan sangat apik oleh Nicole Kidman dan David Wenman. Sementara Saroo dewasa di mainkan dengan ekspresi agak datar oleh Dev Patel. Film yang di adaptasi dari kisah nyata ini, kurang mampu memainkan emosi penonton. Pun di ending cerita ketika akhirnya Saroo berhasil menemukan desa tempat tinggalnya, tepatnya Februari 2012 dengan bantuan google earth. Sisi emosi Saroo yang sudah berpisah selama 25 tahun dengan keluarga terutama Ibu kandungnya, terasa kurang menyengat.

Priyanka Bose – yang berperan sebagai Ibu biologis Saroo, juga turut memberi kontribusi ‘datar’ nya emosi seorang Ibu yang baru saja kedatangan anak kesayangannya yang telah hilang selama puluhan tahun.


Namun film ini tetap menarik untuk di tonton. Tetap memilliki nilai – nilai kehidupan yang tinggi. Terutama keputusan sepasang suami istri kaya raya (Sue dan John Brierley) yang meski keduanya tak memiliki masalah vertilitas dan bisa melahirkan anak kandung, namun memutuskan untuk mengadopsi anak dari kalangan tak mampu dengan alasan indah dan tulus bahwa di dunia terlalu banyak anak – anak yang menderita dan membutuhkan kasih sayang. Bahkan setahun setelah mengadopsi Saroo, keduanya juga mengadopsi Mantosh, anak lelaki yang juga berasal dari India namun dengan kelaianan mental temprament.

Kekuatan hati seorang Ibu, yang meyakini bahwa anaknya yang di amini hampir seluruh dunia telah meninggal, namun akhirnya kembali ke pangkuannya selama 25 tahun penantian. Juga menjadi pernik indah, tentang terawang dan naluri seorang Ibu yang hampir selalu benar.


- Ria Jumriati -