Wednesday, September 13, 2017

TIPS & TRIK BERPACARAN DENGAN BOS DI KANTOR #Artikel

                                                            image : from google

Dewi cinta alias  cupido memang tidak terlalu pandai melesatkan anak panahnya. Bisa menancap di mana pun, kapan saja dan tak pandang bulu. Cupid juga tidak pernah cek latar belakang korbannya. Mau sudah menikah atau jomblo, yang penting mission completed ketika busurnya mengenai hati seseorang. Konon salah satu tempat favorite si Cupid ini, adalah kantor. Wah, pantes banyak banget cerita perselingkuhan yang terjadi di kantor !.

Nah, bagaimana jika seorang Bos yang memegang kendali atas semua kebijakan professional kemudian jadi korban si Cupid nakal ini, dan busur beracun cinta itu menancap juga di salah satu hati anak buahnya. Seru nih ! Karena siapa yang berani melarang Bos yang lagi kasmaran ? Bisa kena PHK atau resiko tidak naik jabatan. Namanya juga lagi jatuh cinta, slogan dunia milik berdua akan tetap berlaku. Gunjingan sana sini kadang menjadi samar atau malah tak terdengar karena tebalnya dinding kekuatan cinta.

Berikut ada saran bijak bagi anda sebagai Bos yang kasmaran dengan anak buah, juga bagi anda sebagai bawahan yang tersangkut cinta nine to five dengan atasan.

Bagi anda berdua, bersiaplah menerima konsekwensi masa sulit dan masa bahagia saat menjalin kisah kasih di ruang professional, terutama bagi anda yang sudah memiliki pasangan tetap dirumah yang pasti mengira anda adalah suami/istri  yang setia.

Simak tips dan trik sederhana bagi Anda sebagai Bos atau bawahan yang menjalin cinta di kantor yang sama :

ü  Hindari panggilan mesra, tetap jaga professionalisme kerja dengan memanggil dengan “Pak atau Bu”.
ü  Jangan biarkan emosi dan ego menjadi pertengkaran di tempat kerja. Ingat, pasangan yang sedang kasmaran sangat mudah terbaca dari gesture dan sorot mata.
ü  Sebagai Bos merangkap ‘kekasih’ apalagi ada embel-embel ‘gelap’, memang tidak mudah menjaga objectivitas diantara anak buah yang lain dan kekasih Anda. Tetaplah bersikap bijaksana dalam membagi volume kerja kepada yang lain. Hindari perlakuan ‘My Princess My Everything’ apalagi perlakuan anak emas. Trust me, it’s smell so badly !

ü  Bagi Anda yang berhasil membuat Bos Anda bertekuk lutut dengan kekuatan cinta yang bisa mengalahkan budget tahunan perusahaan. Tetaplah memijak bumi, Anda memang pemenang diatas para anak buah Bos anda di kantor dan juga Istri dan anak-anaknya di rumah. Nikmatilah  kemenangan mendapatkan sebuah kekuatan cinta,  meski di luar kewajaran, tetaplah berlaku bijak agar karma tak segera mencari alamat Anda. Toh, anda tidak bisa disalahkan juga. Salahkan si cupido, pastinya. Dan, bagi Anda yang memacari Bos Jomblo. Tetap lah bersikap elegan, hindari kesan pongah dan merasa pasti bisa mendapatkan segalanya. Satu hal lagi,  tetap berhati hati memilih teman curhat. Jangan memilih teman sekantor apalagi yang satu team dengan Anda. Hal ini, bisa menjadi boomerang karena akan ada kecemburuan social yang siapa tahu di pendam teman Anda.

ü  Saran terakhir untuk Bos dan bawahan yang terlibat cinta. Hindari terlalu sering berduaan di sela sela jam kantor. Bermain cantik dengan waktu, selalu ada ruang indah yang di sediakan Cupid untuk mereka yang sedang kasmaran. Nasehat terbaik, bermesraan lah ketika jam kantor telah berakhir – office ethic harus tetap di jaga, di luar jam itu,  It’s all yours !




#Artikel 
#BukanCurhat

Tuesday, May 16, 2017

Gifted - #MovieReview

Movie Review

Title                : Gifted
Release           : 7 April 2017 (USA)
Reviewed by   : Ria Jumriati



Satu kata pembuka untuk film "Gifted"- Keren !. Hampir tidak ada cela baik jalan cerita dan para pemeran di film ini. Misinya sangat jelas, menyadarkan orang tua tentang bagaimana meletakkan dunia anak pada tempatnya. Mengikis ego sebagai manusia dewasa dan tidak membiarkan anak tumbuh melampui usia dan emosinya. Hingga tak ada lagi kalimat "Anak anak yang terjebak di tubuh orang dewasa".atau sebaliknya.  
Mary - gadis berusia tujuh tahun dengan kemampuan matematika luar biasa, diturunkan secara genetik dari Diana - Ibu kandungnya yang meninggal bunuh diri karena stress akibat perlakuan Ibunya yang terlalu protective dan memaksa kemampuan matematikanya untuk menyelesaikan obsesi masa mudanya sebagai ahli matematika yang tak pernah terwujud.  Diana tumbuh sebagai remaja penuh tekanan, dilarang berpacaran dan orang yang di cintainya malah di tuduh penculik oleh Ibunya ketika mereka berdua tengah berlibur bersama, Diana yang frustasi akhirnya  hamil di luar nikah dengan lelaki yang sama sekali tidak terlalu di kenalnya, dan menghasilkan Mary - gadis kecil jenius yang tidak di  harapkan tumbuh seperti dirinya. Sebelum kematiannya yang tragis, Diana menitipkan Mary pada Frank - Adiknya, yang juga lebih memilih menjadi montir perahu boat di banding menjadi assistant professor seperti keinginan Ibunya. Di tangan Frank, Mary di ajarkan tumbuh menjadi selayaknya anak - anak. 
Tiba saat Mary harus memasuki dunia sekolah - Frank nekat mendaftarkannya di sekolah umum, meski sudah ditentang Roberta - Tetangga Frank yang mengasuh Mary setiap hari libur. Roberta khawatir, bakat luar biasa yang di miliki Mary akan menjadi boomerang bagi kehidupan Frank dan Mary.  Benar saja, seminggu memasuki sekolah umum, Mary mulai memperlihatkan "bakat" luar biasanya. Hingga akhirnya tercium oleh sang Nenek, yang langsung menyewa pengacara untuk mendapatkan Mary demi meneruskan obsesinya sebagai ahli matematika.  Tak ada yang menjadi pemenang dalam merebut hak asuh Mary. Hakim memutuskan untuk memberikan Mary pada orang tua asuh yang di nilai normal untuk membesarkan Mary. Namun, kelicikan Ibu Frank justru tetap memaksa Mary untuk menjadi ahli matematika serta memasung kekebasannya dengan menempatkan Mary pada sekelompok ahli matematika untuk memecahkan sejumlah algoritma rumit di sebuah faviliun rumah orang tua asuh Mary. 


Freed Kucing kesayangan Mary pun di buang Neneknya - Satu satunya mahluk hidup yang membuat Mary bisa tersenyum setelah berpisah dari pamannya - Frank yang mengetahui hal ini dari guru Mary segera menjemput Mary dan menyadarkan Ibunya tentang obsesinya yang telah memakan korban anaknya sendiri. Moment super menyentuh saat Frank meminta Mary untuk pulang dan menyadari kesalahannya telah menitipkan dirinya pada orang tua asuh meski itu adalah perintah pengadilan. Gesture keduanya begitu natural dan berkesan. Memintal emosi penonton pada satu bentuk ikatan yang sulit di lupakan. Setidaknya begitulah kesan yang saya dapat. 

 "School is gonna be fun, you're gonna meet friends you can borrow money from the rest of your life"
 "My sister wanted Mary to be a kid. She wanted friends and to be happy" #GiftedMovie


"Mary : Is there a God?
"Frank : Yeah..I don't know.
 "Mary : Roberta believe in God, How about Jesus ?"
"Frank : Well, I love that Guy"  
 😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊





Thursday, April 27, 2017

Terima Kasih Tuhan..


Sejak zaman SMP sampai sekarang ini, saya sering kali di pilih oleh beberapa sahabat saya sebagai tempat ‘curhat’mereka. Ada cerita yang biasa saja, berat bahkan tabu. Dan saya punya komitmen untuk menjaga rahasia itu bahkan kepada suami saya sendiri. Banyak hikmah yang saya dapat. Cara berpikir saya pun beberapa terevolusi dari banyak kasus dan masalah yang menimpa para sahabat saya tersebut. Utamanya rasa bersyukur, meski klise tapi memang patut di yakini bahwa kebahagiaan itu hanya bisa kita dapatkan dari mensyukuri apa yang kita miliki dan bukan mengeluhkan apa yang belum  kita punyai.


Di banyak pendapat umum, pola pikir hampir kebanyakan orang bahwa kebahagiaan adalah ketika karir gemilang dan materi berlimpah, suami atau istri setia, anak anak tumbuh sehat dan bahagia, memiliki ipar, sepupu dan keluarga besar yang saling mendukung. Saya tidak memungkiri pendapat itu. Bagi saya itu adalah kesempurnaan dan selalu ada garis tipis yang memisahkan antara makna kesempurnaan dan kebahagiaan. Dari semua cerita duka perjalanan nasib para sahabat saya, ada beberapa kesimpulan dan tentu hikmah yang bisa saya petik. Bahwa kesempurnaan tak selalu menjanjikan kebahagiaan. Tapi kebahagiaan bisa meraih kesempurnaan dalam pola rasa bersyukur kita pada kehidupan ini. Menyesuaikan pola kesempurnaan kita pada batas rasa syukur kita pada anugerah ini, secara perlahan akan membawa kita pada kebahagiaan yang memang sepadan dengan apa  yang kita butuhkan. Ibarat memilih baju atau sepatu, akan terasa enak dan nyaman di pakai ketika ukuran, model dan motifnya sesuai dengan ukuran tubuh dan selera kita. Memang selalu ada pendapat nyinyir tentang pilihan selera yang tak sesuai dengan keinginan umum, tapi jangan biarkan hidup kita berkubang di dalam ukuran sepatu orang lain. Intinya, kesempurnaan adalah kebahagiaan kecil yang bisa selaras dengan banyak lini di kehidupan kita.
 

Ada beberapa  cerita yang saya dapat dari beberapa sahabat saya, yang jelas mencerminkan pola kesempurnaan yang tak mendatangkan kebahagiaan pada mereka dan sebaliknya. Sebut saja Rasty – Cantik, karir cemerlang, anak sehat, pintar masak dan jago cari bisnis sampingan. Tapi sering tersedu sedu dan curhat mengenai suaminya yang doyan selingkuh. Sampai akhirnya ia pun tak sanggup dan memilih untuk bercerai. Lain halnya, sebut saja Agny – 12 tahun menikah dan belum di karuniai anak dengan karir dan kehidupan yang jauh dari kemewahan apalagi kaya. Toh bisa sangat berbahagia dengan banyak binatang peliharaannya yang di asuhnya bak anak kandung sendiri. Ketika saya menyarankan untuk mengadopsi seorang anak, dengan bijaksana Agny menjawab : “Binatang juga mahluk Tuhan, jika saya dan suami bisa memberikan kasih sayang tulus pada ciptaannya, Dia pasti akan memberikan anugerah lain, yang berhubungan dengan kasih sayang”. Saya terenyuh mendengarnya. Bagi saya Agni  lebih memilih cara berdoa dengan tindakan serta pembuktian tulus. Dan saya sangat merasakan aura kebahagiaan begitu menyebar indah di seluruh penjuru ruang di kediamannya. Agni telah membuat pola kesempurnaannya sesuai dengan kehidupan yang dapat membuatnya bahagia.
 

Ketika sebuah masalah bisa merefleksikan rasa bersyukur dan interospeksi diri, saya semakin merasa kaya. Tak terhitung anugerah Illahi yang telah saya dapatkan selama ini. Rumah mungil kami semakin terasa luas oleh cinta, ketulusan, kesetiaan dan komitmen yang Alhamdullilah tetap terikat kuat hingga kini, dan Insya Allah hingga ajal menyapa. Kemewahan tertinggi adalah ketika tonggak Iman semakin terbangun kuat di pondasi kehidupan kami. Menaungi, menyinari dan menghembuskan semilir hidayah pada keluarga kecil kami yang sederhana dalam pola kesempurnaan hidup yang sesuai dengan kebahagiaan yang kami inginkan.

Masalah, tentu akan selalu ada, dan itu lah seninya kehidupan. Ibarat bermain kartu, jangan pernah menyesali kartu kartu kehidupan yang sudah ada di suratan tangan kita. Tapi bagaimana cara memainkannya agar hidup terasa berwarna dalam banyak tantangan yang beraneka. 

Wednesday, March 29, 2017

Permainan Mencari Keajaiban #Opini







                                                                      image : devianart
Tuhan tidak pernah salah dalam menciptakan manusia. Asal muasal manusia tetaplah mahluk yang paling sempurna di banding Setan bahkan Malaikat. Diberi akal, pikiran dan budi pekerti serta nurani dengan suara hati yang suci. 
Namun, ada peran dan janji Setan untuk terus merusak kesempurnaan yang di berikan Tuhan kepada Manusia. Sering kita lihat, seseorang dengan anugerah kecantikan dan keseksian namun menggunakannya untuk tujuan jahat. Memanfaatkan kelebihannya itu untuk hidup enak di atas penderitaan orang lain.
Di sekitar kita selalu ada mahluk jelmaan setan tersebut. Selalu punya kepiawaian untuk mengelabui dan menutup mata para petinggi untuk menutupi kebusukan dan kemalasannya. Terkadang, waktu pun memihak dan menjembatani segala kebutuhan sesatnya. Ujian kah bagi mahluk seperti saya ? Segala sesuatu terjadi kerap membawa pembelajaran tersendiri, tidak ada kebetulan di dunia ini. 
Keajaiban bisa saja tengah menjauh. Tuhan memang unik, Dia menyukai permainan mencari keajaiban. Penuh tantangan, doa dan semangat. Untuk itu lah, ia ciptakan mahluk seksi jelmaan setan. Karena gesture dan tingkah lakunya sangat memacu kita untuk segera memukulnya lewat keajaiban. Dan hanya keajaiban yang bisa menjatuhkannya !

#DemotivasiTingkatLangit

 

Tuesday, March 21, 2017

LION - #MovieReview



Movie Review 

Title                         : Lion
Release date       : 25 Nov 2016 (USA)
Reviewed by       : Ria Jumriati

“Saroo” adalah nama seorang bocah berumur 5 tahun yang dalam bahasa inggris berarti “LION” (singa). Saroo hidup diperkampungan kecil dan sangat miskin ‘Ganesh Talai” yang bahkan di peta konvensional tidak tertera nama itu. Setiap hari Saroo dan Guddu – Kakak sulungnya, berpacu di atas kereta batu bara, untuk  mengambil serpihannya dan menukarnya dengan susu dan makanan. Kadang diberikan kepada Ibunya yang sangat menyayangi Saroo dan kedua anaknya.

Suatu hari, karena kantuk dan kelelahan. Saroo tidak bisa mengikuti jejak Guddu untuk mencari batu bara seperti biasa, ia pun di tinggal di bangku tunggu sebuah stasiun kereta. Ketika tersadar, Saroo mendapati dirinya seorang diri, kebingungan dan terus berlari mencari kakaknya. Saroo yang aktif, terus mencari hingga akhirnya ia menaiki kereta menuju kota Calcutta – Kereta yang pada akhirnya membawa kehidupan seorang Saroo berlabuh terlalu jauh. Selama dua bulan, hidup Saroo berada dalam berbagai macam intaian bahaya. Penculikan anak, phedophilia dan mengemis apa saja demi mengisi perut kecilnya yang selalu kelaparan. Hingga suatu hari, seorang laki laki menemukan Saroo dan membawanya ke sebuah penampungan anak di kota India.

Selama di penampungan, Saroo dan beberapa anak terlantar di ajarkan tata krama dan bahasa Inggris. Hingga akhirnya nasib mempertemukan Saroo dengan pasangan kaya dari Australia, yang begitu jatuh hati dengan penampilan dan sikap Saroo – Sue dan John Brierley, yang di perankan sangat apik oleh Nicole Kidman dan David Wenman. Sementara Saroo dewasa di mainkan dengan ekspresi agak datar oleh Dev Patel. Film yang di adaptasi dari kisah nyata ini, kurang mampu memainkan emosi penonton. Pun di ending cerita ketika akhirnya Saroo berhasil menemukan desa tempat tinggalnya, tepatnya Februari 2012 dengan bantuan google earth. Sisi emosi Saroo yang sudah berpisah selama 25 tahun dengan keluarga terutama Ibu kandungnya, terasa kurang menyengat.

Priyanka Bose – yang berperan sebagai Ibu biologis Saroo, juga turut memberi kontribusi ‘datar’ nya emosi seorang Ibu yang baru saja kedatangan anak kesayangannya yang telah hilang selama puluhan tahun.


Namun film ini tetap menarik untuk di tonton. Tetap memilliki nilai – nilai kehidupan yang tinggi. Terutama keputusan sepasang suami istri kaya raya (Sue dan John Brierley) yang meski keduanya tak memiliki masalah vertilitas dan bisa melahirkan anak kandung, namun memutuskan untuk mengadopsi anak dari kalangan tak mampu dengan alasan indah dan tulus bahwa di dunia terlalu banyak anak – anak yang menderita dan membutuhkan kasih sayang. Bahkan setahun setelah mengadopsi Saroo, keduanya juga mengadopsi Mantosh, anak lelaki yang juga berasal dari India namun dengan kelaianan mental temprament.

Kekuatan hati seorang Ibu, yang meyakini bahwa anaknya yang di amini hampir seluruh dunia telah meninggal, namun akhirnya kembali ke pangkuannya selama 25 tahun penantian. Juga menjadi pernik indah, tentang terawang dan naluri seorang Ibu yang hampir selalu benar.


- Ria Jumriati -



Monday, March 20, 2017

KARMA GETIH - Bab Lima "Poros Waktu" #Cerbung


BAB V
MISTERI POROS WAKTU
(Ria Jumriati)
Image : From Google
                        Suara jeritan kencang dan memilukan terdengar dari lantai atas rumah mewah itu. Tepatnya adalah kerajaan kecil, karena penghuninya adalah salah satu penguasa di sebagian kecil wilayah Malaysia. Seorang pembantu menemui tubuh lelaki itu terkapar parah, dengan beberapa luka tusukan didada dan perutnya. Tak pernah ada bisa mengungkap misteri kematiannya. Namun terdengar selentingan kabar. Seminggu belakangan ini salah satu anak keturunan raja itu mengalami stress berat yang entah apa penyebabnya. Ia mengaku sering didatangi mimpi buruk seseorang dari masa lalunya dan hendak membunuhnya, dan konon selalu terselamatkan karena ia terjaga. Akhirnya Yang Dipertoan Agung Nizham Abdullah, yang memang terkenal gemar mengkoleksi perempuan dari kalangan manapun, untuk kepentingan sex sesatnya, tak pernah berani lagi terpejam. Ia pun semakin tersiksa, setiap kali ia memejamkan matanya, sosok itu datang dengan sebilah keris dan siap menusuk perutnya. Para dokter dan tabib kenamaan negeri Jiran itu telah didatangi untuk menyembuhkan, tapi tak ada yang berhasil. Hingga suatu malam, ia terserang kantuk dan lelah yang luar biasa dan ditemui keesokan paginya dalam keadaan tak bernyawa dengan beberapa bekas luka tusukan dari senjata sejenis keris yang memiliki racun  mematikan. Beberapa media cetak pun ramai memberitakannya. Hingga sampai pula ke telinga Dahayu yang baru saja mengalami siuman setelah beberapa jam pingsan tanpa sebab. Dahayu dan beberapa temannya masih tinggal di pemondokan para tenaga kerja wanita yang siap di kirim ke beberapa majikan yang telah memesan. Dahayu tertegun melihat seraut wajah di koran yang tengah dibacanya ”Misteri Kematian Yang Dipertoan Agung Nizham Abdullah”. Tangannya bergetar, ia masih merasakan pegal dan ngilu diseluruh tubuh dan persendian tangannya. Ada percikan darah yang mengering di telapaknya. Dahayu semakin ketakutan. Ia berlari ke kamar kecil dan membasuh luka itu. Dicermin terpantul wajah Nuri dengan seringai puas. Dahayu kembali berlari keluar, ia pun menjerit kencang.
            ”Tolooooooooong, aku mau pulang !!!!”
Semua yang ada di penginapan itu pun ketakutan. Karena Dahayu tak sekedar berteriak, tapi berlari kesana kemari seperti orang kesurupan. Matanya mendelik keatas. Kadang menjerit kadang tertawa dan terus berlari tak tentu arah. Dari mulutnya terus keluar ocehan tak jelas, bahkan dengan bahasa yang sulit dimengerti. Hal itu terus berlanjut selama 3 hari berturut turut, Dahayu bahkan tak merasakan lapar dan haus sedikitpun. Kepala rombongan TKW pun menjadi bingung dan mau tak mau segera mengurus kepulangan Dahayu ke Indonesia secepatnya.
@@@
                        Dahayu terbaring lemah di pembaringannya. Ia baru saja terbangun dari tidur terpanjang seumur hidupnya. Tubuhnya terasa ringan, ada beban berat yang seolah baru saja terlepas. Disisi pembaringan Mbah Kijah tersenyum senang. Sementara Eyang Karso duduk bersemedi di temani asap dupa yang melengkapi kekhusyukannya dalam berdoa. Ia baru saja melakukan ruwatan pada Dahayu dengan serangkaian ritual ’pembersihan diri’ dari gangguan roh halus. Dan bisa dipastikan, Nuri tak akan datang lagi.
            ”Bagaimana Eyang ? Apa Dahayu sudah terbebas dari semua hal yang mengganggunya ?” Tanya Mbah Kijah penuh harap. Eyang Karso membuka matanya pelan, ada desahnya yang masih terdengar resah.
            ”Mata rantai karma masih belum bisa terputus seluruhnya dari kehidupan Dahayu” Tuturnya pelan.
            ”Maksudmu, cucuku masih akan didatangi roh Ibunya ?”
            ”Nuri tak akan datang lagi, dendamnya telah terlampiaskan. Lelaki itu telah mati dengan cara yang memang di inginkannya”
            ”Lalu ?”
            ”Dahayu telah menyelesaikan ”Karma Getih”nya sebagai anak Nuri. Namun ia tetap memiliki satu mata rantai ”Karma Putih” yang akan di jalaninya. Masih ada seseorang yang menunggunya pada kemisteriusan  poros waktu. Tapi..........”
            ”Tapi apa Eyang ?! Tanya Mbah Kijah ketakutan
            ”Ini bukanlah hal yang menakutkan, bahkan bisa jadi permulaan yang memberi kebahagiaan hakiki pada cucumu”
Mbah Kijah tak mau lagi bertanya lebih jauh. Ia sudah cukup tenang mendengar kalimat membahagiakan itu. Karena memang itulah harapan terdalamnya untuk Dahayu. Meski rangkaian masa depan  Dahayu masih begitu abstrak dan misterius, terbalut banyak karma. Namun nalurinya terus berkata. Suatu saat nanti, entah kapan, Dahayu akan bersanding dengan seseorang yang memiliki derajat dan hati yang sama mulianya. Entah dimana, di sinikah ? atau kembali pada kemisteriusan poros waktu yang memang masih terantai kuat di jalinan karmanya.



TAMAT
            Daftar pustaka :
  1. Mistik Kejawen karangan Suwardi Endraswara
  2. www.kasundaan.org
  3. ”Menyelami Anak Anak Punya Indra Keenam” FEMINA edisi Juli No. 26 XXXVIII – Thn 2010



Wednesday, March 15, 2017

KARMA GETIH - Bab Empat "Roh Wasilah" #Cerbung

BAB IV
ROH WASILAH
(Ria Jumriati)

Image : ekspresionlinedotcom

            Diiringi dengan lambaian tangan dan derasnya airmata Mbah Kijah. Dahayupun memulai babak baru perjalanan nasibnya. Tak ada gambaran pasti mengenai seperti apa Malaysia, kuala lumpur, serawak dan kota kota besar lainnya di negeri Jiran. Tapi Dahayu merasakan gelora semangat yang menggunduk semakin tinggi di seluruh relung jiwa, batin bahkan alam bawah sadarnya. Timbunan semangat itu pun mulai mengeluarkan buncahnya, bak gunung api yang suatu saat siap menumpahkan lava yang maha panas.  Terlebih ketika, sepasang kaki Dahayu menapak pertama kali di bumi Malaysia. Diantara kebingungan sebagai Dahayu dan Deja Vu yang terus menguasai batinnya. Gadis bermata lentik itu hanya mengikuti apa yang diperintahkan kepala rombongan para TKI asal Indonesia. Puluhan remaja putri dan belasan wanita dewasa dengan wajah lugu dan pengharapan yang sama pada sebuah cita cita untuk meraih penghidupan yang lebih baik dan layak, berbondong bondong menuju satu gerbang yang akan merubah nasib mereka yang masih samar adanya. Mengapa harus kesana ? Karena tak pernah bisa diberikan oleh pengelola bangsa ini, hingga mereka harus mengadu dan mempertaruhkan segenap jiwa raga ke negeri tetangga. Meninggalkan segenap orang yang dicintai demi sebongkah harapan yang sangat mendasar sebagai manusia. Dapat hidup layak dan terpenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Dan sekali lagi, semua itu terlalu mahal di negeri mereka sendiri. Semahal bahkan semustahil kata ’amanah’ yang bisa diharapkan pada penguasa negeri ini.

            Dahayu menyapu pandangannya ke sekeliling. Ia dan rombongan TKW kini telah berada di tempat penampungan sementara. Suara bising orang yang lalu lalang. Diantara hiruk pikuk, beberapa transaksi  busuk pun terjadi. Perlakuan tak sopan terhadap para TKW hingga pelecehan seksual dari beberapa oknum, terpampang jelas dimatanya. Lalu lalang setiap orang yang masing masing dibuntuti beberapa mahluk. Ada seorang Bapak yang sedari tadi di ikuti mahluk serba hitam, ketika ia akan menyebrang sebuah truk langsung menghantam tubuhnya. Mahluk serba hitam itu pun tertawa dan segera melahap rohnya. Lalu seorang bayi yang terus di dampingi perempuan cantik penuh cahaya. Bidadarikah ? Semua mahluk dari berbagai dimensi dan waktu, kini terlihat kasat di mata Dahayu. Hingga tiba tiba ia merasakan tubuhnya seringan kapas, lalu angin kencang menderu hingga mendatangkan badai. Semua orang masih sibuk berkutat dengan kegiatannya. Tapi mengapa hanya ia yang merasakan besarnya hempasan badai ? Tubuh ringannya pun semakin terbawa pusaran angin. Gelap......sunyi....Dahayu terbawa poros waktu yang menyeret jiwanya pada satu bentang kehidupan ratusan tahun lalu. Ia pun terjerembab jatuh di sebuah peraduan dengan ornamen dan nuansa keraton keningratan Kerajaan Jawa kelas tinggi. Dahayu tak lagi melihat dirinya yang dulu, pakaian kemben dan rambut tertata rapi bak putri keraton, serta lingkungan  istana yang di jaga prajurit dan para dayang dayang.

”Kanjeng Putri Dahayu Janitra!” Seru seorang dayang saat melihatnya jalan menelusuri lorong lorong keraton. Dahayu menoleh bingung. Sementara beberapa dayang lainnya pun berseru  gembira melihatnya.
            ”Putri Dahayu sudah bangun, cepat panggil Raden Mas Ganendra!” Seru seorang dayang dan tergopoh berlari menuju pendopo Istana. Tak lama beberapa orang prajurit dan seorang pria tampan dan gagah datang dengan langkah cepat.
            ”Dahayu ? Kau sudah bangun ? Syukurlah! Ujarnya sambil memeluk tubuhnya. Dahayu langsung terkoneksi dengan energi di tubuh lelaki itu. Batinnya segera saja terisi banyak potongan kisah yang akhirnya memberi pandangan jelas tentang jati dirinya kini.
            ”Raden Mas Ganendra ? Apa yang telah terjadi ?” Tanyanya bingung.
            ”Ceritanya panjang, istirahatlah dulu. Kita masih banyak waktu untuk itu” Ujarnya dengan senyum yang sangat di kenal Dahayu. Dia lah laki laki yang selama ini selalu datang di setiap mimpinya. Sosok yang selalu di rindukannya. Tapi siapa dia ? Dua jiwa di raga Dahayu masih membutuhkan waktu untuk saling menyatu. Deja Vu terus berlanjut di benaknya. Taman di pendopo, pahatan di dinding keraton, gelas antik berornamen gajah. Hampir semua yang tertangkap di matanya, serasa tak asing lagi. Ia pernah menjadi bagian dari semua ini. Bahkan Mbok Tumijah yang sedari tadi terus memandangnya dengan senyum. Ia kenal betul senyum itu, dia adalah salah satu dayang yang sering menata rambut panjangnya, memakaikan kemben dan memberi air mandinya dengan serangkaian bunga bunga segar.
            ”Hari ini,  Kerajaan akan kedatangan tamu dari negeri Pasundan. Istirahat lalu bersiaplah untuk menyambutnya. Aku ingin, kamu menjadi bagian dari perayaan besar nanti.
            ”Perayaan besar apa, Kang Mas ?
            ”Maharaja Hayam Wuruk, akan meminang Putri Dyah Pitaloka dari Kerajaan Pasundan, semua telah dipersiapkan. Aku ingin kau tampil cantik nanti” Tuturnya lembut. Perlahan jiwa Dahayu menangkap satu pesan di relung rohnya. Ia memejamkan matanya sekejap. Ada beberapa kelebat bayang yang tergambar di benaknya. Seorang s pria, wajah Nuri dan.....tiba tiba dadanya sesak, saat menyeruak bayang laki laki yang menjadi target dendam Ibunya.
            ”Kenapa Dahayu ? Istirahatlah, kamu baru saja mengalami tidur panjang yang membuat khawatir banyak orang termasuk Sang Raja” Ujarnya Raden Mas Ganendra seraya memapah tubuh Dahayu menuju peraduannya.
            ”Banyak sekali sosok yang berseliweran di benakku, dan tak semuanya aku kenal. Aku seperti orang asing”
            ”Tenanglah Dahayu. Saat jiwamu tertidur, tabib yang merawatmu mengatakan, jiwamu memang tengah di pinjam ’seseorang’ untuk mengembara ke tempat lain”
            ”Tempat lain apa maksudnya, Kang Mas ?”
            ”Aku juga tidak tahu, tapi ia meyakinkan, seseorang yang datang menjemput rohmu itu, bukanlah orang lain. Ia masih memiliki pertalian batin yang kuat dengan dirimu. Dan ia yakin, kau pasti kembali dengan selamat. Karena seseorang itu pasti akan menjagamu dengan baik” Ujarnya dengan senyum.
            ”Lalu....hmmm, Kang Mas sendiri siapanya aku ?” Tanyanya ragu. Raden Mas Ganendra tersenyum dan membelai rambut Dahayu,
            ”Aku calon suamimu, kita akan segera menikah setelah Raja Hayam Wuruk dan Putri Dyah Pitaloka meresmikan ikatan pernikahan mereka. Besok adalah waktunya, dan setelahnya adalah milik kita. Maha Patih Gajah Mada tak mengizinkan aku sebagai perwira perangnya mendahului Sang Maha Raja” Tuturnya tegas.
Dahayu hanya terdiam, ia teringat mimpinya yang sering terjebak dalam perang dahsyat bersama Sang Patih Gajah Mada . Sekonyong gejolak dibatinnya pun berbuncah hebat. Beberapa bayang itu semakin memperebutkan energinya. Dahayu pun tertidur. Namun rohnya tetap terperangkap diantara dua dimensi ruang dan waktu. Malam semakin pekat. Beberapa roh, tengah bernegoisasi untuk satu tujuan tertentu yang terbalut erat ’Karma Getih” – ”Karma berdarah” yang pengaruhnya tengah merasuki segenap relung Dahayu.

@@@

            Sejak subuh seluruh penghuni Istana telah disibukan oleh persiapan untuk menyambut rombongan keluarga besar kerajaan Pasundan dan Putri Dyah Pitaloka. Menurut desas desus yang sempat di tangkap Dahayu, kedatangan Putri Dyah Pitaloka adalah untuk menyerahkan diri sebagai mempelai putri yang akan dinikahi oleh Sang Maha Raja Hayam Wuruk. Dahayu sendiri, tengah menjalani ritual ’ratus’ dengan bermandikan bunga dan rempah rempah yang konon harumnya tak akan hilang hingga hari ke-7.
            ”Raden Mas Ganendra, sangat beruntung mendapatkan Kanjeng Putri” Ujar Mbah Tumijah sambil mengguyur pelan rambutnya dengan air rempah yang menyengat wangi.
            ”Apakah wajah tampannya juga sebaik hatinya, Mbah ?” Dahayu bertanya ragu.
            ”Tentu saja, Bukankah Kanjeng Putri rela melepaskan pertunangan dengan Raden Mas Raditya Javas Nararya yang telah di jodohkan orang tua Kanjeng Putri”
            ”Apa, Raden Mas Raditya Javas Nararya ? Aku belum pernah melihatnya, Mbah. Seperti apa rupanya ?” Dahayu semakin penasaran. Sambil meneruskan pekerjaannya, Mbah Tumijah memaklumi kebingungan Dahayu. Sebagai dayang sepuh, ia mengerti betul, bagaimana reaksi seseorang yang jiwanya pernah di bawa pergi oleh ’seseorang’ dari dimensi ruang dan waktu yang berbeda.
            ”Raden Mas Ganendra memang bukan anak raja, atau memiliki keluarga yang dekat dengan lingkungan kerajaan manapun. Ia hanya anak seorang abdi dalem, tapi Raden Mas Ganendra adalah perwira perang Sang Maha Patih Gajah Mada yang sangat tangkas, jujur dan rendah hati. Kharismanya mirip Sang Maha Patih, tapi ia tak serakah dan selalu berlaku adil. Kerendahan hati itu lah yang tak di miliki Raden Mas Raditya Javas Nararya. Ia telah dibutakan oleh keangkuhan karena merasa menjadi kerabat dekat kerajaan Pasundan. Bahkan konon, kematian Ayah Ibu mu adalah karena dibunuh oleh orang suruhan Raden Mas Raditya”
            ”Ayah Ibuku, telah meninggal ? Dahayu semakin bingung ”Aku sama sekali tak bisa mengingatnya Mbah”
            ”Sudahlah, sebaiknya tak usah di ungkit lagi masalah ini. Karena bisa berbahaya terutama buat dirimu sendiri” Tukas Mbah Tumijah seraya menyelesaikan pekerjaannya.
            ”Mbah, Sebentar lagi rombongan Putri Dyah Pitaloka dari Kerajaan Pasundan akan datang. Apakah dia juga ada dalam rombongan itu ??”
            Mbah Tumijah menggeleng lemah. Di benaknya ada sedikit sesal telah membocorkan rahasia itu kepada Dahayu.
            ”Berdoa saja Kanjeng Putri, Mbah sendiri tidak tahu” Ujarnya seraya berlalu.


            Iring iringan rombongan Kerajaan Pasundan telah sampai di gerbang Istana. Sementara persiapan di dalamnya pun tak kalah megah. Sang Prabu Hayam Wuruk terlihat sumigrah dengan pakaian kebesarannya. Beberapa petinggi istana telah siap dengan tugasnya masing masing untuk memberi sambutan pada kedatangan Maharaja Linggabuana dan Kanjeng Gusti Putri Dyah Pitaloka yang akan dipersunting Sang Raja. Dahayu memperhatikan sekelilingnya. Tapi ia tak menemui sosok calon suaminya. Ia pun berjalan pelan, keluar menyusuri pendopo istana hingga akhirnya menemui Raden Ganendra dan beberapa prajurit perang Maha Patih Gajah mada di Pesanggrahan Bubat, lengkap dengan senjata dan pakaian perang masing masing. Sama sekali tak terlihat senyum dan keramahan diwajah mereka, hampir semua menampakan wajah keras dan energi siap tempur. Raden Mas Garendra berdiri tepat beberapa langkah dari Sang Maha Patih Gajah Mada yang tengah berbicara serius dengan utusan Maharaja Linggabuana. Mata Dahayu terus menelusuri beberapa orang yang terlihat di hadapannya, hingga singgah pada wajah seorang laki laki yang membuat dadanya terasa terbakar tiba tiba. Ada gemuruh hebat yang serta merta menyulut keseluruhan dendam di hatinya demi melihat gambaran wajah seseorang yang menjadi target dendam Nuri selama ini. Bayang wajah Nuri dan kelebat amarahnya pun semakin menguasainya.
            ”Bunuh dia, Dahayu...Bunuh Dia !” Suara Nuri semakin jelas terdengar di benaknya. Dahayu berusaha menepi, sementara perselisihan mulai terjadi antara Maha Patih Gajah Mada dan utusan Maharaja Linggabuana. Beberapa prajurit perang Sang Patih mendadak bermunculan dari berbagai arah. Terjadilah pertempuran hebat yang tak berimbang antara pasukan dari Kerajaan Pasundan dan bala tentara Maha Patih Gajah Mada yang berjumlah ribuan. Dahayu pun menyeruak diantara perang yang tengah terjadi. Serta merta ia menghampiri Raden Mas Ganendra yang tengah berperang sengit dengan salah satu prajurit kerajaan Pasundan, yang ternyata adalah target dendam Nuri. Saat kegentingan tengah berlangsung, Dahayu pun langsung menusukkan keris tajam yang ke perut dan dada lelaki itu. Darah bercucuran, wajah laki laki itu memucat. Ia memandang Dahayu sejenak dan mendesiskan namanya. Seolah digerakkan oleh kekuatan lain, Dahayu kembali menusukkannya ke arah dadanya, hingga berakhir tragis.
            ”Dahayu, cukup Dahayu ! Dia sudah mati !” Seru Raden Mas Ganendra berusaha menenangkannya.
            ”Dia memang pantas mati ditanganmu, karena dia lah yang telah mengutus orang untuk membunuh Ayah – Ibumu” Ujar Raden Mas Ganendra seraya memapah tubuhnya.
            ”Apa ?! Jadi lelaki ini adalah Raden Mas Raditya Javas Nararya ? Bekas tunanganku ? Tapi...tapi mengapa wajahnya sama dengan....Akhhhhh!”
            ”Sama dengan siapa ?” Tanya Raden Mas Ganendra tak mengerti.
            ”Tidak, Dia pasti orang yang telah......dan aku telah membunuhnya.....Akhhhhhhhhhh, kepalaku !”
  Tiba tiba Dahayu merasakan pening yang luar biasa di kepalanya. Raden Mas Ganendra membawanya menepi. Perang masih berlangsung. Bahkan Kanjeng Gusti Putri Dyah Pitaloka ikut dalam pertempuran itu. Ia terlihat begitu agresif menyerang Patih Gajah Mada, terlebih ketika melihat Ayahnya tewas dalam pertempuaran itu. Sampai akhirnya, ia sendiri pun gugur setelah berhasil memberi luka yang sangat parah di tubuh sang Maha Patih. Perang masih berlangsung, namun pening di kepala Dahayu membuatnya semakin melayang jauh. Terdengar tawa puas berkepanjangan milik Nuri, lalu darah yang berceceran di tubuh lelaki yang telah menodainya. Suara bising, orang lalu lalang begitu cepat lalu angin kencang dan pusaran angin yang memburu tubuh Dahayu. Wajah Mbah Kijah, Eyang Karso.......Dahayu merasakan tubuhnya seringan kapas. Terlepas, terbang dan terbawa hempasan poros waktu yang begitu cepat.

(Bersambung Bab V)