Monday, May 14, 2012

Being Human - Logika mencapai Derajat Manusia Sesungguhnya




Senangnya mengikuti Film Serial di TV kabel. Tak hanya sekedar mendapat tontonan yang menghibur, berkwalitas, acting dan  make up yang natural, visualisasi meski sangat over fantasi, tapi mudah di cerna pemikiran awam. Dan satu lagi, jalan cerita yang meski masuk kategori Science fiction, sekali lagi sangat bisa lebur dengan logika.

Ada beberapa tayangan serial yang saya ikuti di TV Kabel. Salah satunya “Being Human”. Menceritakan tentang persahabatan 3 jenis species manusia jadi jadian. Mitchel si manusia Vampire, George si Werewolf dan Annie yang hadir sebagai Hantu. Menarik dan creative !.

Ketiga nya di pertemukan ketika George di selamatkan Mithcel saat di serang gerombolan Vampire, di situ lah awal perkenalan dan persahabatan mereka. Lalu memutuskan untuk menyewa rumah kosong di daerah Bristol, dimana rumah tersebut adalah tempat di mana Annie meninggal, karena di bunuh oleh tunangannya sendiri. Annie yang awalnya invisible, bisa terlihat, terdengar dan berbicara layaknya manusia hidup saat Mitchel dan George memasuki rumah tersebut dan menemui sesosok hantu yang ceria dan rajin membuat teh untuk mereka. Annie begitu bahagia, karena akhirnya, ada juga  mahluk berjenis manusia yang tak sekedar bisa melihat dirinya, tapi juga bercakap2 dan menerimanya sebagai sahabat. Annie yang ceria, Mitchel yang berwibawa dan penuh belas kasihan serta George yang panic namun over protective. Menghadirkan chemistry yang sempurna di persahabatan ketiga mahluk jadi jadian tersebut.

Meskipun Annie berperan sebagai Hantu. Make up dan pakaiannya tak lantas menyeramkan, ia tetap tampil layaknya gadis biasa. Hanya warna busananya yang berkisar di abu abu dan putih. Beda dengan sinetron dan film Indonesia yang terlalu dibuat berlebihan sampai tak masuk akal. Begitu pula dengan Mitchel dan George, tampil elegan, chic namun di beberapa gesture pada peran yang mereka mainkan, tetap ada kesan Vampire dan Werewolf  yang kadang di hadirkan secara natural, sekedar mengingatkan penonton tentang latar belakang mereka. Tanpa harus mengobral begitu banyak adegan horor yang berlebihan, namun tetap terjadi koneksi yang selaras di logika dan imajinasi saya sebagai penonton. Meski serial ini, sudah beberapa tahun lalu di tayangkan, dan di ganti oleh pemeran berbeda, saya lebih menyukai bounding ketiga character di serial ini.

Mitchel, George dan Annie berusaha untuk menjadi manusia diantara para manusia yang ternyata tak memiliki hati setulus mereka. Berkali kali kebaikan dan niat baik mereka untuk menjadi manusia, justru di khianati oleh manusia yang ternyata lebih brutal dari nature dasar yang mereka miliki sebagai species horor. Mitchel yang berusaha mati matian mengikis habitnya sebagai mahluk penghisap darah, George yang mencoba hidup bersama dengan manusia normal, dan Annie yang terus membantu Hantu lainnya, yang terjebak di lorong lorong waktu untuk menemukan pintu masuk menuju kehidupan selanjutnya. Sampai membuat dirinya terperangkap pada portal pintu yang salah, yang ternyata adalah neraka. Tak masuk logika tapi mudah di cerna dan menarik untuk di nikmati !.

Mitchel yang awalnya menyayangi Annie sebagai Sahabat, merasa sangat kehilangan dan baru menyadari kebutuhannya pada Hantu itu ternyata begitu tinggi. Ia pun rela menuju portal neraka untuk menyelamatkan Annie. Mereka pun baru menyadari ada sesuatu yang sangat murni yang terlahir dari persahabatan mereka selama ini. Tak mungkin ada sexual activity bersama Annie, karena dia hantu. Tapi dalam eksistensinya sebagai Hantu, Annie justru menemukan cinta sejatinya pada Mithcel si Manusia Vampire dengan latar belakang sejarah penuh darah. Namun meski seorang Vampire, Mitchel memiliki ketulusan cinta melebihi kekasih Annie semasa hidupnya. Seperti prolog yang di ucapkannya di salah satu episode berikut ini :

“ My Name is Annie Claire Sawyer, and 2 years ago I died. But in so many ways, that’s when my life began. In the company of horror, I learnt about friendship and loyalty. Humanity isn’t a species. It’s a state of mind. It can’t be defeated – It moves mountains, it saves souls. We were blessed as much as we were cursed. In this little enclave of the lost….I witnessed the very best of Being Human….”

Serial tersebut, merefleksikan bahwa manusia tetaplah mahluk dengan budaya dan tingkat social yang tinggi. Namun, jika manusia dengan segala kelebihannya memiliki kwalitas hati yang brutal, apakah masih pantas di sebut mahluk social dengan derajat yang tinggi ? Koreksi hati, pemikiran, dan nurani terdapat pada serial ini…Kesimpulannya : Perbuatan dan pikiran kita lah yang menentukan, pada jenis species apa kita sebenarnya....Because, Humanity isn’t a species. It’s a state of mind

- Ria Jumriati -


No comments: