Thursday, January 30, 2014

Pulang...





PULANG
Oleh : Ria Jumriati



            “Besok ada acara apa Vin ?” Seperti biasa, menjelang weekend pasti ada pertanyaan basa basi seperti itu. Vinny hanya tersenyum kecil. Biasanya sahabat sekantor ku itu selalu memiliki agenda yang padat. Tapi sudah 3 kali weekend dengan pertanyaan yang sama, Vinny pun menjawab dengan jawaban yang sama dan singkat.
            “Pulang”
            “Ke Bali ?”
            “Bukan”
            “Pulang…..hmm…kemana ?” Tanyaku menyelidik. Vin hanya tersenyum kecil. Sudah 2 minggu ini ia tak seceria biasanya. Lebih banyak termenung dan selalu menjawab pertanyaan apapun dengan singkat.
            “Kenapa sih Vin, kamu kok kelihatan murung terus ? Ada masalah apa ? Tanyaku penasaran. Sekali lagi Vin hanya tersenyum kecil. Tak menjawab hanya mendesah pelan.
            “Cerita dong Vin, supaya bebanmu lebih ringan. Aku kan sahabat mu “
            “Tentu Shasi, kamu akan selalu menjadi sahabatku”
            “Lalu, ada apa ? Kenapa kamu kelihatan sedih terus ?” Vin kembali mendesah. Ada awan resah di mata beningnya.
            “Aku capek”
            “Kerja memang capek, semua orang pasti merasa begitu. Tapi di nikmati saja lah....kamu kan bisa ambil cuti dan pulang ke Bali” Ujarku dengan senyum menghibur.
            “Aku merasa....saatnya harus pulang” Sahutnya sendu.
            “Ya sudah, langsung cuti saja”.

Itu percakapanku dengan Vin, satu minggu lalu. Setelahnya ia bukan cuti tapi malah mengundurkan diri dari tempat kami bekerja. Vin tetap tak memberi alasan jelas tentang pengunduran dirinya. Sekali lagi ia hanya menjawab dengan 2 kata “Pulang” dan “Capek”. Sebagai sahabat aku berusaha mencari tahu sebab kemurungan Vin dan keputusannya untuk mengundurkan diri. Dan alasan yang paling masuk akal karena tunangannya Tyo memutuskan hubungan mereka sepihak, seperti itulah keterangan singkat yang kudapat dari Rosa, teman satu kost nya. Tapi aku kenal Vin, ia bukan type cewek cengeng dan rapuh. Bahkan di belakang Tyo, ada beberapa cowok yang siap menerima Vin, atau malah yang mendoakan hubungannya dengan Tyo kandas. Diantara beberapa itu, Fadly lah yang paling serius menggantikan posisi Tyo. Begitu mendengar kabar Vin jomblo. Ia pun langsung memburu ku sebagai mak comblang nya.

            “Hai Sashi” Aku tersentak mendengar suara Tyo saat aku melangkah keluar gedung perkantoran.
            “Oh..Hai, Apa kabar ?”
            “Baik…Hmm, Kamu tidak lihat Vin ?” Tanyanya mencari
            “Vin ?? Memang kamu tidak tahu, dia sudah resign seminggu lalu”
            “Ohh ! Resign ?? Sekarang kerja dimana ?”
            “Katanya sih di sebuah penerbangan swasta. Memang dia tidak bilang?”

Tyo mendesah panjang sambil menggelang. Matanya terlihat gusar. Tak ada tanda tanda Tyo memutuskan Vin begitu saja. Ia terlihat masih sangat mencintai gadis itu.
            “Hmm...maaf Tyo, aku dengar...kalian baru saja putus ? Memang kenapa, bukannya hari pertunangan kalian tinggal beberapa bulan lagi ?” Tanyaku memberanikan diri. Tyo kembali mendesah.
            “Entah lah Sas, Vin bertingkah sangat aneh beberapa minggu terakhir ini. Seminggu lalu, tiba tiba ia meminta hubungan kami di akhiri saja”
            “Alasannya apa ?”
            “Katanya dia mau ‘pulang’, tapi saat aku tanya mau pulang kemana ia hanya menggeleng sedih”.
Aku terhenyak mendengar kata ‘pulang’ yang terus di ucapkan Vin. Firasatku mendadak tak enak.
            “Tapi..kalian tidak ada masalah apa apa kan ?”
            “Tidak Vin ! Sumpah, padahal undangan bulan depan sudah mau di cetak. Aku juga bingung dengan keputusannya” Sanggah Tyo bingung.
            “Mungkin...Vin butuh waktu untuk kembali pada keputusan yang bulat dan tepat. Aku yakin, Dia pasti akan berubah pikiran” Sahutku menghibur. Tyo hanya tersenyum.
           
Aku baru saja bersiap siap berangkat ke tempat kost Vin, ketika pintu kamarku di ketuk seseorang.
            “Vin ! “ Mata ceria itu telah kembali. Vin langsung memelukku.
            “Hai, apa kabar ?”
            “Baik...jauh lebih baik !” Ujarnya sumigrah.
            “Bagaimana kantor barumu ? Bos dan teman teman barumu menyenangkan ?”
            “Ya, mereka semua baik. Besok aku malah di ikut sertakan dalam uji coba pesawat baru. Joy Flight nama, Duh aku senang sekali ! Apalagi tujuan pertamanya adalah Bali ! Mudah mudahan aku bisa sekedar berpamitan dengan orang tuaku disana”
            “Kok berpamitan ? Memang setelahnya terbang kemana lagi ?”
            “Ya balik ke Jakarta dong “ Timpalnya dengan tawa. Aku pun menimpali.
            “Syukurlah Vin, aku senang kalau kamu bahagia”
            “Tentu Sashi” Sahutnya sambil memelukku.
            “Baik baik di udara yaa....jangan lirik lirik Pak Pilot, kasian Tyo tuh !”
Vin akhirnya tertawa lepas, seolah baru saja keluar dari ruang yang pengap. Aku senang melihat keceriaan sahabatku telah kembali.
            “Aku bukan yang terbaik buat Tyo, dia layak mendapatkan yang lebih”
            “Tapi....”
            “Akh sudahlah....” Putusnya cepat  “Saat ini aku ingin menikmati hari ku, aku tidak capek lagi, semua telah terlihat jelas dan aku makin mengerti bahwa aku memiliki waktu terbaikku” Ujarnya tenang. Aku mengernyit bingung, berusaha mengartikan kalimatnya yang terluncur tanpa makna pasti.
            “Maksud mu ?”
            “Tidak ada, aku hanya merasa sangat bahagia”
            “Baiklah Vin, happy flight yaa...kabari aku kalau sudah sampai”
Ia mengangguk dan tersenyum sangat manis. Seingatku, ini adalah senyum termanis Vin yang baru kutemui sejak bersahabat dengannya selama 3 tahun ini. Tiba tiba aku memeluknya, firasat tak enak itu kembali menyeruak. “Jaga dirimu ya, Vin”

            Firasat tak enak itu ternyata menjadi kenyataan. Pesawat uji coba yang di tumpangi Vin menambrak tebing dan hancur berkeping hingga tak ada korban yang selamat satupun. Aku terhenyak lalu menangis tersedu, melihat tayangan berita di TV yang menggambarkan kepingan pesawat yang tak lagi menyisakan raga bernyawa. Dan tubuh mungil Vin, mungkin tak lagi bisa di kenali.
            Aku pun mengerti, ternyata mungkin Vin telah mendapat sinyal atau portal untuk pulang menuju tempat terindahnya. Kegelisahannya, bisa jadi transisi antara raganya yang belum terlalu siap, untuk selaras dengan jiwanya yang memang ingin pulang. Apapun jalannya, aku yakin Vin telah mendapatkan rumah terindahnya di surga.
Nun jauh dihamparan bumi di kedalaman lautan luas. Berhamburan serpihan pesawat dan tubuh manusia. Namun itu hanyalah ragawi bagi semua penghuni alam Illahi. Hanya sebagai bukti keberadaan mereka yang pernah menjejaki bumi. Memang ada airmata, jerit kesakitan dan darah yang berhambur deras. Dan sekali lagi, itu hanyalah kodrati dari takdir rasa yang harus dijalani sebagai manusia. Namun, satu yang perlu diyakini meski melintasi batas kewajaran yang berlaku sama di bumi. Mereka…telah dikawal oleh ribuan malaikat dan bidadari tanpa rasa sakit dan derita yang memilukan. Mereka tak sekedar menjalani takdir apalagi harus membayar karma sebagai mahluk berlumur dosa. Ada banyak cara milik Tuhan untuk mengajak setiap mahluknya membuka pintu pintu surga meski harus melewati serangkaian bencana. Dan cara apapun, dimata dan bagaimana Dia bekerja tentu harus diyakini tanpa derita menyimbahi. Karena Dia Maha Pengasih dan Penyayang.
TAMAT


image :   edwincrozier.com

No comments: