Friday, October 04, 2013

DUA SAHABATKU



DUA SAHABATKU
Ria Jumriati


 
Aku mengenal Prita, sebagai perempuan dengan karir cemerlang. Di usianya yang baru saja beranjak 35 tahun, ia sudah menduduki posisi General Manager di perusahaan ternama Ibukota. Curriculum Vitae nya di buru berbagai head hunter. Berapapun gaji dan fasilitas mewah yang ia inginkan, pasti ada perusahaan yang mau membayarnya. Kehidupan Prita nyaris sempurna. Suami yang baik dan pengertian, anak anak tumbuh sehat dan kehidupan sosial kelas atas yang gemerlap pujian. Ngobrol dengan Prita, selalu menambah ilmu di bidang fashion, kecantikan dan tentunya serba serbi Kamasutra. Twitternya pun lebih sering  berhastag #SexpostionofTheDay !. Bentuk tubuhnya pun sangat sesuai dengan jenis olah raga yang di ikutinya - Sexy Yoga, Belly Dance, Tae Boxing bla bla bla !. Ia bahkan menjadi member premium di beberapa website berbayar yang sering memberi tips tentang kebahagiaan suami istri, lengkap dengan gambar dan tayangan bergerak. Beruntungnyai suami Prita !

Siapa perempuan yang tidak ingin seperti dirinya ? Termasuk aku yang juga  sangat mendambakan life cycle yang di miliki Prita. Satu hal yang kurang dari Prita, ia sering mengeluh tentang hal – hal kecil di hidupnya. Untung saja, ia mampu membeli kosmetik mahal dan perawatan kecantikan ala super model. Bisa di pastikan semua kekurangan fisik bisa tertutup dengan sempurna. Tapi entah mengapa mata Prita sering sekali sembab dengan wajah kusut tak bahagia. Hmm...kurang apa lagi sih ? Bukankah semua sudah terpenuhi ?

Saskia – Sahabat ku yang satu ini berbanding terbalik dengan kehidupan yang di miliki Prita. Suaminya, hanya mampu membelikan Saskia dan anak semata wayang mereka , rumah kecil berukuran 60 meter. Letaknya pun puluhan kilo dari pusat kota. Saskia berangkat kerja selepas subuh, sementara suaminya memiliki usaha warung kecil kecilan di rumah sambil menjaga anak mereka. Tapi ia jarang mengeluh. Saskia sendiri, bekerja di salon Muslimah. Sesuai dengan penampilannya yang tertutup dari rambut hingga ujung kaki. Tapi ia mahir mematut diri. Wajah dan tubuhnya selalu segar, dengan sorot mata yang penuh binar bahagia. Satu yang menurutku kurang dari Saskia. Ia terlalu polos tanpa make up. Satu satunya kosmetik yg di pakai hanya ulasan tipis bedak dan lip gloss. Beda dengan  Prita yang  modis dan begitu antusias dengan topik-topik seputar kehidupan seks suami istri, Saskia justru menghindari. Menurutnya, hal itu terlalu pribadi untuk di umbar dan di bagi, meskipun dengan alasan menambah pengetahuannya sebagai istri. Saat bersama suaminya di depan umum, mereka pun seperti menjaga jarak. Beda dengan Prita dan Dennis, yang berani berciuman mesra dimana pun. 

Aku sendiri, sangat menghargai apapun bentuk prilaku dua sahabatku itu.

Suatu hari Prita mendatangiku dengan wajah lebih kuyu dan sedih dari biasanya.
            “Ada apa Prita ? Kamu kok kusut banget ?”
            “Rasanya....Aku mau bunuh diri saja !” Ujarnya putus asa tiba tiba
Aku terperanjat sambil menatap wajahnya iba. Matanya sudah basah dan semakin tersedu sedu.
            “Prita...tenang, ada apa sebenarnya ? Bukankah hidupmu begitu sempurna ?”
            “Sempurna ?? Prita menatapku sayu lalu kembali terisak.
            “Kamu memiliki semua hal yang di inginkan setiap perempuan di dunia ini. Apa itu masih kurang sempurna, Prita?”
            “Aku..aku tidak bahagia, Anna...Aku menderita !”
Tambah kaget dan tak percaya dengan kalimat itu. Bagaimana mungkin dengan kehidupan serba terpenuhi kata “menderita” bisa di ucapkan Prita ?
            “Apa yang membuatmu menderita ? Kamu punya segalanya kan ?”
            “Tidak Anna, semua itu tidak ada artinya jika suamimu ternyata lebih mencintai perempuan lain”
            “Hah ? Suamimu selingkuh ?”
Prita menangguk sedih. Aku kembali terhenyak bingung. Apa kurangnya Prita. Ia cantik, karir cemerlang, pandai bersolek dan untuk urusan ranjang, aku yakin Prita sudah terbilang expert di bidang yang satu itu. Suami macam apa yang tidak mensyukuri segala kelebihan yang dimiliki istrinya ??
            “Ta, apa mungkin ada perempuan lain yang bisa menandingi semua kelebihan yang kamu punya ? Atau suamimu saja yang kurang bersyukur” Tanyaku mencari tahu. Prita hanya  menggeleng sedih. Meski mulai sedikit tenang.
            “Dennis berselingkuh dengan perempuan yang....yang jauh berada di bawahku”
            “Maksudmu ? Dengan si Siti pembantu di rumahmu ?” Sambarku kaget, tapi ia menggeleng. “Ternyata, selama setahun terakhir ini...Dennis sudah menikah di bawah tangan dengan Jamilah, salah satu perempuan di tempat panti pijat langganannya”.
            “Astagaaaa......kok bisa ?? Pasti suamimu kena ilmu pelet, Ta ? Dan Si Jamilah itu pasti cuma mau mengeruk harta kalian lewat suamimu, hati – hati loch !”
            “Aku tidak tahu Anna, Tapi Dennis telah jujur mengakui….Ia..ia menemukan kenyamanan dan irama yang sama dalam segala hal bersama Jamilah. Ia bahkan....rela tak mendapatkan harta secuil pun dari pernikahan kami, asalkan aku bisa melepaskannya untuk hidup bersama perempuan itu....” Tuturnya pedih.
            “Apa ?? Nyaman dengan tukang pijat ? Lalu dirimu di anggap apa selama ini, bagaimana bisa sih, Ta ?”
            “Menurut Dennis, aku terlalu tinggi buatnya. Kami tak memiliki irama yang senada di semua hal dalam pernikahan kami. Dan..ia tak bisa lagi bersandiwara terus menerus”
            “Maaf Ta, boleh aku tanya hal yang lebih pribadi ?”  Prita menatapku lalu mengangguk pelan.
            “Emm...sebagian besar suami berselingkuh karena kehidupan seks dengan istrinya kurang terpenuhi. Apa kamu dan Dennis memiliki masalah itu ? Mendengar apa yang sering kita obrolkan, sepertinya aku tak melihat itu di hubungan kalian”  Prita mendesah berat. Tatapannya kosong kedepan.
            “Selama ini, aku lah yang memegang kendali di semua kehidupan pernikahan kami, termasuk urusan seks. Egois memang, saat ia merasa tak nyaman aku sering tak peduli dan….terkadang memperlakukannya hanya sebagai ‘alat; “
            “Ohhhh…yaaaa ?? Aku kira cuma laki laki yang bisa begitu sama perempuan. Ternyata....Ups, Sorry, sorry Prita...soalnya aku baru mendengar hal ini bisa kejadian sama lelaki” Seruku hampir tak percaya.
            “Aku memang salah, aku terlalu egois dan sering menganggap sepele segala permintaan dan masukkannya. Aku terlalu dominan..” Aku hanya mampu menatap sahabatku iba. “Prita, aku yakin belum terlambat. Bicaralah baik baik pada Dennis. Jika dia tulus mencintaimu. Selalu ada jalan bagi kembalinya hubungan kalian”
            “Terima kasih, Anna….semoga aku masih punya energi dan harga diri untuk mencoba lagi” Sahutnya tersenyum sendu.

            Sementara kubiarkan Prita yang masih berkutat dalam usaha mengambil kembali hati Dennis. Sore sepulang kantor, tiba tiba  Saskia menelponku.Suaranya yang  lembut terdengar sedikit gugup.
            “Ada apa Saskia ?”
            “Aku..aku mau minta tolong nih, An...tapi...tapi aku malu” Suara Saskia kini terbata.
            “Malu ? Memangnya mau minta tolong apa sih ? Gak usah malu lah...ngomong aja. Kamu kan tahu aku penjaga rahasia terbaik” Balasku tertawa renyah.
            “Aku...hmm....suamiku....eh...apa ya ?”
            “Duh, apa sih Saskia....ngomong aja, ada apa ? Biar gampang aku bantuin nya” Ujarku mulai tak sabar.
            “Begini An....suamiku tumben tumbenan, mau lihat aku...ehm...pakai..pakai lingerie. Tapi…aku tidak tahu, lingerie mana yang cocok buatku. Kamu bantu aku pilihkan ya, soalnya aku sendiri….belum pernah punya baju model begitu”

Di ujung telpon aku tersenyum geli membayangkan keluguan Saskia, tapi langsung setuju untuk membantunya. Aku terkesima sejenak, kedataran hubungan suami istri yang di tampilkan mereka di depan umum, mungkin berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di kamar tidur mereka. Kita tak pernah tahu rahasia sepasang suami istri. Dan sangat tidak bijak jika terlalu cepat menilai hubungan seseorang lewat kacamata umum. Penilaianku pun terkoreksi untuk Saskia.
            “Jadi...kamu mau pilih yang merah atau hitam ?” Tawarku pada Saskia sambil menyodorkan dua  lingerie berenda sederhana dengan motif bunga bunga kecil berbahan satin halus. Saskia masih terlihat bingung.
            “Menurutmu bagus yang mana ?”
            “Suamimu suka warna merah atau hitam ?”
            “Dia tidak bilang harus warna apa sih, pokoknya yang penting lingerie”
Aku kembali tertawa kecil melihat kepolosannya.
            “Hmm..kalau aku menilai karakter Mas Dodo yang kalem, kayaknya dia pasti lebih suka warna hitam”  Tiba tiba Saskia tertawa pelan. “Kalem..? Nggak juga loch” Timpalnya dengan wajah bersemu.
            “Oya ?? Wow, kalau begitu kamu harus pilih model yang ini ?!” Seruku menyodorkan lingerie two pieces berwarna merah menyala. Saskia malah terbahak.
            “Loch, kalau mau membahagiakan suami jangan setengah setengah” Bisikku menggoda. Saskia menutup mulutnya menahan tawa dengan pipi memerah.
            “Sebenarnya aku malu melibatkanmu untuk urusan pribadi bersama suamiku. Tapi….”
            “Tenang saja Saskia, rahasiamu di jamin aman. Tapi, aku nggak nyangka loch. Aku kira kamu dan Mas Dodo pasangan dengan kehidupan seks yang datar. Tapi ternyata....wow !” Ujarku menggoda. Saskia kembali tersipu. “Apa sih rahasiamu, bisa tetap awet ?”
            “Sederhana saja Anna, tidak harus berlebihan dalam menjaga ikatan pernikahan kita. Cukup kenali nature dasar seorang laki laki”
            “Maksudmu ?” Timpalku belagak bodoh. Saskia menatapku lembut.
            “Hargai dan hormati suami seperti orang tua kita, tapi manjakan dirinya layaknya anak balita”
            “Ow...itu toh kiat mu...Hmmm, betul juga ya...boy is still boy !”
            “Selama apapun usia pernikahan itu, kita lah sebagai istri yang harus terus menyesuaikan diri pada ritme dan irama kehidupan yang diciptakan suami. Laki laki adalah mahluk egois, untuk itulah perempuan di berikan kekuatan mental untuk menghadapinya”
            “Dan…kamu tidak keberatan jika ada hal yang berbenturan dengan prinsip dan harga dirimu ?” Pancingku ingin tahu.
            “Untuk itulah pentingnya komunikasi berimbang dalam perkawinan. Tidak dominan dan satu arah. Jika memang saling cinta, pasti akan saling mendengar dan menghargai” Timpalnya tersipu sambil pelan pelan memasukan lingerie two pieces itu ke dalam kantong belanjanya. Hmm...

 Aku tertegun mendengar ucapan bijak Saskia. Pikiranku langsung melayang pada Prita. Seandainya masih ada waktu bagi Prita untuk menyelaraskan irama perkawinannya bersama Dennis. Aku hanya  mampu berdoa untuk mereka.

            Saskia dan Prita adalah dua sahabatku dengan latar belakang bak bumi dan langit. Dari keduanya, aku mendapat banyak pelajaran berharga tentang hubungan dalam pernikahan. Tentang harga diri dan pentingnya menyelaraskan ritme kehidupan pernikahan dengan blue print dasar laki laki dan perempuan yang berbeda. Seperti halnya tangga nada dalam sebuah lagu. Iramanya baru terasa indah, jika ada nada rendah dan tinggi. Dan Saskia, rela untuk beberapa saat merendahkan nadanya untuk tetap terciptanya irama kehidupan perkawinan yang terdengar indah di telinga mereka berdua. Tak sulit tapi perlu perjuangan yang tentunya sangat menguji mental dan harga diri.

TAMAT



Tuesday, April 16, 2013

REALITA PASIR DOSA


REALITA PASIR DOSA
Oleh : Ria Jumriati



Kaki mungil Kania masih terlalu dini untuk menapak pasir dosa. Wajah bening itu bahkan terlalu suci untuk dibasuh tetes demi tetes angkara dari lelaki yang tiap malamnya gemar memasuki gerbang birahi Ibunya. Kania masih terlalu lugu untuk mengartikan belaian yang terasa aneh menyentuh kulit bayinya. Tapi gadis kecil itu selalu dipaksa untuk menapak pasir pasir dosa yang ditebar di hamparan sunyi hidup seorang Kania yang yatim tanpa perhatian dan kasih sayang utuh.


            Mama pergi dulu ya, sayang…” Bisik Ibunya sambil mengelus rambut panjangnya. Mata bulat itu hanya menatap sendu tubuh semampai Nina yang berjalan gemulai meninggalkannya. Ia mendesah pelan, dipandanginya boneka Barbie berambut pirang dipangkuannya. Celana dalam Barbie seksi itu tersingkap karena baju mini yang dikenakan. Dada Kania mendadak berdetak melihatnya. 

            “Buka ya sayang…”  Kata kata itu terus terngiang ditelinganya. Tangan kekar yang menjelajahi tubuh mungilnya dan…..Kania pun berlari kencang menuju kamarnya. Ia memejam matanya erat. Menyusup dikegelapan dan kedalaman selimut tidurnya. Jantungnya masih berdetak kencang. Ia berusaha tidur dan meraih mimpinya.
            “Pipin..!” Teriaknya kencang.  Sahabat kecilnya itu pun datang dengan senyum seperti biasa.
            “Kania ? Kenapa kau tenggelamkan dirimu ?”
            “Aku ingin membersihkan pasir pasir dosa ini…aku aku jijik !” Sahutnya dengan wajah duka. Pipin memandang wajah Kania dengan tatapan iba. Mimpi kanak kanak Kania pun semakin terkoyak menjadi serpihan kecil tanpa bentuk.

            “Jangan Kania, kamu akan mati Kania !” Seru Pipin sedih
            “Biar kan aku ! Aku tak mau terlihat…aku ingin tenggelam” 


Pipin memandangi tubuh Kania yang kian jauh terjerembab. Berusaha mengingkari realita pasir dosa. Hidup dalam bayang kesesakan setiap saat. Ia memang tak terlihat namun pasir pasir dosa itu masih melekat erat di setiap inci tubuhnya. Pipin pun tak tega dan  berusaha menarik Kania dari kedalaman yang gelap.

            “Jangan…Jangan…Jangan!!” Teriak Kania. Akhirnya ia pun terbangun seorang diri dengan keringat yang mengucuri segenap tubuhnya.  Mimpi itu masih terus membayangi hingga tubuh kecilnya beranjak dewasa kini. Lalu serpihan kenangan  buruk yang terus tertancap dalam di benak Kania hingga tercipta satu dendam penuh bara dan amarah. Pasir pasir dosa itu masih menyimbahi tubuh semampainya. Wajah bengis bernafsu binatang itu, masih jelas tergambar di benaknya yang terluka. Semua kejadian menjijikan itu kian menancap tajam di benaknya yang kerap berdarah. Dan tetap menyumbat bibir Kania untuk tak pernah menceritakan semua ‘kebengisan’ itu, bahkan pada Ibu kandungnya sendiri. Dan   Marvy – lelaki yang dinikahinya semata untuk menghilangkan kenangan buruk itu, tapi tak bisa ! Ia terus hadir dalam berbagai sosok menakutkan dalam kenangan dan mimpi buruknya. Lalu Pipin pun tumbuh, dalam imajinasi Kania. Memiliki dendam membara dan amarah sekelam jiwa Kania.

            “Kania….” Marvy mengambil jemarinya dan menaruh didada bidangnya. Gadis itu menoleh pelan dengan tatapan kosong.

            “Apa yang kau pikirkan sayang ? Cobalah nikmati kebersamaan kita” Bujuk Marvy penuh kasih.  Ketika dirasakannya Kania kerap menolak dan tak pernah menikmati ‘kebersamaan’ mereka sebagai pengantin baru. Meski Marvy adalah lelaki terbaik dan terlembut yang telah dipilih Kania diantara lusinan sosok yang mencoba menaklukkan hatinya. Dan Marvy memang telah berhasil membawa Kania ke permukaan. Ia tak lagi menenggelamkan diri seperti saat lalu. Tapi pasir pasir dosa itu ? Ternyata kehadiran Marvy tak mampu membersih kan setiap bulir yang pernah ditebar ayah tirinya. Gadis itu bahkan menemukan seringai srigala lelaki bejat itu di desah birahi suaminya. Dan Kania benci itu ! ia pun kembali menyerusuk dalam kepekatan dan kegelapan selimut tidurnya.

            “Kania, berceritalah padaku…apa yang membuatnya sering  bermimpi buruk ?”  Bujuk Marvy seraya memeluk tubuh istrinya erat.
            “Aku benci wajah itu.....” Bisiknya pelan. Perlahan air mata menetes dipipinya.
            “Siapa Kania ?”
            “Lelaki yang memaksaku untuk menapak pasir pasir dosa”

Marvy menatap mata istrinya dengan pandangan tak mengerti.  Ia pun mendesah pelan. Sejak mengenal gadis itu, memang banyak hal misterius yang menyimbahi hidupnya. Tapi Marvy tak peduli, sejak melihat mata sendu itu keinginan untuk melindungi dan memilikinya semakin kuat. Sorot mata Kania ibarat kumparan magnet berkekuatan besar yang kerap menarik Marvy untuk menyelami kedalaman kelam yang hingga kini tak pernah bisa diterjemahkannya.  Tapi ia begitu mencintai Kania yang terkadang terlihat rapuh namun memiliki ketegaran tersendiri.

            Malam pun semakin merangkak menuju pagi. Kania tertidur gelisah dalam pelukan suaminya. Namun wajah berseringai srigala itu kembali datang lagi. Kania berlari lelah di antara lorong lorong pekat mimpi buruknya.

            “Pipin ! Pipin ….tolong aku !” jeritnya.
Dalam sekejap bayang  Pipin hadir dengan senyum lembut seperti biasa. Baju putih longgar yang dikenakannya berkibar pelan tertiup angin. Ia mengulurkan jemarinya untuk menolong Kania.
            “Dia datang lagi..!” Bisiknya ketakutan sambil bersembunyi dibalik tubuh Pipin. Sementara nafas laki laki itu semakin memburu menebar aroma nafsu busuk. Kania mendadak mual. Ia benci bau itu !.
            “Kania, jangan biarkan ia memburu hidupmu terus” Ujar Pipin pelan seraya menatap tajam ke arah bayang laki laki itu.
            “Aku tak bisa melawannya, ia terlalu besar dan kuat”
            “Bagaimana kamu bisa tahu ? selama ini kamu tak pernah mencoba untuk melawannya “
            “Aku takut…” Isaknya pelan.
            “Lihat Kania ! semakin kamu ketakutan binatang jalang itu kian berani mencabik cabik hidupmu..Lawan !”  Seru Pipin memberi semangat.
            “Tapi…aku..aku” Kania melangkah ragu.
            “Balas tatapan tajam, hantam cabik dahsyatnya, jangan mundur Kania !.
            “Pipin…! Tolong aku…!”  Jeritnya. Kania kini tengah berada dilingkar sempurna nafsu binatang itu.
            “Lawan Kania…! Lawan..!” Seru Pipin. Ia pun melemparkan kepada sahabatnya sebilah pisau dengan kilatan tajam.
            Robek jantungnya..! “  

Sejenak Kania terlihat bingung dengan benda di tangannya. Sementara mata wajah bengis itu semakin berkilat dengan julur penuh nafsu. Kania memberanikan diri untuk semakin mendekat. Dibalasnya tatapan tajam itu. Pergumulan seru pun terjadi. Dengan penuh dendam dan kebencian yang membludak, dada itu pun di hujam dengan tusukan pisau berkali kali hingga darah segar pun tersemburat deras. Tubuh tinggi dan kuat itu pun roboh. Kania tertawa keras penuh kepuasan. Dengan segera ia pun membersihkan pasir pasir dosa ditubuhnya dengan simbahan darah segar itu. Kania terus tertawa. Ia pun berenang kian kemari dengan gelak ceria. Kadang tenggelam dan menyembul kembali dengan riangnya. Pasir itu tak ada lagi kini, Kania baru saja membasuhnya dengan kuyup darah segar ayah tirinya.  Sementara Pipin tersenyum puas lalu pergi meninggalkan Kania yang tengah asyik bermandikan darah dendamnya.

Pagi ini pun disambut Kania dengan nuansa hati yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Ia menatap sekeliling taman dibelakang rumahnya dengan wajah sesegar bayi. Marvy bahkan tak lagi melihat tatapan kosong itu di mata istrinya. Bahkan saat terbangun tadi, Marvy mendapatkan kecupan mesra Kania yang sangat berbeda dari sebelumnya.  Ada apa ? pertanyaan itu menyembul juga dibenak Marvy. Baru tadi malam ia meminta istrinya untuk menceritakan tentang mimpi buruk dan perilaku tak biasanya. Tapi pagi ini, mendadak semuanya berubah. Hingga telpon itu berdering dan Marvy tak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

            “Mana mungkin, Ma ? .Kania bersama saya semalaman ini!” Ujarnya kaget dan tak percaya.
            “Tapi suamiku terbunuh begitu keji, dengan beberapa tusukan di dadanya. Dan….sidik jari Kania ada disemua sudut ruangan dimana ia terbunuh !” Tutur Ibu Kania dengan isak pilu, sementara Marvy semakin tak mempercayai ucapan Ibu mertuanya.
            “Marvy, sekarang polisi tengah menuju rumah mu dan ingin menangkap Kania!”
            “Mustahil, Bu ! alibi Kania terlalu kuat untuk dituduh sebagai pembunuh. Aku bersamanya semalaman ini. Tidak mungkin !” Bela Marvy. Namun sebelum pembicaraan itu berakhir, Terdengar suara ribut diruang tengah, Marvy pun segera menemui  Kania  yang tengah  berhadapan dengan beberapa polisi. Dengan sigap ia pun segera mengambil alih posisi Kania dari beberapa pertanyaan polisi sambil terus memeluk tubuh istrinya yang mendadak sedingin es.

            “Kalau memang sidik jari Kania ada di TKP. Lalu bagaimana dengan sidik jarinya di tempat tidur yang kami tempati berdua di saat yang sama ? Silahkan Bapak memeriksa semua sudut dirumah ini, terutama di kamar kami “ Tantang Marvy. Pemeriksaanpun dilakukan. Sementara Kania tak berkata sepatah pun. Sebagian raganya seolah masih berada di ambang mimpi. Ia bahkan masih merasakan lengket dan bau amis darah segar itu.. Tapi polisi yang lalu lalang dan sesekali menginterograsinya, perlahan memberi kesadaran di benaknya tentang realita pasir dosa yang sesungguhnya.

            Hampir setengah hari rumah mereka di obrak abrik Polisi. Dan memang harus diakui, Marvy adalah alibi terkuat Kania, dan pastinya bukti sidik jarinya yang memang ada diruang tidur, dapur, kamar mandi bahkan kursi halaman belakang. Semua meyakinkan penyidik bahwa Kania berada dirumah ini disaat Ayah tirinya terbunuh secara mengenaskan di waktu yang sama. Siapakah pembunuh sadis itu ? Pemeriksaan masih terus dilakukan, namun Kania sama sekali tak bisa di tempat kan sebagai pelaku. Lalu siapa yang membunuh laki laki bejat itu ? Tak ada jawaban yang pasti. Mungkin hanya jiwa Kania yang mampu menjawabnya. Bertahun tahun ia menyimpan dendam hingga mencipta sosok seperti dirinya dan berharap penuh doa dan amarah, bila  suatu saat bisa merobek jantung ayah tirinya secara biadab, sama seperti saat laki laki itu dengan tega merobek keperawananya dan memberi warna teramat kelam disebagian perjalanan hidupnya.  

TAMAT



Note :

Dalam ilmu psikologi, double personality bisa saja terjadi dan di sebut ”Lompatan Psikologi Transpersonal”


Ada tanggapan, sangkalan, atau pendapat ? Sangat di persilahkan untuk menambah wawasan. Terima kasih ^__^
             
           

Saturday, April 13, 2013

KEPUTUSAN





Semua panca indera yang kita miliki, punya fungsinya masing masing.  Misalnya telinga. Ada banyak sekali hal yang kita dengar setiap harinya. Untuk itu kita punya hati untuk menyaring, mana yang baik untuk di cerna naluri,  dan mana yang hanya membuat lubang di hati. Keputusan mutlak berada di tangan kita. Orang lain, boleh berkata apapun dan mau tak mau di dengar oleh telinga kita. Tapi kita tak hidup dari apa yang mereka omongkan. Entah itu perkataan baik apalagi buruk. 

            Saya tinggal di komplek dengan ukuran cluster yang terbilang kecil di banding cluster lainnya yang ada. Setiap hari, ada saja omongan tetangga usil yang membuat kerja hati kita semakin berat. Sayangnya, saya memang tak menyediakan energy untuk hal semacam itu. Meski kadang harus bersitegang dengan ego dan harga diri, yang selalu tak rela saat memproses apa yang di dengar oleh telinga. Belum lagi, pergaulan di kantor yang masing masing orang memiliki emosi dan masalahnya sendiri. Sebenarnya terlalu banyak, hal yang membuat hati kita berlubang.  Tapi untuk apa ? Baiklah, kita memang hanya manusia biasa yang bisa sakit hati atau punya batas kesabaran pada satu tekanan tertentu. 


            Salah satu orang terbaik yang saya kenal dan  saya beri istilah “Perpanjangan Tangan Tuhan” pernah berkata. “Semua tergantung keputusan” Seseorang bisa lulus sarjana atau memilih untuk menjadi wirausaha selalu berawal dari  keputusan yang mereka buat. Hal itu berlaku pula di seluruh lini hidup ini. “Keputusan” . Akankah kita memutuskan untuk hidup dari perkataan orang lain, yang kebanyakan hanya menghanguskan energy positif milik kita. Atau  memutuskan untuk hanya mendengar dan berkolaborasi dengan hati, ego dan harga diri, untuk mencernanya menjadi sampah tak berguna yang tak perlu mendapat ruang sedikit pun. Lalu jalani hidup dengan segala konsekwensi logis dan realistis untuk mencapai tujuan – tujuan mulia menurut takaran hidup yang kita punya.


            Mari kita putuskan hanya yang keberpihakannya bisa menciptakan energy positif bagi kehidupan kita !